TAKALAR, UJUNGJARI— TK Negeri Dharma Wanita Mangarabombang, Kabupaten Takalar, memulai Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026–2027 pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan yang akan berlangsung hingga 17 Juli 2026 itu melibatkan para ayah melalui program GAMMARA’.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
GAMMARA’ merupakan akronim dari *Gerakan Ayah Mengantar dan Mendampingi Anak, Ramah dan Aman*. Program tersebut dirancang untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam mendampingi anak menjalani masa transisi dari lingkungan rumah menuju sekolah.
Mengusung tema “Hari Baru, Aman dan Nyaman di Sekolah”, pelaksanaan MPLS diarahkan agar hari pertama sekolah menjadi pengalaman yang hangat, menyenangkan, dan tanpa tekanan bagi anak usia dini.
Kepala TK Negeri Dharma Wanita Mangarabombang, Alia Nilawati, mengatakan bahwa masa awal masuk sekolah merupakan tahapan penting bagi anak dalam membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan barunya.
“Melalui MPLS Ramah dan program GAMMARA, kami ingin memastikan setiap anak merasa aman, diterima, dan didukung oleh keluarga serta sekolah sejak pertama memasuki gerbang. Kami juga ingin menegaskan bahwa pendidikan anak membutuhkan kehadiran ayah dan ibu secara bersama-sama,” terang Alia Nilawati yang juga merupakan pemateri nasional PAUD.
Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada tema “PAUD-ku Menggembirakan”. Anak-anak disambut secara hangat, mengikuti Pertemuan Pagi Ceria, Senam Anak Indonesia Hebat, serta mulai mengenal guru, teman, dan lingkungan sekolah.
Anak juga diajak mengenal ruang kelas, area bermain, toilet, alat permainan edukatif, titik kumpul, dan jalur evakuasi melalui kegiatan jelajah sekolah yang dikemas sebagai petualangan. Pendekatan tersebut digunakan agar anak mengenal lingkungan barunya melalui pengalaman bermain, bukan melalui penjelasan panjang atau tuntutan untuk menghafal.
Kehadiran para ayah menjadi salah satu suasana yang menonjol pada hari pertama pelaksanaan MPLS. Mereka tidak hanya mengantar anak hingga ke depan gerbang, tetapi turut memberikan dukungan emosional ketika anak mulai berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.
Salah seorang ayah murid, Ahmad Dg Lallo, mengatakan program GAMMARA memberinya ruang untuk terlibat langsung dalam pengalaman pertama anak memasuki sekolah.
“Anak saya terlihat lebih tenang karena saya ikut mengantar dan mendampinginya. Sekolah juga menyambut para ayah dengan baik, bahkan menyiapkan kopi agar kami bisa duduk dan berbincang santai sambil mendampingi anak. Suasana seperti ini membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari sekolah,” ujar Ahmad Dg Lallo.
Menurutnya, keterlibatan ayah seharusnya tidak berhenti setelah anak melewati hari pertama sekolah. Ayah juga perlu mengetahui kegiatan anak, berkomunikasi dengan guru, serta memberikan perhatian terhadap perkembangan anak di rumah.
“Program ini mengingatkan kami bahwa pendidikan anak bukan hanya urusan ibu atau guru. Ayah juga harus hadir, mendengarkan cerita anak, dan mengikuti perkembangannya. Bukan hanya pada saat MPLS, tetapi seterusnya,” katanya.
Pada hari-hari berikutnya, anak akan mengikuti rangkaian kegiatan bertema “Aku Mengenal Teman dan Guru”, “Aku Bisa Menjaga Diri dan Barangku”, “Aku dan Temanku, Hebat”, serta “Ceria Bersama di PAUD.” Rangkaian tersebut disusun secara bertahap untuk membantu anak membangun hubungan sosial, mengembangkan kemandirian, mengenal cara menjaga diri, serta beradaptasi dengan kebiasaan di sekolah.
Kegiatan berikutnya juga akan mencakup permainan kelompok, pembiasaan hidup bersih dan sehat, makan sehat dan bergizi, penguatan kerja sama dengan teman, serta refleksi perasaan anak pada akhir kegiatan.
Melalui program GAMMARA, TK Negeri Dharma Wanita Mangarabombang berharap keterlibatan ayah tidak hanya terlihat selama MPLS, tetapi terus berlanjut dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak sepanjang tahun ajaran.
Pelaksanaan MPLS Ramah Ramah tersebut menjadi langkah awal sekolah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan menyenangkan. Sekolah tidak hanya menjadi tempat anak belajar, tetapi juga ruang bagi mereka untuk merasa diterima, dilindungi, dan dihargai.(*)

