Oleh: Fachruddin Palapa
Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar. Terbentang di belantara nusantara. Dari Sabang hingga Merauke. Energi terbarukan itu antara lain mini/micro hydro, biomasa, energi surya, energi angin, dan energi nuklir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengembangan EBT mengacu kepada Perpres Nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi bahan bakar nabati sebesar 5%, panas bumi 5%, biomasa, nuklir, air, surya, dan angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%.
Salah satu energi terbarukan yang dikembangkan adalah listrik tenaga angin atau bayu. Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi besar pengembangan listrik tenaga angin.
Pemerintah bahkan sudah membangun dua Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di wilayah Sulawesi Selatan. Satu di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan satu lagi di Kabupaten Jeneponto.
PLTB Sidrap dibangun di atas areal seluas 100 hektare di perbukitan Pabbaresseng, Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap.
Proyek ini digarap oleh investor asal Amerika Serikat, UPC Renewables bekerja sama dengan PT Binatek Energi Terbarukan. Proyek ini menelan investasi sebesar 150 juta dolar AS atau sekitar Rp1,99 triliun (dengan kurs dolar Rp 13.300). Juli 2018 lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan penggunaan pembangkit listrik tenaga angin yang berkapasitas 75 megawatt ini.
Saat peresmian, Joko Widodo mengaku takjub terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga angin tersebut. Presiden merasa seperti di Eropa saat melihat wind turbin generator (WTG) atau kincir angin di PLTB itu. “Saya kok serasa di Belanda. Kayak di Eropa, tapi kita di Sidrap,” ujar Jokowi saat sambutan di peresmian PLTB Sidrap.
Pembangkit tenaga angin pertama di Indonesia ini diproyeksikan akan mampu mengaliri listrik kepada 70.000 pelanggan listrik di wilayah Sulsel dengan daya listrik rata-rata 900 volt ampere. PLTB Sidrap memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter.
Satu PLTB lainnya di Sulsel adalah PLTB Tolo. Letaknya di Desa Arungkeke, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Kapasitas daya yang akan diproduksi PLTB Jeneponto jauh lebih besar dari PLTB Sidrap.
Jika PLTB Sidrap memiliki daya 75 megawatt, maka PLTB Tolo didesain untuk memproduksi 2×72 MW atau sebesar 144 megawatt. Pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di Jeneponto ini juga diperkirakan rampung tahun ini dan segera masuk dalam sistem kelistrikan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Kehadiran dua pembangkit listrik baru tenaga bayu ini bukan sekadar memanfaatkan potensi angin kencang di Sulawesi Selatan. Setidaknya, ada tiga dampak positif secara langsung yang diperoleh pemerintah dan masyarakat dari pembangunan dua PLTB.
Pertama, mengatasi krisis listrik. Beberapa tahun terakhir keterbatasan daya listrik melanda beberapa daerah di Sulsel. Tidak terkecuali di ibu kota provinsi, Makassar.
Pemadaman bergilir sering menjadi solusi satu-satunya yang dilakukan PLN wilayah Sulselrabar. Tetapi dengan masuknya tenaga listrik yang dihasilkan dua PLTB itu maka persediaan listrik di Sulsel jauh lebih terjamin.
Kedua, mendukung pencapaian target porsi Energi Baru Terbarukan (EBT). Seperti diketahui, pemerintah mencanangkan pencapaian target EBT sebesar 23 persen pada 2025.
Direktur Human Capital Management PLN, Muhamad Ali mengakui dengan beroperasinya PLTB Sidrap dan Tolo ini untuk mendukung pencapaian target porsi EBT pada 2025. Porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi pembangkit listrik kini lebih dari 12 persen. Selaian angin, sumber energi baru terbarukan utama lainnya adalah tenaga air.
Selanjutnya yang ketiga adalah destinasi wisata baru. Selain sebagai pembangkit listrik, PLTB Sidrap juga kini dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata baru. Wisatawan asing yang melancong ke Sulsel kerap menyempatkan dirinya berkunjung ke perbukitan Watang Pulu, lokasi PLTB di Kabupaten Sidrap.
Mengabadikan gambar dan swafoto merupakan sebagian aktivitas turis di tempat ini. Begitu juga wisatawan domestik yang jumlahnya jauh lebih besar.
Dua PLTB yang sudah dibangun di Sulawesi Selatan ini membawa pesan bahwa tenaga angina akan menjadi masa depan energi terbarukan di Indonesia. Selain investasinya yang relatif lebih murah, pengerjaannya juga relatif lebih singkat dibanding membangun pembangkit energi lain.
Di banyak negara, tren pembangunan pembangkit tenaga bayu juga cenderung meningkat.
Dalam laporan Wood Mackenzie seperti dikutip dari www.bisnis.com, penambahan kapasitas tenaga angin global diperkirakan mencapai rerata tahunan 77 Gigawatt dari 2020 hingga 2029. Adapun kapasitas listrik tenaga angin global dari akhir tahun lalu hingga nanti akhir 2029 akan bertumbuh 112 persen.
Sepanjang tahun lalu, penambahan kapasitas angin 62 GW ditambahkan secara global, meningkat 23 persen dari tahun 2018. Angka penambahan kapasitas 62 GW di 2019 ini merupakan kapasitas tertinggi kedua setelah 2015 yang sebesar 63 GW.
Meningkatnya penggunaan energy listrik dari tenaga angina menurut Direktur Riset Wood Mackenzie, Luke Lewandowski dipengaruhi oleh kebijakan di China dan Amerika Serikat yang sebagian besar mendorong penambahan kapasitas energi bersih sebesar 11,5 GW pada 2019.
Selain AS dan China, Argentina juga menambah kapasitas energi listrik dari tenaga angin sebesar 676 Mega Watt (MW) di tahun lalu. Hal itu juga sama dilakukan oleh Meksiko, Swedia, dan Spanyol di mana ada penambahan energi angin tahun lalu sebesar 883 MW, Swedia sebesar 720 MW, dan Spanyol sebesar 1,9 GW.
Kendati demikian, pandemi virus korona yang terjadi saat ini akan berdampak pada naiknya penggunaan energi bersih. Terlebih diharapkan ada penambahan 150 GW penggunaan energi angin untuk listrik dari tahun 2020 hingga ke tahun 2021.
Dampak dari virus Corona ini diperkirakan akan memperburuk siklus pembangunan dua tahun 27,5 GW yang sudah penuh tekanan di Amerika Serikat. Di Amerika Latin penambahan energi dari tenaga angin rerata setiap tahunnya mencapai 4 GW.
Di benua Eropa, kepatuhan dengan target energi dan iklim Uni Eropa untuk tahun 2030 akan mendorong penambahan 225 GW.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini juga memiliki energi listrik dari tenaga angin. Namun jumlahnya masih sangat kecil bila dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya. Selain dua PLTB yang sudah terbangun di Sulawesi Selatan, Kementerian ESDM sudah merancang beberapa potensi proyek PLTB lainnya di Pulau Jawa yaitu Sukabumi, Banten, dan Bantul.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan potensi Indonesia tenaga angin sekitar 60 GW hingga 100 GW untuk ketinggian di atas 80 meter.
Jika melihat potensi Indonesia dan capital cost PLTB yang semakin turun, seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan potensi di Sukabumi, Banten, dan Bantul. PLTB angin ini tidak tersedia di semua tempat tetapi di daerah-daerah tertentu. Untuk bisa memanfaatkan potensinya, maka pengembang harus mampu membawa turbin ke wilayah itu.
Jadi, sudah saatnya memikirkan pengembangan pembangkit listrik tenaga angin dalam mendukung program energi terbarukan Indonesia. Sebab angin bisa jadi masa depan energi terbarukan Indonesia.
(Fachruddin Palapa)

