MAKASSAR,UJUNGJARI.COM — Universitas Negeri Makassar (UNM) terus membenahi layanan pendidikan agama bagi mahasiswa. Pembenahan dilakukan mulai dari administrasi akademik, legalitas tenaga pengajar, penjadwalan, fasilitas, hingga sistem penginputan nilai.
Penguatan layanan tersebut menjadi perhatian Wakil Rektor Bidang Akademik UNM, Prof. Andi Aslinda. Dalam enam tahun terakhir, sistem pengelolaan pendidikan agama terus diperbaiki untuk memastikan mahasiswa mendapatkan layanan pembelajaran sesuai agama masing-masing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Pusat Layanan Mata Kuliah Umum LP2MP UNM, Dr. Mustari, mengatakan pendidikan agama sebenarnya telah lama menjadi bagian dari penyelenggaraan mata kuliah umum (MKU) di UNM. Namun, sistem pendukung pembelajaran terus dibenahi agar layanan kepada mahasiswa semakin tertata.
Salah satu pembenahan dilakukan pada status tenaga pengajar. Dosen pendidikan agama telah memperoleh Surat Keputusan (SK) Dosen Luar Biasa (LB) yang diterbitkan rektor. Di antaranya dosen Pendidikan Agama Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu.
Para dosen juga telah memiliki akun Sistem Informasi Akademik (SIA). Dengan sistem tersebut, proses pembelajaran hingga penginputan nilai dapat terintegrasi dalam administrasi akademik universitas.
Mustari mengatakan dukungan bidang akademik juga diberikan melalui penyusunan kurikulum, penjadwalan perkuliahan, fasilitas pembelajaran, hingga pembayaran honor dosen LB setiap semester.
“Pihak akademik kampus, dalam hal ini pimpinan universitas melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Andi Aslinda, sangat mendukung, mulai dari penyusunan kurikulum akademik di UNM, penyiapan jadwal, fasilitas, bahkan perhatian besar terhadap honor dosen LB pendidikan agama setiap semester,” kata Mustari.
Pembenahan tersebut berdampak pada semakin tertatanya proses perkuliahan dan administrasi akademik. Koordinasi dengan fakultas dilakukan setiap semester untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kurikulum masing-masing program studi.
Hasilnya, kata Mustari, perkuliahan dapat berjalan sesuai jadwal. Penginputan nilai mata kuliah pendidikan agama juga dapat diselesaikan secara penuh dalam beberapa tahun terakhir.
“Respons mahasiswa sangat baik. Perkuliahan berjalan lancar sesuai jadwal masing-masing dosen agama, bahkan pemasukan nilai mencapai 100 persen dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Tidak hanya pada aspek administrasi, UNM juga memperkuat kualitas pembelajaran. Dosen yang mengampu mata kuliah umum dan mata kuliah wajib kurikulum dilibatkan dalam berbagai pelatihan dan lokakarya untuk meningkatkan kompetensi.
Koordinasi antara bidang akademik universitas, fakultas, dan dosen juga diperkuat. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran hingga administrasi nilai berjalan tepat waktu.
“Semua berjalan dengan baik. Tepat pembelajaran, tepat pemasukan nilai,” kata Mustari.
Salah satu pengajar pendidikan agama, Pdt. Krissandar Teguh Putra dari Gereja Toraja Mamasa (GTM), menilai pembenahan yang dilakukan UNM semakin membuka ruang bagi pendidikan yang inklusif di lingkungan kampus.
Menurut dia, layanan pendidikan agama bukan sekadar memenuhi kebutuhan akademik mahasiswa. Pendidikan agama juga memiliki peran dalam membangun karakter mahasiswa yang toleran dan menghargai keberagaman.
“Kolaborasi bersama UNM membawa angin segar dalam mendorong pendidikan yang inklusif terhadap layanan pendidikan di perguruan tinggi dan juga mendorong terciptanya karakter yang penuh toleransi dalam agama dan kebangsaan,” kata Krissandar.
Penguatan itu juga dilakukan melalui pendidikan karakter. Para pengajar dilibatkan dalam pelatihan yang diarahkan untuk membangun sikap mahasiswa yang terbuka terhadap perbedaan serta mencegah berkembangnya intoleransi dan radikalisme.
Krissandar menilai dukungan sistem akademik yang diperkuat di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik membuat pembelajaran pendidikan agama semakin terintegrasi dengan pembentukan karakter mahasiswa.
“Dengan dukungan sistem akademik melalui peran Wakil Rektor Bidang Akademik UNM, Prof. Andi Aslinda, terkait program penguatan karakter, pembelajaran selain memenuhi capaian akademik, juga membentuk mahasiswa yang memiliki sikap toleran, terbuka, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Pembenahan layanan tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNM menghadirkan pendidikan yang inklusif. Tidak hanya menyediakan pembelajaran sesuai agama mahasiswa, UNM juga memperbaiki sistem pendukungnya, mulai dari legalitas dosen, kurikulum, penjadwalan, fasilitas, pembiayaan, hingga administrasi nilai.

