SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Duka mendalam menyelimuti Bumi Latemmamala atas kepergian tokoh kharismatik Andi Akbar Singke.

Kepergian sosok yang akrab disapa Pung Cambang ini tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat luas, termasuk Bupati Soppeng Suwardi Haseng yang mengaku kehilangan sosok sahabat sekaligus guru politiknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sebuah unggahan, Suwardi Haseng menuliskan kalimat penuh haru, “Selamat jalan sahabatku, guruku. Doa kami selalu menyertaimu.” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa dalam duka yang dirasakannya atas wafatnya tokoh yang selama ini menjadi panutan.

“Hari ini Bumi Latemmamala kehilangan putra terbaiknya. Saya pribadi kehilangan sosok yang sangat kami hargai, sebagai sahabat, orang tua, dan sekaligus guru politik yang tak tergantikan,” ujar Suwardi.

Menurutnya, Pung Cambang bukan sekadar tokoh politik, melainkan kompas moral bagi banyak orang. Dari almarhum, banyak pelajaran berharga tentang makna kepemimpinan, bahwa kekuasaan adalah amanah, pemimpin harus dekat dengan rakyat, dan politik sejatinya adalah jalan pengabdian.

Jejak pengabdian Pung Cambang dinilai begitu besar bagi Kabupaten Soppeng. Kiprahnya mulai dari DPRD Soppeng hingga DPRD Provinsi telah melahirkan banyak generasi penerus yang kini meneruskan semangat pengabdiannya.

“Jasa dan keteladanan beliau terlalu besar untuk diukur dengan kata-kata. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafnya dan menerima seluruh amal baktinya,” tambah Suwardi.

Dalam sambutannya saat pelepasan jenazah, Suwardi kembali menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Ia menyebut almarhum sebagai sosok yang “tau malabo na mabessa”, santun, bijaksana, dan menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ribuan Pelayat Iringi Pemakaman

Suasana haru begitu terasa saat prosesi pemakaman Andi Akbar Singke berlangsung, Selasa (29/4/2026). Ribuan pelayat memadati rumah duka di Lewa-Lewa, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng sejak pagi hari.

Iring-iringan pengantar jenazah tampak mengular panjang menuju lokasi pemakaman keluarga. Isak tangis pecah di sepanjang perjalanan, menjadi bukti kuatnya kecintaan masyarakat terhadap almarhum.

Prosesi Adat Warnai Pemakaman

Sebagai keturunan bangsawan Datu Soppeng, prosesi pemakaman Pung Cambang dilaksanakan dengan adat ade’ pangaderen.

Tradisi ini menjadi simbol penghormatan atas status kebangsawanan sekaligus warisan budaya yang melekat dalam diri almarhum.

Kepergian Pung Cambang bukan hanya kehilangan bagi dunia politik, tetapi juga bagi sejarah dan budaya Soppeng. Ia dikenang sebagai sosok darah biru yang memilih mengabdi sepenuh hati untuk rakyat.

Kini, Bumi Latemmamala harus merelakan kepergian salah satu putra terbaiknya. Namun, nilai-nilai, keteladanan, dan jejak pengabdiannya akan terus hidup dalam ingatan masyarakat sepanjang masa.  (Daus)