MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Dunia kerja tidak cukup hanya bermodalkan ijazah, kompetensi, kemampuan beradaptasi, komunikasi, hingga kesiapan menghadapi proses rekrutmen menjadi modal penting bagi lulusan perguruan tinggi, termasuk penyandang disabilitas tunanetra.

Hal inilah yang menjadi perhatian Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), bersama Yayasan Mitra Netra dengan menggelar Sesi Orientasi Dunia Kerja dan Karier untuk Mahasiswa Tunanetra “Lebih Siap, Lebih Baik”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan berlangsung selama dua hari, 29–30 Agustus 2026, di Ruang Inspirasi, Hotel Unhas Makassar. Sebanyak 25 mahasiswa dan lulusan baru tunanetra dari sejumlah perguruan tinggi di Makassar mengikuti kegiatan tersebut.

Peserta berasal dari Unhas, UNM, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan motivasi, tetapi juga membangun kesadaran peserta mengenai tuntutan dunia kerja serta kesenjangan kompetensi yang masih perlu diperbaiki sebelum benar-benar masuk ke sektor formal.

Kepala Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Hasanuddin, Dr Ishak Salim, mengatakan Unhas memiliki komitmen kuat dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif.

Menurutnya, penyandang disabilitas tidak boleh ditempatkan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan dan potensi untuk berkembang.

Ia menyebut keberagaman disabilitas justru dapat melahirkan berbagai inovasi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aksesibel. Karena itu, prinsip inklusi harus diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

“Keberagaman disabilitas menunjukkan setiap individu dengan difabel memiliki kemampuan yang dapat menjadi sumber kebanggaan. Karena itu, penyandang disabilitas tidak semestinya dipandang sebagai objek bantuan atau orang yang tidak mampu,” ungkapnya, Sabtu (29/08/2026).

Menurutnya, penerapan inklusi juga tidak berhenti pada penyediaan fasilitas fisik aksesibilitas harus mencakup aspek fisik, nonfisik hingga digital, sehingga mahasiswa disabilitas dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti proses pendidikan maupun aktivitas kampus.

Ia mencontohkan berbagai bentuk aksesibilitas yang dapat membantu penyandang disabilitas dalam memperoleh informasi, termasuk penggunaan running text dan closed caption.

Unhas, lanjut dia, terus memperkuat komitmen tersebut melalui penyediaan berbagai ruang inklusif di lingkungan kampus, termasuk sudut inklusif dan taman inklusif.

“Kampus ini tidak sekadar menggunakan jargon inklusi disabilitas, tetapi juga menyediakan ruang-ruang yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar dan beraktivitas bersama,” katanya.

Sementara itu, Job Coach sekaligus Kepala Bagian Program Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati menjelaskan orientasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa dan lulusan baru tunanetra agar lebih siap menghadapi dunia kerja.

Menurutnya, peserta perlu memahami sejak awal bahwa memasuki dunia kerja, khususnya sektor formal, memiliki tuntutan yang berbeda dengan lingkungan pendidikan tinggi.

“Dua hari ini kami menyelenggarakan sesi orientasi dunia kerja untuk mahasiswa tunanetra dan tunanetra yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi sebagai fase menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang situasi di dunia kerja, terutama sektor formal untuk disabilitas netra,” jelasnya.

Ia mengatakan, salah satu hal penting yang harus dipahami peserta adalah adanya persyaratan dan kompetensi tertentu dalam setiap lowongan pekerjaan. Karena itu, mahasiswa perlu mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus mengidentifikasi kompetensi yang masih menjadi kekurangan.

“Kalau kita mau melamar pekerjaan, ada job requirement-nya dan itu harus dipenuhi, ada kompetensi dan itu harus dipenuhi. Nah, kesadaran itu perlu ditumbuhkan, kemudian kami berharap mereka membuat rencana aksi untuk memperkecil gap tersebut,” tuturnya.

Ia berharap pembekalan tersebut dapat menjadi modal bagi peserta ketika peluang kerja bagi penyandang tunanetra semakin terbuka di Makassar.

Ia mengaku Mitra Netra tengah mendorong pengembangan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif, tidak hanya dengan meningkatkan kapasitas pencari kerja tunanetra, tetapi juga membuka pemahaman perusahaan mengenai potensi pekerja penyandang disabilitas.

Menurutnya, peluang penyandang tunanetra untuk mendapatkan pekerjaan sebenarnya cukup besar selama kompetensi yang dipersyaratkan terpenuhi dan pemberi kerja memberikan kesempatan melalui proses seleksi yang profesional.

“Menurut saya besar, kalau syarat-syaratnya dipenuhi pertama, tunanetra harus kompeten. Kedua, employer atau pemberi kerja mau membuka diri terhadap hadirnya karyawan tunanetra, proses seleksi secara profesional tidak masalah.

Ditolak karena tidak kompeten tidak masalah, tetapi jangan ditolak karena mereka disabilitas netra, harus dites dulu sebelum ditolak,” tegasnya.

Mitra Netra juga berencana mendorong terbentuknya Makassar Employment Forum for the Blind bersama Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar.

Forum tersebut nantinya diharapkan dapat mempertemukan pencari kerja tunanetra dengan perusahaan sekaligus membuka ruang dialog mengenai kebutuhan dan peluang kerja bagi penyandang disabilitas.

Ia mengaku konsep serupa sebelumnya telah dikembangkan di Jakarta dan akan dilanjutkan di sejumlah daerah lain.

“Kami berharap bisa bekerja sama dengan Disnaker Kota Makassar untuk mengadakan Makassar Employment Forum for the Blind. Kami akan menghadirkan perusahaan dan karyawan tunanetra, kalau di sini belum ada, mungkin kami harus mengundang dari Jakarta supaya perusahaan di Makassar juga mulai memahami potensi dan peluang merekrut karyawan tunanetra,” katanya.

Setelah forum tersebut, Mitra Netra juga mendorong program penempatan kerja melalui skema one-on-one job placement maupun job fair khusus penyandang tunanetra.

Ia menilai upaya tersebut penting agar proses persiapan tidak berhenti pada kegiatan orientasi, tetapi berlanjut hingga peserta benar-benar memperoleh akses terhadap kesempatan kerja.

Selain pembekalan mengenai kondisi dunia kerja, peserta juga mendapatkan materi penyusunan curriculum vitae (CV), personal branding, komunikasi serta persiapan menghadapi wawancara kerja.

Fasilitator Pre Employment Soft Skill Training Mitra Netra, Arya Putra Bagaskara, memberikan pembekalan mengenai cara menyusun CV yang menarik dan relevan dengan kebutuhan perekrutan, namun tetap menggambarkan kemampuan serta pengalaman peserta secara jujur.

Peserta juga didorong membangun personal branding di era digital. Kemampuan tersebut dinilai semakin penting untuk memperkenalkan kompetensi dan potensi diri kepada calon pemberi kerja.

Perspektif dunia kerja turut diberikan melalui sesi berbagi pengalaman bersama Ismail Naharuddin, penyandang tunanetra yang kini berkarier sebagai ASN dengan jabatan Pranata Humas Ahli Pertama di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Makassar, Kementerian Kesehatan RI.

Ismail membagikan pengalaman menjalani proses perekrutan hingga berkarier sebagai ASN, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi serta kebutuhan penyesuaian dan aksesibilitas di lingkungan kerja.

Mitra Netra juga menghadirkan perwakilan HRD perusahaan swasta untuk memberikan gambaran langsung mengenai perspektif pemberi kerja dalam proses perekrutan tenaga kerja.

Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi juga menjadi faktor penting. Menurutnya, kampus tidak seharusnya hanya memastikan mahasiswa disabilitas menyelesaikan pendidikan, tetapi juga perlu membantu mereka melewati fase transisi dari perguruan tinggi menuju dunia kerja.

Ia berharap Unit Layanan Disabilitas di perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan pusat karier kampus untuk menyediakan program persiapan kerja yang secara khusus juga menjangkau mahasiswa penyandang disabilitas.

“Di luar negeri, transisi dari pendidikan tinggi ke dunia kerja menjadi bagian dari tugas universitas. Kami berharap program seperti itu juga dikembangkan di Indonesia, termasuk di Makassar, unit universitas yang mengembangkan program karier atau transisi from higher education to employment perlu menyasar mahasiswa penyandang disabilitas, termasuk disabilitas netra,” jelasnya.

Ia menegaskan, memiliki ijazah sarjana belum otomatis menjamin seseorang dapat bersaing dalam dunia kerja. Lulusan tetap membutuhkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta kemampuan untuk menunjukkan potensi dirinya.

“Mitra Netra berharap Sesi Orientasi Dunia Kerja dan Karier untuk mahasiswa tunanetra yang dirintis di Makassar dan kota-kota lain di Indonesia dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh Unit Layanan Disabilitas di perguruan tinggi,” tutupnya.  (**)