SIDRAP, UJUNGJARI.COM – Di banyak pelosok Indonesia, filariasis masih menjadi ancaman senyap.
Penyakit yang ditandai pembengkakan ekstrem pada anggota tubuh ini tak hanya merenggut kesehatan, tetapi juga martabat sosial penderitanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di tengah fakta suram itu, Sidrap justru mencatat sejarah baru: keluar dari status endemis dan resmi bebas filariasis.

Keberhasilan ini bukan hasil kebetulan. Sejak 2010, Sidrap memilih jalur sulit: mengetuk setiap pintu rumah, membagikan obat pencegah, memantau satu per satu warga, hingga melawan stigma yang membuat penderita sering dikucilkan.
Dr. Ishak Kenre, yang memimpin operasi panjang ini, menyebut perjalanan Sidrap bak maraton kesehatan publik.
“Kami tidak hanya membagikan obat. Kami harus meyakinkan masyarakat, melawan hoaks, mendidik tentang bahaya filariasis, dan menjaga semangat tenaga kesehatan agar tidak patah di tengah jalan,” ujarnya.
Puncaknya, Sidrap melewati tiga kali Transmission Assessment Survey (TAS) dengan hasil nol kasus positif. Artinya, rantai penularan yang menghantui masyarakat selama puluhan tahun benar-benar terputus.
Keberhasilan ini membawa pesan penting: daerah bisa mengalahkan penyakit tropis jika kesehatan publik menjadi gerakan sosial, bukan sekadar program pemerintah. 
Kini, Sidrap tak hanya menerima sertifikat, tapi juga menjadi role model nasional.
Banyak daerah endemis lain mulai melirik strategi Sidrap: kombinasi pendekatan medis, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor.
“Generasi anak-anak Sidrap kini tumbuh tanpa takut kaki mereka membengkak, tanpa stigma sosial, tanpa ancaman penyakit tropis. Ini bukan sekadar prestasi, ini warisan kesehatan untuk masa depan,” tutup Bupati Syaharuddin Alrif. (Wan)

