ikut bergabung

Inflasi Sulsel Mulai Terkendali, Ekonomi Membaik

Ekonomi

Inflasi Sulsel Mulai Terkendali, Ekonomi Membaik

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Perekonomian Sulawesi Selatan mulai membaik ditengah ketidakpastian ekonomi Sulawesi Selatan.

Pada triwulan III tahun 2020, secara umum mengalami perbaikan dibandingkan dengan triwulan II 2020, meskipun masih berada dalam zona kontraksi.

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Endang Kurnia Saputra menjelaskan, pada triwulan III-2020, tercatat pertumbuhan masih berada pada -1,08% (yoy). Namun angka ini lebih baik dibandingkan dengan triwulan II-2020 yang mencapai -3,86% (yoy).

Dari sisi pengeluaran, kata dia, perbaikan kinerja ini didorong oleh mulai menggeliatnya beberapa lapangan usaha di Sulawesi Selatan seperti konstruksi, perdagangan, hingga industri pengolahan.

Kondisi ini sejalan dengan hasil survey Bank Indonesia yang menangkap peningkatan kegiatan usaha. Dari sisi permintaan, konsumsi mulai membaik meskipun masih tumbuh negatif.

“Mobilitas masyarakat juga memperlihatkan kondisi pemulihan ke arah periode sebelum pandemi,” jelas Endang melalui rilisnya.

Secara umum, kata dia, perbaikan ekonomi di triwulan 3 juga masih belum optimal karena belanja pemerintah yang masih belum terealisasi maksimal. Kinerja ekspor juga masih menahan perbaikan kinerja permintaan lebih lanjut.

Sulawesi Selatan Oktober 2020 mengalami deflasi -0,09%.
Perkembangan inflasi Sulawesi Selatan tercatat masih berada dalam kisaran target.

Secara bulanan, Oktober 2019 Sulsel mengalami deflasi sebesar -0,09% (mtm) menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,02% (mtm).

Sementara secara tahunan, inflasi bulanan Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2020 tercatat sebesar 1,46% (yoy) lebih rendah dibandingkan bulan September sebesar 1,64% (yoy).

Komoditas penyumbang inflasi utama antara lain cabai merah, udang basah, cabai rawit, dan daging ayam ras.

Kenaikan harga ini sejalan dengan masih belum masuknya masa panen komoditas pertanian utama (cabai) dan cuaca ekstrim yang menjadi tantangan budidaya (seperti udang basah), serta meningkatnya permintaan dalam rangka menjelang hari raya Maulid Nabi.

Sementara yang mendorong terjadinya deflasi di bulan Oktober 2020 utamanya disebabkan intervensi harga pada komoditas administered prices dan sayuran.

Subsidi Pemerintah pada tarif penerbangan jalur Makassar-Toraja, dan masuknya musim panen tomat, wortel, bayam, dan jagung manis, dan telur ayam telah menahan laju inflasi. Harga emas juga masih tertahan mengikuti tren penurunan harga emas dunia.

Menurut Endang, koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah
BI optimis inflasi tahun 2020 akan tetap terkendali dan berada dalam target sasaran.

Strategi pengendalian inflasi akan tetap difokuskan pada aspek 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif serta didukung dengan kerjasama antar daerah.

Selain itu, kata Endang, sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah terus dilakukan dalam forum pengendalian inflasi di daerah (TPID) dengan sejumlah langkah yang disepakati.

Diantaranya, optimalisasi distribusi pangan melalui penguatan kerja sama antardaerah baik pada lingkup Kabupaten/Kota maupun antarprovinsi, utamanya di wilayah Sulampua.

Selain itu, peningkatan koordinasi antar-SKPD terkait dalam kerangka TPID dengan tujuan penyusunan strategi jangka pendek jelang potensi inflasi di akhir tahun, serta Pelaksanaan komunikasi ekspektasi kepada masyarakat dengan melibatkan Satgas Pangan. (*)

Komentar Anda

Channel

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Berita lainnya Ekonomi

Populer Minggu ini

Arsip

To Top