MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Rencana pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di eks kompleks pergudangan Grand Eterno, Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga sekitar.
Jika benar proyek tersebut direalisasikan di lokasi itu, nilai properti perumahan yang berada di sekitarnya dikhawatirkan akan terdampak signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah perumahan cluster baru yang posisinya persis berada di belakang lokasi rencana PSEL disebut-sebut berpotensi mengalami penurunan nilai jual.
Warga menilai keberadaan fasilitas pengolahan sampah dapat memengaruhi kualitas lingkungan, mulai dari potensi bau, kebisingan, hingga persepsi negatif calon pembeli rumah.
Beberapa cluster perumahan di kawasan Tallasa City seperti Cluster Alamanda dan Akasia, disebut berada dalam radius yang cukup dekat dengan lokasi rencana PSEL.
Kondisi ini dikhawatirkan akan berpengaruh langsung terhadap harga rumah dan minat masyarakat untuk tinggal di kawasan tersebut.
Selain itu, warga juga menyoroti potensi dampak lalu lintas. Salah satu kekhawatiran utama adalah puluhan kendaraan pengangkut sampah bertonase berat yang akan melintas setiap hari di Jalan Poros Tallasa City (FKS).
Aktivitas tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kemacetan, kebisingan, serta mempercepat kerusakan jalan yang selama ini menjadi akses utama warga.
“Setiap hari bisa puluhan truk sampah lewat. Ini bukan hanya soal bau, tapi juga keselamatan, kenyamanan, dan kualitas hidup warga,” ujar Renaldy (49) warga Perumahan Alamanda Tallasa City.
“Hanya drainase yang membatasi lokasi PSEL dengan perumahan Alamanda, dekat sekali,” kata Renaldy.
Pengamat tata kota dan properti Makassar, Dr. Ahmad Ridwan, menilai dampak lalu lintas armada sampah bertonase berat harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Menurutnya, meningkatnya frekuensi truk sampah di kawasan hunian dapat menurunkan daya tarik kawasan tersebut sebagai lokasi tempat tinggal.
“Lalu lintas truk sampah yang padat akan memengaruhi kenyamanan lingkungan. Dari sisi properti, kondisi ini biasanya berdampak pada penurunan minat beli dan berujung pada tekanan harga rumah,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun PSEL dibangun dengan teknologi modern, pemerintah tetap wajib menyiapkan manajemen transportasi, jalur khusus armada sampah, serta jaminan perlindungan infrastruktur jalan dan keselamatan warga.
Hingga kini, warga masih menunggu kepastian resmi terkait lokasi pembangunan PSEL tersebut. Mereka berharap pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat serta mengkaji secara menyeluruh dampak lingkungan, lalu lintas, dan sosial ekonomi sebelum memutuskan lokasi final proyek PSEL. (drw)

