MAKASSAR, UJUNGJARI–Prevalensi angka kebutaan dan gangguan penglihatan Sulsel cukup tinggi di angka 2,6 persen.Sulsel menjadi provinsi kedua tertinggi diluar pulau jawa. Saat ini, Jawa Timur menjadi provinsi dengan angka kebutaan dan gangguan penglihatan terbesar diangka 4,4 persen.

Lalu NTB diangka 4,0 persen serta Sumatera Selatan 3,4 persen.
Data ini diungkapkan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini pun merespon dengan melirik perhatian untuk masyarakat Sulsel. Hal ini disampaikan Tri Rismaharini saat menghadiri Simposium World Sight Day 2023 di Hotel Claro Makassar, Sabtu (28/10).

“Hampir setiap bulan (Kemensos layani operasi katarak), ini bulan depan setelah liat data dari Prof Budu beliau adalah Spesialis Cataract, mungkin bulan depan akan dua lokasi. Setiap bulan kami lakukan operasi katarak,” kata Tri Rismaharini.

Lokasi sasaran operasi katarak pun akan dibahas lebih lanjut bersama Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami). Selain memberikan penanganan, Tri Rismaharini juga mendorong produktifitas tunanetra tetap terjaga.

Salah satu caranya, dengan memaksimalkan inovasi teknologi.
Teknologi mengubah teks menjadi suara diperkenalkan Mensos Tri Rismaharini. Inovasi ini pun akan dibuat massal untuk penyandang tunanetra di Indonesia.

“Saya membuat alat kemudian melatih anak-anak agar bisa berkarya dengan passion. Sekarang dengan beberapa teknologi bisa dari teks to voice. Itu bisa membantu mereka berkarya,” katanya.

Lebih jauh, penyaluran bantuan komputer bahkan diberikan kepada yayasan yang mengasuh penyandang tunanetra.

“Kita bantu beberapa komputer bagi beberapa lembaga yayasan yang menangani anak-anak tunanetra. Itu kita bagi-bagi,” katanya.

Sementara itu, Prof Budu menjelaskan angka 2,6 persen kebutaan dan gangguan pengelihatan di Sulsel termasuk ada dari usia anak-anak.

“Faktornya lebih banyak karena berkacamata. Jadi anak anak ada berkacamata mines tinggi. Ada sejak lahir, karena faktor tertentu atau karena kebiasaan. Itu diberikan bantuan, mereka sudah bisa membaca,” kata Prof Budu.

Guru Besar Unhas ini mengaku Perdami pun terus bergerak menekan prevelensi angka kebutaan dan gangguan penglihatan.
Untuk orang dewasa, opsi operasi katarak diberikan. Sementara program bagi-bagi kacamata juga dilakukan untuk anak-anak.

“Kalau untuk katarak, iya kita operasi. Kalau untuk anak diberikan bantuan kacamata,” tutupnya.

Perdami pun kini bergerak bersama Kemensos membantu pencegahan hingga penanganan.

Data World Health Organization (WHO), ada 1 orang buta tiap menit di Indonesia. Padahal 80 persen dapat dihindari melalui pencegahan dan pengobatan.

“1 anak menjadi buta tiap menit di dunia. 50% dapat dicegah dan diobati,” jelas Prof Budu.