UJUNGJARI.COM–Langkah kaki itu menapak mantap di halaman sebuah rumah sederhana di Desa Mandiri, Kecamatan Tomoni. Terik matahari Luwu Timur siang itu, Kamis (27/8/2026), seolah menjadi saksi hangatnya sebuah perjumpaan lintas benua.
Mitchell Crafter, pria asal Benua Kangguru, Australia tak lagi datang sebagai seorang asing. Ia hadir membawa nama barunya: Zayn Malik, sebuah identitas baru yang dipeluknya bersamaan dengan keyakinan yang baru berselang sehari diserapnya. Prosesi mualaf Zayn berlangsung Masjid Al-Anshor Tomoni, Rabu 26 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi warga sekitar, kedatangan Zayn Malik bukan sekadar kunjungan biasa. Ada sebait niat tulus yang ia bawa dari jauh. Didampingi keluarga terkasihnya, Zayn melangkah mengikis jarak ribuan kilometer demi meminang sang pujaan hati.
Kedatangannya adalah manifestasi dari keberanian, komitmen, dan rasa hormat yang mendalam
terhadap tradisi serta keluarga calon pengantin wanita.
Satu Hari Setelah Kalimat Syahadat
Hanya berjarak 24 jam sebelum prosesi lamaran tersebut digelar, sebuah momen sakral telah lebih dahulu menggetarkan dinding Masjid Al-Anshor Tomoni. Di hadapan para saksi dan pengurus masjid, Mitchell Crafter dengan penuh keyakinan mengikrarkan dua kalimat syahadat. Hari itu, ia resmi memeluk agama Islam dan memilih nama Zayn Malik—sebuah nama yang menandai babak baru perjalanan spiritualnya.
“Kehadiran Zayn Malik bukan sekadar pertemuan dua insan, melainkan penyatuan dua kebudayaan
dan keyakinan dalam ikatan kasih yang tulus.”
Keputusan berpindah keyakinan ini menjadi fondasi kokoh bagi langkah berikutnya. Sambutan hangat dan linangan air mata haru menyelimuti kediaman calon mempelai perempuan begitu rombongan Zayn tiba.
Pihak keluarga menyambut pria Australia ini tidak hanya sebagai calon menantu, tetapi juga sebagai seorang saudara seiman yang baru.
Wujud Hormat dalam Penyatuan Tradisi
Sebagai bentuk pemuliaan terhadap adat dan calon istrinya, Zayn Malik membawa prosesi lamaran ini dengan penuh kesungguhan. Sesuai dengan tradisi setempat, ia menyerahkan mahar, uang panai, serta satu set perhiasan emas yang memesona.
Jika dikonversikan, nilai keseluruhan pemberian tersebut mencapai kurang lebih Rp500 juta. Angka ini bukan sekadar lambang materi, melainkan wujud rasa tanggung jawab, keseriusan, serta komitmen mendalam untuk membangun bahtera rumah tangga di atas tanah Luwu Timur.
Menatap Tanggal Bahagia
Suasana akrab dan kekeluargaan mengalir sepanjang acara. Perbedaan bahasa dan latar belakang budaya melebur dalam gelak tawa dan doa bersama. Kini, kedua keluarga tengah bersiap menyongsong puncak dari perjalanan cinta ini.
Sesuai kesepakatan, prosesi ijab kabul dijadwalkan akan melangsungkan momentum indahnya pada 12 Desember 2026 mendatang, sebuah tanggal cantik yang diharapkan menjadi awal dari lembaran kisah hidup baru mereka.

