JEDDAH, UJUNGJARI.COM — Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah memastikan proses pemulangan jemaah umrah ke Indonesia berlangsung dengan pengawasan dan pendampingan intensif.
Hingga 3 Maret 2026 pukul 23.40 waktu setempat, sebanyak 2.278 jemaah umrah tercatat dalam proses kepulangan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan demikian, total jemaah yang telah dipulangkan sejak 28 Februari hingga 3 Maret 2026 mencapai 10.060 orang.
Pengawasan dilakukan langsung oleh Staf Teknis Urusan Haji dan Umrah KJRI Jeddah di seluruh area pelayanan jemaah, khususnya di Terminal 1 dan Terminal Haji.
Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh jemaah selama proses kepulangan.
Staf Teknis Urusan Haji KJRI Jeddah, Muhammad Ilham Effendy, menegaskan bahwa perlindungan jemaah menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pemulangan, terutama di tengah kondisi eskalasi yang memengaruhi jadwal penerbangan.
“Kami memastikan seluruh jemaah mendapatkan pendampingan secara langsung, mulai dari proses check-in hingga keberangkatan. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, terutama bagi jemaah yang menghadapi kendala penerbangan,” ujar Ilham.
Meski mayoritas jemaah telah kembali sesuai jadwal, data per 3 Maret 2026 menunjukkan terdapat sekitar 300 jemaah yang mengalami keterlambatan penerbangan (stranded).
Para jemaah tersebut tersebar di Kota Jeddah dan Makkah dengan kendala utama terkait jadwal penerbangan lanjutan serta koordinasi visa dan penerbangan transit.
Menanggapi kondisi tersebut, KJRI Jeddah melalui Tim Teknis Urusan Haji melakukan sejumlah langkah penanganan, antara lain berkoordinasi secara berkelanjutan dengan maskapai penerbangan untuk memastikan kepastian jadwal keberangkatan, memastikan ketersediaan konsumsi serta kebutuhan dasar bagi jemaah yang masih menunggu penerbangan, serta berkoordinasi dengan pihak travel dan penanggung jawab visa guna mempercepat penyelesaian administrasi.
Selain itu, petugas juga melakukan pemantauan secara bergiliran selama 24 jam untuk mengantisipasi potensi penumpukan jemaah di bandara.
Ilham menambahkan bahwa meskipun jumlah jemaah yang tertahan cukup signifikan, seluruh situasi masih dapat ditangani secara koordinatif dan terkendali.
“Kami terus siaga 24 jam. Prinsipnya, tidak boleh ada jemaah yang merasa ditinggalkan. Perlindungan dan pendampingan adalah tanggung jawab yang kami jalankan secara penuh,” tegasnya.
Pada 3 Maret 2026 tidak terdapat pemulangan jemaah umrah melalui Bandara Prince Mohammed bin Abdulaziz International Airport di Madinah.
Secara umum, proses pengawasan dan pendampingan berjalan dengan baik. KJRI Jeddah memastikan seluruh petugas tetap siaga guna menjamin keamanan, kenyamanan, dan kepastian kepulangan jemaah umrah ke Tanah Air. (**)

