SIDRAP, UJUNGJARI.COM — Kabupaten Sidenreng Rappang kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pusat denyut pertanian Sulawesi Selatan.
Kali ini, program IP 300 menjadi pembahasan utama dalam pertemuan yang dihadiri kalangan petani dan pemerhati pertanian di Villa H. Pilli, Sidrap, pada Ahad 26 April 2026 esok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suasana di lokasi jauh dari kesan seremonial. Yang hadir bukan sekadar datang untuk duduk dan mendengar.
Mereka membawa pengalaman lapangan, data musim tanam, hitungan pupuk, hingga strategi air irigasi.
Bahasa yang dipakai sederhana, tetapi isinya penuh bobot: bagaimana menjadikan sawah berproduksi tiga kali tanam dalam setahun.
IP 300 kini bukan lagi istilah teknis di atas kertas. Ia telah berubah menjadi simbol percepatan ekonomi desa.
Bila berhasil dijalankan secara konsisten, petani tak hanya panen lebih sering, tetapi juga memperbesar perputaran uang di kampung-kampung.
Sidrap dianggap layak menjadi ruang diskusi karena daerah ini sudah lama dikenal punya kultur pertanian yang kuat.
Dari hamparan sawah hingga pola kerja petaninya, daerah berjuluk lumbung pangan itu dinilai memiliki modal sosial yang tidak dimiliki semua wilayah.
Dalam forum itu, sejumlah tantangan juga ikut dibuka terang-terangan. Soal distribusi pupuk, ketersediaan air saat kemarau, harga gabah, hingga kesiapan alat mesin pertanian menjadi catatan penting. Para petani paham, IP 300 bukan sekadar menambah jadwal tanam, tetapi menuntut manajemen yang disiplin.
Jika bahasa politik punya istilah “koalisi besar”, maka di Sidrap kini lahir “koalisi sawah”. Petani, tokoh lokal, dan penggerak sektor pertanian mulai duduk satu meja. 
Mereka tahu, masa depan daerah bukan hanya dibangun dari gedung tinggi, tetapi dari lumpur sawah yang produktif.
Pertemuan di Villa H. Pilli menjadi penanda bahwa pertanian Sulsel sedang bergerak ke babak baru. Dan seperti biasa, Sidrap kembali mengambil posisi di depan. (Wan)

