GOWA, UJUNGJARI.COM — Usai berunjukrasa di halaman kantor Pemkab Gowa di Jl Mesjid Raya, Sungguminasa pada Senin (24/8) lalu, ratusan massa dari berbagai kecamatan kembali menggeruduk kantor Bupati Gowa.
Massa yang melakukan aksi unjukrasa di dua titik yakni kantor bupati dan DPRD Gowa ini berlangsung usai salat Jumat (28/8) siang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasinya, Jendral lapangan aksi massa ini, Indra Lewa meneriakkan aksi solidaritas masyarakat atas nasib para ASN (Aparatur Sipil Negara) yang terancam tidak menerima gajian pada awal September 2026 lusa. Hal ini merupakan buntut penonaktifan sejumlah pejabat yang memiliki kewenangan terhadap penyusunan dan penggunaan anggaran.

Ancaman tak gajian tersebut, dipastikan terjadi awal September disebabkan Bupati Gowa Husniah Talenrang telah mengeluarkan SK Pemberhentian Sementara per tanggal 21 Agustus 2026 kepada Sekretaris Kabupaten Gowa Andy Azis Peter bersama lima pejabat pimpinan tinggi pratama lainnya yakni Inspektur Daerah Syahrul Syahrir, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Mahmud, Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan SDM (BKPSDM) Indra Said, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Umar Madjid dan Sekretaris DPRD Andi Idil Hafid. Dan menunjuk sejumlah pejabat pelaksana tugas (Plt) dan pelaksana harian (Plh).
Meski menunjuk pejabat Plt maupun Plh, tidak akan bisa menjalankan kewenangan dan fungsi Sekkab Gowa selaku Ketua TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah). Demikian halnya dengan pejabat BPKAD. Kedua pejabat ini memiliki fungsi yang cukup spesifik yang tidak bisa diambil alih begitu saja oleh pejabat pengganti.
Karena masalah inilah, ratusan massa kembali tumpah dengan mendesak Bupati Gowa mundur dari jabatannya. Massa kemudian menyegel pagar besi kantor Bupati Gowa.
Sebelumnya massa berunjuk rasa di DPRD. Ratusan massa diterima oleh Ketua Komisi I DPRD Gowa Muhammad Kasim Sila. Setelah aspirasinya diterima ditandai penyerahan sejumlah poin tuntutan, massa kemudian bergerak ke kantor Bupati Gowa yang jaraknya cuma sekitar 200 meter.
Di titik kedua, massa membakar ban bekas. Ratusan personel polisi berjaga agar tidak ada tindakan anarkis pengunjuk rasa. Massa ini menuntut agar Husniah Talenrang mundur dari jabatannya sebagai Bupati Gowa.
Indra Lewa mengatakan massa meminta BKN segera memeriksa Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang sebab keputusan Husniah yang menonaktifkan enam pejabat tidak memenuhi syarat administratif
“Kami berharap pemerintah pusat melihat Gowa dan kami minta agar bisa menyelamatkan teman-teman ASN. Karena dampak dari penonaktifan beberapa pejabat vital ini telah berdampak pada ASN lainnya. Para ASN pastilah tidak gajian bulan ini dan entah bulan berikutnya. Karena itu, kami minta pemerintah pusat agar menindaki dan memeriksa Husniah karena telah mencederai nilai-nilai adab orang Gowa,” kata Indra.
Dia menjelaskan para ASN di Gowa berpotensi tidak menerima gaji akibat kebijakan Husniah Talenrang menonaktifkan enam pejabat tinggi pratama.
“Selain itu kami juga secara simbolis menyegel kantor bupati. Itu simbolis bahwa masyarakat Gowa sudah tidak menginginkan Husniah Talenrang berkantor di Pemda Gowa,” tandas Indra.
Aksi massa ini menunjukkan jika penolakan terhadap kebijakan Bupati Gowa belum reda. Massa juga sempat berupaya masuk ke area Kantor Bupati Gowa, namun gagal setelah puluhan personel kepolisian melakukan penjagaan di pintu masuk. Massa akhirnya membakar ban di depan perkantoran Pemkab Gowa dan menyampaikan tuntutan agar Pemerintah Pusat turun tangan memeriksa sejumlah kebijakan Bupati Gowa yang dinilai sangat melenceng dari aturan bahkan tidak sesuai prosedur yang ada.
Indra membeberkan sejumlah alasan yang menurutnya menjadi dasar ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap pemerintahan Husniah. Ia menyebut polemik pembatalan beasiswa, persoalan seragam sekolah yang disebut sedang berproses di Polda, hingga tudingan terkait persoalan pribadi yang ia sampaikan sebagai bagian dari isu yang berkembang. Dan ulah terbaru Husniah adalah menonaktifkan sejumlah pejabat, khususnya Sekretaris Kabupaten Gowa sekaligus Ketua TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah).
“Penonaktifan yang dilakukan Husniah yang secara tergesa-gesa dan sangat emosional. Dan saya yakin bahwa dilatarbelakangi oleh rasa dendam,” tandas Indra.
Aksi yang dilakukan ratusan massa masyarakat umum ini ditandai dengan melakukan penyegelan kantor bupati dengan menggembok gerbang utama menggunakan rantai besi dan gembok manual.
Massa juga menyoroti banyaknya papan ucapan yang berisi dukungan kepada Bupati Gowa. Menurut Indra, papan ucapan ini hanya dikoordinir satu orang dan menjadi playing victim kepala daerah seolah-olah masyarakat masih sangat mencintai kepala daerah.
“Itu hanya by desain seolah-olah masyarakat Gowa mendukung Husniah Talenrang padahal masyarakat Gowa sudah menolak Husniah Talenrang,” ungkap Indra.
Indra pun meyakinkan bahwa pihaknya masih akan mempertimbangkan aksi lanjutan jika tuntutan mereka tidak mendapatkan respons.
“Kami akan berpotensi datang lagi, mungkin jilid 3, jilid 4, jilid 5, bahkan seterusnya. Sampai Husniah Talenrang memundurkan diri dari jabatannya,” tandas Indra. –

