JAKARTA, UJUNGJARI.COM — Brasil menjadi salah satu tim yang paling disorot menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Selain performa yang belum sepenuhnya meyakinkan sepanjang babak kualifikasi, perhatian publik juga tertuju pada era baru di bawah Carlo Ancelotti serta masa depan Neymar yang terus menjadi bahan perbincangan.

Dalam upaya memburu gelar juara dunia keenam, Selecao Brasileiro menghadapi tantangan berat sejak fase grup. Hasil undian menempatkan Brasil di Grup C bersama Maroko, Skotlandia, dan Haiti, sebuah grup yang dinilai sebagai salah satu yang paling kompetitif di antara para unggulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sorotan utama tentu tertuju pada Maroko. Tim berjuluk Singa Atlas itu kini tidak lagi dianggap sekadar kuda hitam. Setelah mencetak sejarah sebagai wakil Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia pada edisi 2022 di Qatar, Maroko terus menunjukkan konsistensi performa yang membuat mereka layak diperhitungkan sebagai salah satu kandidat kuat di turnamen kali ini.

Kedisiplinan organisasi permainan dan kemampuan melakukan transisi cepat menjadi kekuatan utama Maroko.

Kehadiran Brahim Diaz juga menambah variasi serangan yang mampu mengancam pertahanan tim mana pun.

Tak heran jika laga pembuka Grup C langsung menghadirkan duel panas antara Brasil dan Maroko. Pertandingan tersebut diprediksi menjadi penentu awal persaingan memperebutkan posisi puncak klasemen grup.

Tim yang mampu meraih kemenangan akan memiliki keuntungan besar untuk melangkah ke fase gugur dengan status juara grup.

Pertandingan ini juga menjadi panggung pertama bagi Carlo Ancelotti di Piala Dunia sebagai pelatih Brasil.

Pengalaman panjang pelatih asal Italia tersebut dalam menangani klub-klub elite Eropa diyakini bisa menjadi faktor pembeda bagi Selecao.

Di sisi lain, Maroko memasuki era baru setelah pergantian pelatih dari Walid Regragui, sosok yang membawa mereka menorehkan sejarah di Qatar 2022, kepada Mohamed Ouahbi.

Meski memiliki pengalaman panjang bersama tim nasional kelompok umur, jam terbang Ouahbi di level senior masih kalah jauh dibandingkan Ancelotti.

Karakter pragmatis yang melekat pada Ancelotti juga berpotensi mengubah wajah permainan Brasil. Bagi para pencinta jogo bonito, gaya sepak bola indah khas Brasil mungkin tidak selalu menjadi prioritas.

Bagi Ancelotti, hasil akhir dan raihan tiga poin tetap menjadi tujuan utama.

Skotlandia Bidik Kejutan

Di luar persaingan Brasil dan Maroko, Skotlandia diperkirakan akan berjuang untuk memperebutkan peluang lolos melalui posisi ketiga terbaik.

Tim asuhan Steve Clarke memiliki sejumlah pemain berkualitas dan semangat juang tinggi, namun masih dianggap berada satu tingkat di bawah dua favorit grup tersebut.

Ketergantungan besar kepada Scott McTominay sebagai motor permainan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi The Tartan Army. Jika mampu tampil konsisten, Skotlandia tetap berpeluang menciptakan kejutan.

Haiti Terancam Jadi Juru Kunci

Sementara itu, Haiti diprediksi menghadapi tugas paling berat di Grup C. Meski bukan debutan karena pernah tampil pada Piala Dunia 1974, partisipasi kali ini menjadi penampilan kedua mereka di panggung terbesar sepak bola dunia.

Skuad besutan Sebastien Migne dinilai masih tertinggal dari para pesaingnya dari segi kualitas maupun pengalaman. Banyak pengamat memperkirakan Haiti akan kesulitan meraih poin di fase grup.

Keberhasilan Haiti lolos ke putaran final juga dinilai tidak lepas dari absennya tiga kekuatan utama CONCACAF yang berstatus tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dari jalur kualifikasi.

Dengan kondisi tersebut, Haiti berpotensi menjadi sumber poin sekaligus lumbung gol bagi tiga tim lainnya. Namun, seperti yang kerap terjadi di Piala Dunia, kejutan selalu mungkin hadir dan membuat prediksi berubah di atas lapangan.  (Int/drw)