MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Ramadan selalu menjadi momentum kebangkitan aktivitas masjid. Infaq dan sedekah meningkat signifikan, kas masjid bertambah, dan partisipasi jamaah semakin tinggi.
Namun, di balik peningkatan tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar, setelah dana umat terkumpul, ke mana ia bergerak?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Umum Moslem Friendly Forum (MFF), Zulkarnaen Rahmat Sumakno, menilai banyak masjid saat ini masih memposisikan diri sebatas tempat “parkir dana” umat.
Dana yang terkumpul umumnya disimpan dalam bentuk deposito atau tabungan pasif yang relatif aman, tetapi belum tentu produktif bagi pemberdayaan jamaah.
“Jika dana ratusan juta bahkan miliaran rupiah hanya mengendap di rekening, maka yang paling menikmati adalah lembaga perbankan. Sementara jamaah di sekitar masjid masih berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok setiap Ramadan,” ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut bukan tudingan, melainkan realitas yang perlu dievaluasi bersama.
Dana Umat Harus Bergerak untuk Umat
Zulkarnaen menegaskan, masjid tidak boleh hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi.
Pengelolaan dana secara pasif memang terasa aman dan sederhana karena minim risiko usaha dan tanggung jawab manajerial.
Namun, jika pola ini terus dipertahankan, potensi besar dana umat akan sulit berkembang.
Ia mendorong agar dana masjid diarahkan untuk:
● Menggerakkan ekonomi jamaah
Membantu stabilisasi harga kebutuhan pokok
● Menciptakan unit usaha produktif
● Mengurangi ketergantungan pada donatur besar
Ketergantungan pada donatur besar, lanjutnya, juga memiliki konsekuensi sosial.
Masjid bisa kehilangan kemandirian sikap, bahkan arah kebijakan berpotensi dipengaruhi penyumbang dominan.
“Apakah itu yang kita inginkan?” katanya.
Roadshow Ramadan dan Riset Mentalitas Pengelolaan
Melalui program Roadshow Ramadan Masjid Muslim Friendly yang dikemas dalam gerai pasar murah bersama Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar, MFF tidak sekadar menghadirkan bahan pokok murah bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut juga menjadi ajang riset sosial dan edukasi ekonomi berbasis masjid.
Pengurus masjid diajak menguji kesiapan mereka dalam manajemen stok, transparansi pencatatan keuangan, hingga keberanian mengubah dana pasif menjadi dana produktif.
“Ini bukan hanya kegiatan sosial. Ini evaluasi mentalitas pengelolaan,” tegas Zulkarnaen.
Masjid Harus Naik Kelas
Zulkarnaen menekankan bahwa masjid modern perlu memiliki sistem pengelolaan yang lebih profesional, antara lain:
Sistem akuntansi yang transparan
Unit usaha produktif berbasis kebutuhan jamaah
Manajemen risiko yang terukur
Sumber pendapatan berkelanjutan
Menurutnya, masjid tidak boleh hanya kuat secara spiritual tetapi lemah secara ekonomi.
Potensi dana umat yang besar harus dikelola secara visioner agar memberi dampak langsung bagi kesejahteraan jamaah.
Kritik untuk Membangun
Ia menegaskan, kritik ini bukan untuk menyudutkan pengurus masjid, mengingat banyak di antara mereka adalah relawan yang bekerja dengan tulus. Namun, ketulusan tanpa kapasitas manajerial dinilai berisiko membuat potensi besar tidak berkembang optimal.
“Kita perlu keberanian berubah. Masjid harus bertransformasi dari model ketergantungan menjadi model kemandirian,” ujarnya.
Zulkarnaen menutup dengan menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum evaluasi dan pembenahan.
Dana umat, katanya, bukan untuk diparkir, tetapi harus berputar dan kembali kepada umat.
“Sudah saatnya kita berhenti nyaman menjadi pengelola rekening, dan mulai berani menjadi penggerak ekonomi jamaah.” pungkasnya. (Rls)

