JAKARTA, UJUNGJARI.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan, tenda tersebut diharapkan segera dapat digunakan agar para peserta didik tetap bisa mengikuti proses pembelajaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini, kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar anak,” kata Atip dalam konferensi pers daring yang digelar BNPB, seperti diikuti di Jakarta, Kamis.
Selain menyiapkan ruang belajar darurat, Kemendikdasmen juga memberikan pendampingan psikososial kepada satuan pendidikan yang terdampak gempa.
Pendampingan dilakukan melalui kerja sama dengan himpunan psikologi dan sejumlah mitra perguruan tinggi.
Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai bantuan untuk mendukung pemulihan aktivitas pendidikan. Bantuan tersebut meliputi 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.196 papan tulis, serta 123.522 buku.
Kemendikdasmen, kata Atip, terus melakukan pendataan dampak dan kebutuhan pendidikan secara real-time melalui dashboard.
Penguatan pos pendidikan juga dilakukan di masing-masing kabupaten yang terdampak gempa.
Berdasarkan data sementara, gempa bumi di NTT berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan yang tersebar di tujuh kabupaten.
Jumlah peserta didik terdampak mencapai 177.678 murid, dengan 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 923 satuan pendidikan saat ini melaksanakan pembelajaran dari rumah. Kemudian, 171 satuan pendidikan menerapkan pola pembelajaran lainnya, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, sementara 30 sekolah masih dapat melaksanakan pembelajaran secara tatap muka.
Untuk memberikan panduan bagi sekolah selama masa tanggap darurat, Kemendikdasmen telah menerbitkan panduan pembelajaran yang memberikan fleksibilitas terhadap moda maupun materi pembelajaran.
Panduan tersebut menekankan pada penyampaian materi esensial, penguatan literasi dan numerasi dasar, serta dukungan psikososial bagi peserta didik yang terdampak bencana.
Wamen Atip berharap pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak gempa NTT dapat dilakukan secara optimal melalui dukungan berbagai pihak.
Menurutnya, kolaborasi dengan mitra pendidikan, akademisi, dunia usaha, hingga media massa sangat dibutuhkan agar hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat. (**)

