Oleh: Ahmad Razak
Dosen Fakultas Psikologi UNM
PILREK UNM bukan sekadar prosedural elektoral, melainkan ujian spiritual akademik tentang bagaimana sivitas akademika meneguhkan adab dalam perbedaan dan mengikat ikhtiar kepemimpinan dalam bingkai persaudaraan. Proses pilrek seyogyanya dalam bingkai “politik akademik” bukan politik pragmatis dn menjadi medan ladang pahala jika dilandasi niat tulus, kejujuran (siddiq), amanah, fathanah, dan tabligh, serta dijauhkan dari ghibah, fitnah, dan ego identitas yang memecah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai institusi pendidikan yang mengemban misi ilmu dan nilai, UNM seyogianya menjadikan Pilrek sebagai ruang pembelajaran etika publik yang mencerahkan. Tahapan yang telah diumumkan mulai penjaringan, penyaringan, pemilihan, hingga pelantikan bukan hanya lintasan administratif, tetapi juga momentum untuk merawat budaya musyawarah, transparansi, dan tanggung jawab kolektif. Dalam kerangka ini, setiap pernyataan, kampanye, dan respons publik seharusnya mencerminkan kematangan intelektual dan spiritual, bukan sekadar strategi meraih suara.
Etika persaudaraan (ukhuwah) dalam Pilrek menuntut kita menempatkan martabat manusia di atas ambisi pribadi. Dalam tradisi keislaman, ukhuwah bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk tidak saling menyakiti, tidak menggunjing, dan tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk memutus silaturahmi.
Di lingkungan kampus, hal ini termanifestasi dalam cara kita berdiskusi: mengkritik gagasan tanpa merendahkan pribadi, menghormati hak calon untuk menyampaikan visi-misi, dan menolak narasi yang memicu polarisasi.
Prinsip “menang bersama” menggeser logika zero-sum menjadi logika sinergi. Artinya, kemenangan bukan milik segelintir pihak, melainkan milik komunitas akademik yang berhasil memilih pemimpin yang mampu menggerakkan kolaborasi lintas fakultas, program studi, dan unit unit lainnya.
Ketika rektor terpilih nanti, keberhasilan kepemimpinannya sangat bergantung pada dukungan bersama; karena itu, sejak masa kampanye, setiap pihak perlu membangun fondasi kerja sama, bukan tembok permusuhan. Perlu disadari bahwa antara calon yang satu dengan calon lainnya bukanlah lawan melainkan mitra di dalam berdemokrasi. Boleh berbeda pilihan tetapi siapapun terpilih sebagai rektor seyoyanya kita dukung dan ikut membangun bersama.
“Membangun bersama” menyiratkan bahwa platform kepemimpinan harus berorientasi pada kemaslahatan institusi, bukan kepentingan kelompok. Visi “local to go global”, penguatan karakter akademik, dan peningkatan tata kelola yang akuntabel adalah contoh agenda yang dapat menyatukan beragam kepentingan dalam satu arah strategis.
Dalam perspektif islam, ini sejalan dengan maqashid syariah, khususnya hifz al-‘ilm (menjaga ilmu) dan hifz al-mal (menjaga sumber daya), sehingga kebijakan kampus bermuara pada kesejahteraan sivitas dan kontribusi bagi masyarakat.
Etika kampanye dalam Pilrek UNM perlu ditegakkan secara konsisten: menghindari black campaign, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan menjunjung tinggi adab perbedaan pendapat. Panitia, calon, dan pendukung memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan iklim yang sehat, karena citra UNM di mata publik sangat ditentukan oleh bagaimana proses ini dijalankan.
Dalam bahasa keagamaan, ini adalah bentuk amar makruf nahi munkar di ruang publik kampus. Partisipasi yang cerdas dan beradab adalah kunci agar Pilrek menghasilkan legitimasi yang kuat. Rekam jejak, integritas, dan kapasitas manajerial, menjadi parameter utama dalam memilih dan yakinlah setiap kandidat pasti memiliki rekam jejak akademik yang baik.
Semoga kita memeroleh pemimpin yang terbaik diantara yang baik. Pilihan yang rasional dan beretika akan memperkuat posisi rektor terpilih untuk mengambil keputusan strategis tanpa terhambat oleh residu konflik pasca-pemilihan.
Pasca-Pilrek, budaya “menang bersama, membangun bersama” perlu diterjemahkan dalam praktik: konsultasi lintas pemangku kepentingan, keterbukaan informasi, dan evaluasi berkala terhadap capaian kinerja. Kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap langkah kebijakan sebaiknya dilandasi niat ibadah dan orientasi kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, Pilrek UNM adalah cermin kematangan akademik dan spiritual kita. Jika proses ini dijalankan dengan etika persaudaraan yang kuat, maka hasilnya bukan hanya pemimpin yang kompeten, tetapi juga komunitas yang lebih solid, saling menghormati, dan siap bergerak bersama untuk memajukan UNM sebagai rumah ilmu yang rahmatan lil ‘alamin. Mari kita berfastabiqul khaerat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

