MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — PSM Makassar benar-benar berada di titik paling genting musim ini. Dengan hanya empat pertandingan tersisa, situasi yang dihadapi Juku Eja bukan lagi sekadar soal menang atau kalah, melainkan perjuangan bertahan hidup di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Di tengah tekanan besar, harapan kini bertumpu pada duet pelatih lokal, Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur. Keduanya dinilai memahami betul filosofi Siri’ na Pacce nilai budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi harga diri dan solidaritas yang kini diharapkan mampu membakar semangat juang para pemain di sisa musim.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Empat laga terakhir akan menjadi penentu nasib PSM:
● PSM Makassar vs Bhayangkara FC
● PSM Makassar vs Arema FC
● PSM Makassar vs Persib Bandung
● PSM Makassar vs Madura United
Dalam kondisi seperti ini, bukan hanya taktik yang diuji, tetapi juga mentalitas. PSM dituntut mampu bermain dengan kepala dingin, namun tetap memiliki keberanian dan determinasi tinggi di setiap jengkal lapangan. Konsistensi dan fokus hingga peluit akhir menjadi harga mati.
Duet Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur pun menghadapi tantangan besar. Mereka tidak hanya dituntut menyusun strategi, tetapi juga berani mengambil keputusan penting dalam menentukan pemain yang benar-benar siap berjuang.
Di fase krusial ini, nama besar tidak lagi menjadi jaminan mental baja dan komitmen penuh adalah kunci utama.
Keuntungan bermain di kandang juga harus dimaksimalkan. Dukungan suporter di stadion diharapkan menjadi energi tambahan sekaligus tekanan bagi lawan, bukan justru membebani para pemain.
Meski demikian, satu hal yang paling krusial adalah kemandirian hasil. PSM tidak boleh bergantung pada pertandingan tim lain. Nasib mereka harus ditentukan oleh usaha sendiri di lapangan.
Legenda PSM, Syamsuddin Umar, turut angkat bicara melihat situasi yang dihadapi mantan timnya. Ia menegaskan bahwa kondisi seperti ini justru membutuhkan karakter kuat dari seluruh elemen tim.
“PSM ini tim besar, punya sejarah dan mental juara. Dalam situasi tertekan seperti sekarang, yang paling penting adalah bagaimana pemain tetap percaya diri dan tidak panik. Mereka harus bermain sebagai satu kesatuan,” ujar Syamsuddin.
Ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan laga kandang sebagai momentum kebangkitan.
Menurutnya, dukungan suporter harus menjadi energi tambahan yang mendorong pemain tampil lebih berani dan disiplin.
“Kalau bermain di kandang, jangan sia-siakan. Itu harus jadi kekuatan. Tapi pemain juga harus bisa mengontrol emosi, jangan terbawa tekanan,” tambahnya.
Kini, semua mata tertuju pada Juku Eja. Empat laga, empat kesempatan, empat penentuan.
Akankah PSM Makassar mampu bangkit dan mengamankan posisinya di Liga 1?
Ataukah musim ini akan menjadi kisah pahit yang sulit dilupakan?
Yang jelas, ini bukan sekadar pertandingan ini adalah perjuangan mempertahankan kehormatan. (drw)

