LUWU TIMUR,UJUNGJARI.COM — Gelap malam mulai merayap di atas Danau Towuti, namun kesibukan di Aula Kantor Desa Rante Angin belum juga padam. Jarum jam hampir menyentuh pukul 12 malam, tetapi riuh warga dan pendar layar komputer para petugas masih menghangatkan ruangan.
Selama tiga hari penuh, 9 hingga 11 September 2026, kawasan Seberang Danau Towuti kedatangan tamu istimewa. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Luwu Timur melintas perairan demi memboyong layanan administrasi kependudukan langsung ke hadapan warga lewat program “Dukcapil Juara Melayani dari Desa”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat di enam desa—Rante Angin, Tokalimbo, Bantilang, Matompi, Masiku, dan Loeha—jarak menuju pusat pemerintahan di Malili bukanlah perjalanan yang singkat maupun murah. Membelah danau menjadi tantangan tersendiri. Namun, selama tiga hari itu, segala kerumitan mendadak terpangkas.
Kepala Bidang Catatan Sipil Dukcapil Luwu Timur, Rosmala Dewi, bercerita bahwa kebutuhan warga di wilayah pelosok ini ternyata sangat tinggi. Banyak warga yang sebelumnya terkendala belum merekam data, belum ber-IKD, hingga tak memiliki dokumen dasar.
“Sebelum kita melakukan pelayanan, ternyata masih banyak masyarakat belum memiliki dokumen, belum merekam, belum aktifkan IKD. Dan alhamdulillah, banyaknya permasalahan bisa terselesaikan tanpa mereka harus jauh-jauh ke kabupaten,” tutur Rosmala lega.
Senyum manis dan keharuan warga menjadi bayaran atas kerja keras para petugas yang melayani dari pagi hingga larut malam.
Dampak nyata ini juga dirasakan betul oleh Kepala Desa Rante Angin, Sapiuddin. Mengwakili warga di wilayah Loeha Raya, ia menumpahkan rasa syukurnya atas kepedulian Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.
“Hadirnya Dukcapil ke desa kami sangat membantu dan meringankan beban warga. Masyarakat tidak perlu lagi merogoh kocek untuk biaya transportasi atau menyita banyak waktu hanya demi mengurus dokumen ke Malili,” ungkap Sapiuddin.
Melihat antusiasme yang begitu besar, Sapiuddin menyuarakan harapan warganya. “Kami berharap pelayanan seperti ini bisa berlanjut, kalau bisa dua kali dalam setahun,” pintanya penuh harap.
Upaya jemput bola menembus batas perairan ini pun membuahkan hasil nyata. Sebanyak 841 dokumen kependudukan berhasil diterbitkan di tempat. Rinciannya: KTP 251 dokumen, Kartu Keluarga (KK) 195 dokumen, dan Kartu Identitas Anak (KIA) 196 dokumen.
Selanjutnya Identitas Kependudukan Digital (IKD) 89 dokumen, akta kelahiran 90 dokumen, surat pindah 13 dokumen, dan akta kematian 7 dokumen
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti terpenuhinya hak-hak sipil ratusan warga di pelosok danau. Langkah kecil menyeberangi perairan Towuti telah membawa perubahan besar: meruntuhkan tembok jarak demi senyum kesetaraan pelayanan publik.

