ikut bergabung

Kisah Serda Samsuddin, Tentara Kodim Bantaeng yang Punya Momongan Setelah Vaksin

Sulsel

Kisah Serda Samsuddin, Tentara Kodim Bantaeng yang Punya Momongan Setelah Vaksin

BANTAENG, UJUNGJARI.COM — Banyak yang tersenyum bahagia setelah vaksin. Ada yang mendapatkan sepeda motor, smartphone dan berbagai hadiah lainnya berkat undian vaksin.

Tetapi Serda Samsuddin Pato, tersenyum lebih bahagia dibanding penerima hadiah-hadiah itu. Usai vaksin pada Maret 2020 lalu, dia akhirnya mendapat momongan dalam usia pernikahannya selama 11 tahun.

Serda Samsuddin kini bertugas sebagai Komandan Regu Provost Kodim 1410/Bantaeng. Dia menikah dengan Nur Aisyah pada 2010 lalu.

Sejak masa itu, dia menanti momongan. Hampir 11 tahun lamanya. Dia sudah berobat kemana-mana, tetapi tidak berhasil. Hingga akhirnya, pada 10 Maret lalu, dia mengikuti vaksin pertama.

“Saat itu, semua petugas publik seperti kami (tentara) ini harus vaksin,” kata dia.

Awal setelah vaksin, tidak ada perubahan yang signifikan pada dirinya. Seperti penerima vaksin pada umumnya, dia merasakan mudah lapar, lebih fit dan lebih energik.

“Nanti di akhir Maret, istri saya beri kabar kalau sedang telat. Akhirnya saya periksa di dokter kandungan, ternyata memang hamil,” kata pria yang pernah bertugas di Rindam Pakatto XIV/Hasanuddin.

Kepada penulis, Samsuddin mengaku yakin jika dirinya menjadi “subur” setelah vaksin. Apalagi sepanjang 2020 dia sudah tidak lagi berobat secara medis.

“Awalnya saya tidak yakin jika ini pengaruh vaksin, tetapi faktanya, istri saya hamil setelah saya divaksin,” jelasnya.

Sekarang, anak Samsuddin itu telah berusia 1,5 bulan. Anak itu sehat dan diberi nama Riskullah Al KHaer. “Artinya rejeki dari Allah Swt,” tambahnya.

Bagi Samsuddin, anaknya itu adalah karunia yang tak terhingga. Rejeki lebih dari apapun. Amanah dari Tuhan. “Kalau ada orang yang bahagia dapat motor hadiah vaksin, saya lebih berbahagia dari itu,” katanya.

Samsuddin kini menjadi “maskot” di kalangan Kodim 1410 di Bantaeng. Setiap sosialisasi melawan hoaks tentang vaksin, kisah Samsuddin selalu disematkan dalam sosialisasi itu. Kisah Samsuddin ini memperlihatkan jika masyarakat yang divaksin bisa mendapatkan hal yang lebih baik.

“Banyak hoaks kalau setelah vaksin jadi lemah syahwat. Saya menjadi bukti kalau setelah vaksin menjadi lebih baik,” katanya.

Analisis Medis

Dokter spesialis obstetrics and gynecology (Obgyn) RSUD Prof Anwar Makkatutu, Bantaeng, dr Yusri Lisangan SPOg mengatakan, pada dasarnya, secara medis, vaksin Covid-19 dan proses terjadinya kehamilan tidak memiliki kaitan apapun.

Yusri menjelaskan, ada empat jenis vaksin yang masuk ke Indonesia. Dari empat jenis itu, ada dua type proses pembentukan antibodi.

Tipe pertama adalah dengan metode inactivated. Artinya virus yang berada dalam vaksin sudah dimatikan dan tidak mengandung virus hidup atau yang dilemahkan. Partikel virus yang sudah dimatikan ini nantinya akan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh tanpa risiko penyakit serius.

Tipe kedua adalah vaksin tipe messenger RNA (mRNA). Vaksin ini menggunakan materi genetik, yaitu protein spike dari Covid-19, yang dimanfaatkan untuk memberikan instruksi kepada sel tubuh kita agar membentuk antibodi.

“Secara medis, tidak ada kaitannya antara vaksin dengan proses pembuahan ini. Mungkin memang karena rejekinya,” jelas dia.

Yusri menambahkan, hal ini juga sekaligus membantah hoaks tentang kaitan antara vaksin dengan melemahnya sistem reproduksi pria. Menurutnya, sama sekali tidak ada faktor yang memberikan kaitan antara vaksin dengan reproduksi pria ini.

“Tubuh memang akan merasa lebih fit, atau bisa juga menjadi demam setelah vaksin. Tetapi itu salah satu bentuk antibodi tubuh, tidak ada kaitannya. Kalau sampai mengganggu reproduksi pria, itu tidak benar,” pungkasnya.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Bantaeng, dr Andi Ihsan mengatakan, kasus yang terjadi pada Serda Samsuddin adalah salah satu kasus yang unik. Secara medis, sejauh ini memang tidak ada kaitan antara vaksin dengan kesuburan reproduksi pria. Hanya saja, hal ini juga masih perlu dikaji secara ilmiah lagi.

“Sejauh ini secara medis memang tidak ada kaitannya. Tetapi ini perlu juga mendapat kajian secara ilmiah pula,” tambahnya. (**)

Komentar Anda

Channel

Baca Selengkapnya
Rekomendasi untuk anda ...

Berita lainnya Sulsel

Populer Minggu ini

Arsip

To Top