MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Persoalan sampah di Kota Makassar dinilai perlu ditangani sejak dari sumbernya. Salah satu langkah yang dinilai strategis ialah memperkuat pendidikan dan membentuk kebiasaan memilah sampah sejak anak berada di bangku sekolah dasar (SD).
Data Kota Makassar Dalam Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat terdapat 135.690 siswa SD di Kota Makassar pada tahun ajaran 2024/2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jumlah tersebut terdiri atas 101.846 siswa SD negeri dan 33.844 siswa SD swasta yang tersebar di 478 sekolah dasar.
Besarnya jumlah peserta didik tersebut menjadi potensi besar untuk membangun budaya peduli lingkungan. Namun, pemahaman dan kebiasaan memilah sampah di kalangan siswa dinilai masih perlu diperkuat.
Pemerhati Pendidikan Kota Makassar, Yusuf Ismail, mengatakan persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan kegiatan pembersihan dan pengangkutan.
Menurutnya, penanganan sampah harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat, termasuk membangun kebiasaan anak sejak usia dini.
“Anak-anak perlu diberikan edukasi sejak dini bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Mereka harus memahami jenis sampah, memilahnya dan mengetahui bahwa sampah yang dipilah dapat memiliki nilai serta manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi,” kata Yusuf.
Yusuf yang juga merupakan pendiri Bimbingan Belajar (Bimbel) Gajah Mada Makassar menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan tersebut.
Pasalnya, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan. Karena itu, sekolah dinilai dapat menjadi tempat efektif untuk menanamkan perilaku peduli lingkungan secara konsisten.
Menurut Yusuf, edukasi tentang sampah juga tidak boleh berhenti pada seminar atau sosialisasi yang hanya dilakukan sekali.
Anak-anak harus diberikan ruang untuk mempraktikkan pemilahan sampah dalam aktivitas sehari-hari hingga menjadi kebiasaan.
“Kalau kita ingin mengubah budaya masyarakat terhadap sampah, salah satu pintu masuknya adalah sekolah. Anak-anak yang dibiasakan memilah sampah di sekolah akan membawa kebiasaan itu ke rumah dan lingkungan mereka,” ujarnya.
Pengetahuan Sudah Ada, Praktik Masih Menjadi Tantangan
Kebutuhan edukasi berbasis praktik tersebut diperkuat oleh hasil penelitian terhadap 355 siswa kelas IV hingga VI SD di 11 sekolah di Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.
Penelitian itu menunjukkan 91,6 persen siswa memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemilahan sampah, sementara 87,5 persen memiliki sikap peduli lingkungan yang baik.
Namun, ketika diukur berdasarkan tindakan nyata, masih terdapat 47,5 persen siswa yang berada dalam kategori kurang baik dalam tindakan dan perilaku memilah sampah.
Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku.
Artinya, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata karena anak-anak tidak mengetahui pentingnya memilah sampah. Sebagian besar justru sudah memiliki pengetahuan dan sikap yang baik.
Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi tindakan yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, Pemkot Makassar dinilai perlu memperkuat edukasi pengelolaan sampah di sekolah dengan pendekatan yang lebih praktis, sederhana dan berkelanjutan.
Program seperti penyediaan tempat sampah terpilah, praktik memilah sampah setiap hari, pengelolaan sampah organik dan anorganik, hingga kegiatan daur ulang dapat menjadi bagian dari pembelajaran.
Dengan jumlah siswa SD yang mencapai lebih dari 135 ribu orang, pembentukan kebiasaan sejak bangku sekolah dinilai dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membangun budaya pengelolaan sampah di Kota Makassar.
Kebiasaan yang dibentuk di sekolah diharapkan tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi ikut dibawa siswa ke rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.
Jika dilakukan secara konsisten, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga menjadi salah satu pintu masuk perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah. (rls)

