MAKALE, UJUNGJARI–Dugaan penyerobotan kawasan hutan produksi Mapongka di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja kian tak terkendali. Kondisi ini membuat wilayah Toraja Air Port terancam diterjang banjir bandang jika musim penghujan tiba.
Kawasan Hutan Mapongka yang sejatinya berfungsi sebagai area penyangga air kini “digaruk” dengan aktivitas eskavator yang semakin meningkat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, luapan air bercampur lumpur dari Gunung Mapongka melebihi kapasitas di box culver bandara. Kondisi ini bakal memicu banjir.
“Bila kondisi ini tidak segera teratasi maka akan mengancam runway bandara, bisa banjir, atau retak,” tegas Kepala Bandara Toraja, Jefriadi Mappiare.
Kata Jefriadi, kasihan bandara Toraja jika belum difungsikan sudah mengalami kerusakan. Apalagi belum turun tim supervisi teknis Dirjen Perhubungan Udara melakukan pengujian apakah sudah layak Toraja Air Port beroperasi atau belum.
Infrastruktur bandara sudah dibangun dengan menghabiskan APBN ratusan miliar. Maka sudah sepatutnya dijaga dengan baik. Rencananya, bandara ini akan diresmikan Presiden Jokowi pada bulan Agustus tahun ini.
Terpisah, KPH Saddang I, Cornelia mengatakan, pihaknya tidak tinggal diam melihat penyerobotan kawasan hutan Mapongka. ” Pihak kami tidak tinggal diam, apalagi setelah ditemukan sertfikat. Kami telah laporkan hal ini,” katanya.
Cornelia berharap segera ada tindakan tegas dari Kementrian Kehutanan dan aparat penegak hukum, sebab pengalihan fungsi hutan sangat ketat prosedurnya baru mendapat persetujuan.
“Sangat ironi jika pengalihan hutan dilakukan segilintir oknum untuk merubah fungsi hutan buat kepentingan pribadi, apalagi berdampak kepada keselamatan bandara,” tegasnya.
“Yang ada izin di kawasan hutan produksi Mapongka selain jalan masuk bandara, juga kawasan pramuka, dan Litbang,” terang Cornelia. (agus)

