MAKASSAR,UJUNGJARI.COM–Peran para Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) tidak hanya mengkoordinasi keluhan dan persoalan warga di wilayahnya. Mereka juga memiliki peran strategis sebagai informan jika terjadi bencana atau musibah di wilayahnya.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Muhammad Fadli di Makassar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fadli mengatakan pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang berisiko menimbulkan banjir, genangan, hingga angin kencang di sejumlah wilayah.

Salah satu strategi utama yang kini digencarkan adalah pelibatan aktif ketua RT dan RW dalam sistem peringatan dan pelaporan dini di tingkat lingkungan.

“Peran RT dan RW sangat krusial sebagai ujung tombak deteksi awal bencana di wilayah masing-masing. Langkah ini menjadi solusi atas keterbatasan personel yang dimiliki BPBD di lapangan,” katanya.

Fadli mengakui personel BPBD Makassar masih terbatas, sementara wilayah yang harus dipantau sangat luas. Karena itu, peran RT dan RW menjadi sangat penting dalam memberikan laporan cepat dari lapangan.

Saat ini, BPBD Makassar memiliki 178 personel, termasuk 60 anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bertugas menangani situasi darurat.

Jumlah tersebut dinilai belum memadai untuk menjangkau seluruh kecamatan dan kelurahan di kota besar seperti Makassar.

Dengan jumlah penduduk yang mendekati 1,7 juta jiwa, Makassar termasuk salah satu kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia timur.

Kondisi ini membuat potensi risiko bencana meningkat, terutama di wilayah padat permukiman yang rawan genangan atau banjir ketika curah hujan tinggi.

BPBD menilai RT dan RW memiliki peran strategis karena mereka yang paling mengetahui kondisi lingkungan dan warganya. Dengan pelibatan RT, sistem pelaporan dini dapat berjalan lebih cepat dan akurat. Informasi dari RT atau RW akan menjadi dasar bagi BPBD untuk segera mengirimkan tim ke lokasi terdampak. (bs)