GOWA, UJUNGJARI.COM — Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al Makassari adalah sebuah spirit patriotisme lintas zaman yang patuhi dicontoh kaum pemuda Indonesia terkhusus generasi muda di Sulsel maupun di Kabupaten Gowa.
Pasalnya, patriotisme yang diwariskan Syekh Yusuf ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan kepemimpinan dan moralitas di Sulawesi Selatan saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan mengusung ‘Spirit Patriotisme Lintas Zaman Hidupkan Kembali Syekh Yusuf’ sebagai tema dalam kegiatan dialog yang dirangkai halal bihalal keluarga dan pemerhati Syekh Yusuf, maka Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) mendorong generasi muda untuk kembali menggali nilai perjuangan, keilmuan dan integritas tokoh besar dunia tersebut.
Dialog dan halal bihalal ini dihelat di Museum Istana Balla Lompoa, Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada Rabu (25/3) siang. Kegiatan ini dihadiri Bupati Gowa diwakili Kadis Pariwisata Kebudayaan Gowa Ary Mahdi Aspari. Juga hadir para pemangku adat dan keluarga Kerajaan Gowa seperti Mayjen (purn) Andi Muhammad Mappanyukki Bau’ Sawa yang juga adalah Ketua Umum DMI Sulsel, Ketua Majelis Pemangku Adat Tinggi Kerajaan Gowa Andi Bau’ Malik KaraengTa Barangmamase dan Andi Pangerang selaku Ketua Umum Forum Komunikasi Generasi Pelanjut (FKGP) Sultan Hasanuddin.

Dr Arief Rosyid Hasan selaku Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) Sulsel mengatakan ketertarikannya terhadap sosok Syekh Yusuf bermula sejak kunjungannya ke makam tokoh dunia tersebut di Cape Town pada 2018 lalu.
Dari pengalaman itu, Arief mulai menggali lebih dalam nilai-nilai perjuangan Syekh Yusuf yang dinilai sangat relevan dengan kondisi kekinian.
“Waktu itu saya berziarah je.makam Suekh Yusuf di Cape Town bersama Pak JK, waktu beliau masih sebagai Wakil Presiden Indonesia. Mulai dari situ perkenalan saya secara spiritual. Selama ini nama besar Syekh Yusuf memang dikenal luas, namun pemahaman terhadap pemikiran dan perjuangannya masih minim, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang hanya mengenal nama Syekh Yusuf sebatas simbol seperti nama jalan, masjid, atau fasilitas publik tanpa memahami nilai perjuangannya yang sebenarnya,” tutur Arief.
Ia menilai salah satu hal penting yang bisa diteladani dari Syekh Yusuf adalah semangat meritokrasi, di mana seseorang dapat menjadi pemimpin karena kompetensi dan keilmuan, bukan semata karena latar belakang keluarga atau nama besar.
“Ini semacam refleksi buat kita semua di Sulsel ini, bahwa anak-anak muda di Sulsel tidak boleh minder. Anak-anak muda di Sulsel yang tidak punya nama belakang (nama tokoh besar) harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dengan pengetahuannya, bahwa dia adalah calon pemimpin di masa yang akan datang,” tandas Arief.

Menurut Arief, Syekh Yusuf sebenarnya tidak hanya dikenal sebagai ulama tapi juga tokoh Hak Asasi Manusia dan pemimpin yang menjunjung tinggi kejujuran. Nilai tersebut dinilai penting di tengah berbagai persoalan moral kepemimpinan yang terjadi belakangan ini.
Dalam upaya membumikan nilai-nilai tersebut, AMSY berkomitmen terus menggelar diskusi dan kegiatan sosial untuk menghidupkan kembali warisan pemikiran Syekh Yusuf di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Ia pun menegaskan bahwa teladan Syekh Yusuf tidak berhenti pada simbol atau monumen tapi harus diwujudkan dalam praktek kepemimpinan yang berintegritas, berpihak pada masyarakat dan menjunjung nilai kejujuran.
Sementara itu Kadis Pariwisata Kebudayaan Gowa Ary Mahdi Aspari mewakili Bupati Gowa membuka dialog dalam rangka peringatan 400 tahun Syekh Yusuf menyatakan salut atas inisiasi AMSY menggelar dialog tentang peran Syekh Yusuf mengembangkan syiar Islam hingga di benua Eropa.
“Nilai-nilai yang dikembangkan Syekh Yusuf sangat besar. Alhamdulillah sekarang ini kita bisa nikmati hasil dan jasa dari Syekh Yusuf. Syekh Yusuf itu mendapatkan gelar kepahlawanan nasional dari Presiden RI Soeharto pada 1995. Gelar kepahlawanan ini menjadi dua setelah Presiden Afrika memberikan sebelumnya, ” kata Kadis Pariwisata.
Ary pun berharap hadirnya AMSY mampu menumbuhkan ilmu agama dan sosial yang disyiarkan Syekh Yusuf ke para generasi sekarang yang ‘terjajah’ zaman teknologi global.
Hal senada dikatakan Mayjen (purn) Andi Muhammad Mappanyukki Bau’ Sawa yang juga adalah Ketua Umum DMI Sulsel. Menurut mantan Pangdam XIV Hasanuddin ini,
Bau’ Sawa (sapaan akrab Andi Muhammad Mappanyukki) mengaku sangat mengapresiasi kepahlawanan Syekh Yusuf dan juga bangga mengenang patriotisme Tuan Ta Salamaka ri Gowa tersebut.
“Bicara patriotisme itu bicara cinta tanah air dan rela berkorban. Syekh Yusuf lahir di abad ke-16 (1927). Perjuangan Syekh Yusuf diakui dunia dan kepala negara sekelas Nelson Mandela paling duluan memberi gelar pahlawan nasional kepada Syekh Yusuf. Kita sebagai orang Gowa patut berbangga, ” kata Bau’ Sawa.
Demikian pula arahan yang disampaikan Ketua Majelis Pemangku Adat Tinggi Kerajaan Gowa Andi Bau’ Malik KaraengTa Barangmamase.
Bau’ Malik mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi dialog budaya yang mengupas tentang Syekh Yusuf yang dilakukan AMSY tersebut.
Bahkan Bau’ Malik merasa bangga karena pemuda AMSY hadir mempertahankan adat budaya Gowa ke depan.
“Gowa beda dengan daerah lain di Sulsel. Gowa adalah daerah besar dan merupakan kerajaan terbesar di wilayah timur Indonesia bahkan dikenal luas di mancanegara. Ini adalah satu kebanggaan bagi kita semua. Semoga kita semua selalu dipersatukan oleh adat budaya kita orang Gowa, ” ucap mantan birokrat Pemkab Gowa ini.
Dialog dan halal bihalal yang diawali lantunan kisah Syekh Yusuf dari sebuah petikan dawai Sinrilik yang dimainkan oleh seniman Gowa Arief Rahman Dg Rate ini, diwarnai shalawat badar Majelis Taklim Permata serta dialog langsung para pemuda yang hadir kepada dua pembicara dari kalangan akademisi bidang kebudayaan seperti Dr Adi Suryadi Culla (akademisi Unhas) dan Prof Wahyudin Halim (akademisi UIN). –

