MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Partai Gelora Sulsel menggelar diskusi dan bedah buku “Pesan Islam Menghadapi Krisis” dengan menghadirkan Rektor Unhas Prof Jamaludin Jompa, Prof Arifudin Ahmad Pemerhati Dunia Islam dan Luhur A Priyanto Pengamat Politik.
Prof Jamaluddin Jompa yang didaulat menjadi pembicara pertama dalam diskusi ini menjelaskan bahwa dari segi populasi Indonesia adalah nomor 4 dunia. Tapi dari segi sains dan teknologi, Indonesia nomor 48. Indeks inovasi Indonesia bahkan ada diangka 70-an.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita negara besar tapi dana penelitian kita hanya sekitar 0,1 atau 0,2% dari total GDP kita.” ujar Jamaluddin Jompa, Sabtu (7/5)
Jamaluddin berharap kedepan, perlu ada perhatian yang serius dari segi kebijakan untuk terus mendorong pengembangan penelitian dan inovasi
“Kita menitip kepada Partai Gelora, untuk bisa menaikkan anggaran penelitian kita bahkan sampai 10 kali lipat, agar kita bisa jadi bangsa yang inovatif,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Gelora Anis Matta menyatakan bahwa kelahiran partai Gelora di situasi krisis global seperti saat ini, bertujuan untuk menjadi solusi.
“Dunia atau sistem sekarang ini, sedang mengalami penyakit komplikasi seperti orang tua, satu penyakit ditangani, penyakit lain muncul. Ini seperti berobat tapi tidak ada harapan untuk sembuh,” ungkapnya.
Anis Matta menjelaskan bahwa persoalan global sekarang adalah persoalan sistemik.
“Kenapa kita menawarkan agama, pesan agama dalam menangani krisis? Karena agama tidak turun dalam ruang kosong. Seharusnya ajaran agama ini dapat diaplikasikan dalam semua situasi,” tambah Mantan Wakil Ketua DPR RI ini.
Menurutnya, ada banyak ajaran agama yang hanya dapat dipahami ketika dia bertemu dengan benturan-benturan kehidupan manusia.
“Perhatikan isyarat agama tentang kelompok elit yang hidupnya bermewah-mewah sebagai sebab suatu kaum itu dihancurkan.Kalau hal ini kita aplikasi kedalam sistem, kita akan menemukan bahwa tidak ada sikap yang berlebihan kecuali pasti ada kedzoliman disitu,” ungkapnya.
Di antara kontradiksi sistem global adalah ide tentang pertumbuhan ekonomi yang akhirnya harus menyebabkan ekploitasi dan kerusakan lingkungan. Kesejahteraan yang dinikmati barat sekarang, ongkosnya adalah penderitaan ditempat lain.
Sementara itu Prof Arifuddin menyampaikan harapan pada perbaikan sistem politik.
“Wakil wakil partai nanti harusnya bisa ditempatkan pada tempat (komisi) yang sesuai dengan kapasitasnya. Bukan alasan lain,” jelasnya.
Sementara itu Luhur A Priyanto menyampaikan persoalan yang tampak nyata pada para politisi.
“Saya senang kalau ada pemimpin politik yang masih percaya pada kekuatan narasi. Karena sekarang ini, elit politik banyak yang terjebak pada soal teknis kekuasaan. Terus menerus bagi sembako tapi tidak ada idenya. Semoga kedepan pikiran-pikiran Partai Gelora tentang bagaimana nanti memimpin akan mengambil banyak inspirasi dari buku ini,” jelas Dosen Unismuh ini. (rls/drw)

