GOWA, UJUNGJARI.COM — Aksi seorang siswi SMKN 1 Gowa berinisial RA telah membuat geger media sosial sejak Kamis (31/7) lalu. Sebuah postingan di medsos memperlihatkan gaya RA mengacungkan jari tengahnya kepada gurunya di kelas.

Postingan video inipun viral dan membuat nitizen geram dengan ulah siswi berhijab tersebut. Dunia pendidikan sempat terguncang sebab siswi yang diharapkan memiliki karakter terpuji, patut dan punya adab dan etika utamanya terhadap gurunya dianggap perbuatan sangat tidak terpuji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aksi siswi ini lalu menimbulkan kegaduhan baik di dunia maya bahkan dunia nyata dimana banyak siswa kelas lain di sekolah itu dan juga para alumni sekolah tersebut mengecam dan hendak mendatangi sekolah untuk menghakimi RA bersama teman sebangkunya yakni Nu (yang merekam video aksi RA mengacungkan jari tengahnya kepada gurunya).

Karenanya pihak sekolah usai rapat bersama para guru dan lainnya termasuk usai memanggil kedua orangtua dua siswi itu, langsung mengambil kebijakan mengeluarkan RA dan Nu dari sekolah SMKN 1 Gowa ini.

Menyikapi tindakan pihak sekolah mengeluarkan dua siswi berperilaku buruk itu, ditanggapi serius Wakil Ketua DPRD Gowa Hasrul Abdul Rajab (HAR). Kepada ujungjari.com pada Sabtu (2/8) siang, HAR mengatakan dirinya langsung mencari tahu kebenaran masalah itu dengan membuka medsos. Setelah melihat video aksi siswi tersebut dimedsos, HAR pun langsung mengkonfirmasi ke Kepala SMKN 1 Gowa (sekolah ini terletak di Limbung, Kecamatan Bajeng).

“Terkait berita yang viral ini, saya langsung menelpon ke Kepsek dan Kacabdisnya untuk mengkonfirmasi berita ini. Dan memang siswi ini kata kepsek dengan sadar melakukan seperti yang ada di video itu. Saya secara pribadi sangat prihatin dengan kejadian ini. Dan yang saya pertanyakan bagaimana pendidikan agama dan akhlak yang mereka dapatkan baik itu di rumah maupun di sekolah? Koq ada siswi berani melakukan itu di depan gurunya, ” tegas HAR.

Politisi Partai Gerindra inipun menyatakan sangat salut dengan sikap tenang guru yang jadi sasaran perundungan siswinya.

“Saya salut karena bapak guru tersebut tidak langsung marah dan emosi mendapat perlakuan seperti itu. Namun dia menyerahkan masalah ini sepenuhnya ke pihak sekolah dna nitizen yang melihat unggahan video tersebut. Jadi memang Peran orang tua di rumah sangat penting bagi pendidikan akhlak dan etika untuk anak-anak kita. Di sekolah pun demikian. Saya kira peran para pendidik kita di semua sekolah dalam membentuk karakter bagi siswa siswi perlu ditingkatkan lagi, ” tandasnya.

HAR pun menilai kebijakan pihak sekolah mengeluarkan dua siswi tersebut sudah tepat. Selain itu menjadi aturan sekolah, kedepan bisa menjadi pengalaman agar anak-anak didik lebih hormat dan segan kepada gurunya.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Gowa Muchlis Jufri, yang dikonfirmasi media, Sabtu siang membenarkan jika RA telah dikeluarkan dari sekolah begitu juga dengan Nu teman sebangku RA. Nu tutur dikeluarkan karena dinilai membantu aksi RA dengan merekam video unjuk jari tengah dan menyebarkannya.

“Kronologinya begini, pada Rabu tanggal 30 Juli itu, Pak Mansur (guru yang diberi skmbol fuck okeh siswi RA) masuk mengajar di kelas 10 AKL 3. Sebelum memulai pelajaran, Pak Mansur mengabsen siswa siswi, seperti yang ada di video itu. Kemudian ini anak (RA, red) sudah berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan ke depan dan sudah mempersiapkan itu jari tengahnya. Dia unjuk jari tengahnya ke depan. Dan kayak memang dia mau memviralkan karena dia (RA) ini katanya temannya (Nu) itu pakai HP baru dan dikenal yang tukang viral-viral dan dia yang memvideokan dan menyebarkan. Makanya, dua-dua siswi itu saya keluarkan. Dan memang siswi bernama Nu ini yang memvideo dan menyebarkan video itu hingga viral. Mereka satu bangku, ” papar Muchlis.

Disebutkannya, RA merupakan siswi baru di SMKN 1 Gowa. Dikatakan kepsek, saat RA mengacungkan jari tengah tangannya, ada siswa yang berusaha melarang bahkan menarik RA agar tidak meneruskan aksinya. Namun RA tetap bersikeras dan tetap berulah.

“Jadi siswi RA tetap melakukan aksinya kemudian temannya Nu memvideokannya dan memviralkannya. Di unggahan video itu diberi tulisan “Dosa Banget”. Nah tulisan inilah yang kemudian memancing marah banyak siswa lainnya, masyarakat umum dna juga ribuan alumni sejumlah angkatan. Para alumni menyatakan amarahnya lalu mau datang ke sekolah untuk menghakimi dua siswi ini. Dan saya lihat dalam satu jam, unggahan video yang ada di medsos itu sudah ditonton 5,8 juta. Saya tidak pernah menyangka aksi di sekolah kami ini demikian viralnya. Karena kejadian ini, pada hari Kamis saya suruh buatkan panggilan untuk orang tua mereka. Ini saya lakukan atas desakan masyarakat dan para alumni. Dan saya tidak mau mengambil risiko lebih besar akibat bergejolaknya marah mereka semua. Mereka tidak tega gurunya dikasi begitu di sekolah. Semua alumni, di seluruh Indonesia banyak. Bahkan salah satu alumni sekolah ini seorang ustadz di Jakarta mengecam itu,” papar Kepala SMKN 1 Gowa ini.

Menurut Muchlis, RA adalah siswi baru di sekolah tersebut. Muchlis pun mengaku heran dengan karakter RA padahal setiap hari Jum’at SMKN 1 rutin melakukan pembinaan karakter.

“Iya setiap hari Jum’at kami di sekolah itu berkumpul di lapangan kemudian melakukan kegiatan literasi Al Quran seperti imbauan Bapak Gubernur Sulawesi Selatan yakni semua sekolah harus melakukan literasi Al Quran sebelum pembelajaran dimulai. Disitu biasa saya kasi ceramah siraman rohani. Bahkan Jum’at kemarin, itu saya sempat jadikan kasus unjuk jari tengah siswi itu sebagai pengalaman yang tidak boleh terulang lagi. Kemudian saya minta anak-anak yang punya backup video itu agar semua videonya di HP semua anak didik yang mungkin masih tersimpan. Saya minta itu dihapus karena ini menyangkut sekolah kami. Saya bersama wakil kepala sekolah, pembina OSIS, ketua komite, orang tua siswi bersangkutan membahas masalah ini di ruangan saya dan kedua siswi itu menyatakan ikhlas dikeluarkan begitu juga orangtua keduanya, ikhlas anaknya dikeluarkan dari sekolah SMKN 1 Gowa,” ungkap Kepsek Muchlis.

Muchlis yang juga adalah alumni SMKN 1 Gowa tahun 1995 ini, mengaku sebelum mengambil keputusan mengeluarkan kedua siswi tersebut, dirinya sudah berkoordinasi dengan Kacabdis Pendidikan Wilayah 2 Kabupaten Gowa Firdaus selaku perpanjangan tangan dari Dinas Pendidikan Sulsel. –