MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada 21 Februari 2026 dimanfaatkan Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH), Achmad Yusran, untuk mengingatkan potensi lonjakan sampah di Kota Makassar menjelang dan selama bulan Ramadan.
Menurutnya, kota Makassar tengah berada dalam fase krusial. Perilaku sebagian warga dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan, sementara sistem pengelolaan sampah dinilai masih jauh dari optimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu disampaikan Achmad Yusran pada Jumat (20/2/2026), setelah menyoroti sebuah foto yang memperlihatkan seorang warga membuang botol plastik pada tempatnya di ruang publik.
“Tindakan itu ideal, tapi faktanya masih menjadi pengecualian. Krisis sampah Makassar tidak bisa lagi dianggap ringan,” ujarnya.
Berdasarkan data komunitas lingkungan yang dihimpun hingga Februari 2026, sejumlah titik rawan di Makassar menunjukkan kenaikan volume sampah, terutama jenis plastik.
Sementara tingkat pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih tergolong rendah, yakni sekitar 10–15 persen.
FKH juga memprediksi peningkatan signifikan volume sampah selama Ramadhan, khususnya dari kemasan makanan dan sisa konsumsi masyarakat.
“Setiap tahun polanya sama: pasar takjil melonjak, konsumsi meningkat, dan sampah bertambah 20–30 persen. Jika tidak ada intervensi perilaku, beban kota akan berlipat,” tegasnya.
Selain persoalan sampah, Achmad Yusran turut menyoroti berkurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya suhu permukaan kota akibat fenomena urban heat island.
Kondisi tersebut dinilai memperparah tekanan ekologis, terutama di kawasan padat penduduk.
“Ramadan seharusnya jadi momentum pengendalian diri. Jika kita gagal memanfaatkannya, kita akan kembali masuk pada siklus krisis sampah yang sama,” katanya.
Melalui momentum HPSN 2026, FKH mendorong pemerintah memperkuat pengawasan, meningkatkan fasilitas pemilahan sampah, serta menggandeng dunia usaha dalam pengelolaan limbah.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa inti persoalan tetap berada pada perubahan perilaku masyarakat.
“HPSN 2026 dan Ramadhan mengirim pesan yang sama, yaitu kota ini butuh aksi nyata, bukan slogan,” pungkasnya. (Rls)

