SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Pesta adat Mattojang di Dusun Bera, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, berlangsung meriah, Senin (31/8/2026).
Ada momen menarik dalam pesta adat tahunan tersebut. Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Soppeng, ikut menjajal langsung permainan tradisional Mattojang-Tojang setelah didesak warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, Selle mengaku sempat merasa takut. Maklum, permainan Mattojang bukan permainan biasa. Peserta harus duduk di atas tandu bambu yang kemudian digotong dan diayun-ayunkan oleh sejumlah orang.
Namun, ajakan warga membuat orang nomor dua di Kabupaten Soppeng itu akhirnya tidak kuasa menolak.
“Ada rasa takut juga, karena sudah lama tidak melakukannya. Tapi ketika diminta langsung oleh warga, rasanya sulit untuk menolak,” ujar Selle.
Dengan senyum, Selle akhirnya menerima tantangan tersebut. Ia kemudian ikut digotong warga dalam prosesi Mattojang-Tojang.
Aksi spontan itu sontak disambut sorak dan tawa warga. Suasana pesta adat pun semakin semarak karena masyarakat dapat melihat langsung pejabat daerah berbaur dan menikmati tradisi yang selama ini mereka lestarikan.
Bagi Selle, keterlibatannya dalam Mattojang bukan sekadar mengikuti permainan tradisional. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi cara untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menunjukkan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
“Kebersamaan inilah yang paling penting. Saya ikut merasakan langsung kegembiraan warga. Demi menjaga silaturahmi dan semangat gotong royong, saya senang hati ikut,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Selle juga menegaskan bahwa Mattojang merupakan salah satu warisan leluhur yang memiliki nilai budaya penting bagi masyarakat Soppeng.
“Kegiatan seperti ini adalah nilai budaya warisan leluhur kita. Harus kita jaga kelestariannya sampai kapan pun. Di tengah modernisasi, kearifan lokal seperti inilah yang menguatkan jati diri kita sebagai masyarakat Soppeng,” tegasnya.
Pesta adat Mattojang di Dusun Bera sendiri digelar sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan kerja keras selama setahun.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat semangat gotong royong serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah Kabupaten Soppeng pun berkomitmen mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan adat di desa-desa.
Selain menjaga identitas budaya daerah, tradisi tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Soppeng. (Daus)

