SOLO, UJUNGJARI.COM – Persis Solo menghadapi tantangan besar usai dipastikan terdegradasi ke kompetisi kasta kedua atau Championship musim 2026/2027.

Selain harus beradaptasi dengan perubahan regulasi, Laskar Sambernyawa juga terancam kehilangan sejumlah pemain andalannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Turunnya Persis ke kasta kedua membawa konsekuensi besar terhadap komposisi tim. Salah satunya terkait regulasi pelatih.

Kompetisi Championship mewajibkan setiap klub menggunakan pelatih lokal dengan lisensi minimal AFC A.

Dengan aturan tersebut, Persis dipastikan tidak dapat kembali memakai jasa pelatih asal Bosnia, Milomir Seslija, untuk menukangi tim musim depan.

Tak hanya sektor kepelatihan, regulasi pemain asing juga berubah. Jika di kasta tertinggi klub memiliki ruang lebih luas untuk menggunakan pemain impor, di Championship kuota dipangkas menjadi maksimal tiga pemain asing.

Situasi ini membuat Persis harus menyusun ulang strategi perekrutan agar kuota pemain asing yang tersedia benar-benar mampu memberikan dampak signifikan terhadap performa tim.

Di sisi lain, sejumlah pemain inti juga berpotensi meninggalkan Kota Bengawan. Dua nama yang disebut berada di ambang perpisahan yakni Muhammad Riyandi dan Zanadin Fariz.

Kontrak keduanya bersama Persis Solo diketahui akan berakhir pada 31 Mei 2026. Hingga saat ini belum ada tanda-tanda perpanjangan kontrak dari kedua pemain tersebut.

Agen keduanya, Muly Munial, mengungkapkan bahwa sudah ada sejumlah klub kasta tertinggi yang menunjukkan minat untuk merekrut Riyandi dan Zanadin.

Menurutnya, peluang tetap bermain di level tertinggi menjadi penting, terutama bagi pemain yang masih memburu kesempatan masuk tim nasional.

“Jujur, apalagi mereka juga mengejar peluang masuk tim nasional, tentu kami akan berusaha agar mereka tetap bermain di Liga 1, terutama pemain-pemain yang memang memiliki potensi untuk Timnas,” ujarnya.

Riyandi sendiri diketahui masuk radar pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam persiapan menghadapi Piala AFF 2026.

Persis juga dituntut lebih cermat memilih pemain asing setelah melihat keberhasilan sejumlah klub promosi musim ini. Garudayaksa FC, misalnya, terbantu produktivitas Everton Nascimento yang mencetak 14 gol dan tiga assist.

Sementara PSS Sleman mengandalkan ketajaman Gustavo Toncantins asal Brasil dengan torehan 24 gol dan 11 assist dari 26 laga hingga meraih gelar pemain terbaik.

Adapun Adhyaksa FC ditopang performa striker kelahiran Portugal, Adilson Silva, yang keluar sebagai top skor dengan koleksi 26 gol dan lima assist dari 27 pertandingan.

Dengan perubahan regulasi serta potensi eksodus pemain, Persis Solo kini menghadapi pekerjaan rumah besar untuk membangun kembali kekuatan tim demi target kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.  (*/drw)