TAKALAR, UJUNGJARI – Jika mendengar kata keluar masuk penjara, pikiran kita pasti tertuju pada residivis. Namun tidak bagi Sahlan Hamzah.

Sudah lebih dari lima tahun, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pattallassang ini rutin keluar masuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar. Bukan sebagai warga binaan, melainkan sebagai pembina jiwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap Jumat pagi, langkahnya sudah pasti menuju masjid di dalam Lapas. Ia memimpin dzikir dan doa bersama menjelang Salat Jumat, yang kini menjadi ritual wajib bagi ratusan warga binaan.

“Rutinitas ini sudah jalan lebih dari lima tahun, setiap Jumat. Alhamdulillah. Saudara-saudara kita para warga binaan perlu diberikan dukungan psikologis dan spiritual dalam menjalani kehidupannya,” ujar Sahlan Hamzah, S.Ag., Senin (28/9/2026).

Bagi Sahlan, tembok tinggi dan jeruji besi bukanlah penghalang dakwah. Justru di sanalah ia menemukan ladang pahala yang sesungguhnya. Melihat antusiasme warga binaan yang khusyuk berdzikir, lelahnya terbayar lunas.

“Memberikan bimbingan untuk para warga binaan merupakan ladang ibadah yang luar biasa. Insya Allah pengabdian ini bisa menjadi bekal pahala, apalagi para warga binaan selalu antusias ketika majelis digelar,” tuturnya.

Pengabdian senyap Sahlan tak luput dari perhatian pimpinan Lapas.

Kepala Lapas Kelas IIB Takalar, Andi Gunawan, memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, pembinaan kepribadian melalui pendekatan agama adalah kunci utama pemasyarakatan.

“Dzikir dan doa bersama ini bukan hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi menjadi sarana bagi warga binaan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menenangkan hati, serta melakukan introspeksi diri,” kata Andi Gunawan.

Ia berharap, siraman rohani yang rutin diberikan Sahlan mampu membentuk pribadi yang lebih baik, sehingga warga binaan memiliki bekal spiritual yang kuat ketika kembali ke tengah masyarakat.(*)