MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di kawasan Indonesia Timur melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga akhir Desember 2025, total penyaluran KUR BRI Region 15 Makassar mencapai Rp16,859 triliun, dengan dominasi sektor mikro dan pertanian sebagai penggerak utama ekonomi masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Regional Mikro Banking Head (RMBH) BRI Region 15 Makassar, Iwan Supriyanto, mengatakan bahwa KUR merupakan pembiayaan yang ditujukan kepada individu maupun kelompok usaha produktif dan layak usaha, namun belum memiliki agunan tambahan yang memadai.

“Melalui KUR, BRI ingin memastikan pelaku usaha kecil tetap mendapatkan akses pembiayaan untuk mengembangkan usahanya,” ujarnya di sesi pemaparan materi terkait KUR saat Media Gathering yang digelar di Kantor BRI Region 15, Jalan Ahmad Yani Makassar, Jumat (8/5/2026).

Dalam skema pembiayaan tersebut, plafon KUR Mikro berada pada kisaran Rp10 juta hingga Rp100 juta, sedangkan KUR Kecil berkisar Rp100 juta hingga Rp500 juta.

Dari total penyaluran Rp16,859 triliun sepanjang Januari–Desember 2025, sebagian besar disalurkan di wilayah Sulawesi Selatan dengan nilai mencapai Rp12,431 triliun. Angka ini menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi mikro dan kebutuhan pembiayaan usaha di daerah tersebut.

Secara komposisi, penyaluran KUR BRI masih didominasi oleh KUR Mikro dengan porsi mencapai 65,69 persen. Hal ini menandakan bahwa pembiayaan usaha berskala kecil masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di kawasan timur Indonesia.

Sementara berdasarkan sektor usaha, pertanian menjadi penyerap terbesar dengan nilai penyaluran mencapai Rp8,7 triliun atau sekitar 52,04 persen dari total KUR yang disalurkan. Tingginya pembiayaan ke sektor pertanian mencerminkan fokus BRI dalam mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekonomi berbasis komoditas lokal.

Memasuki tahun 2026, tren penyaluran KUR masih menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga periode Januari–April 2026, total penyaluran KUR BRI Region 15 telah mencapai Rp4,823 triliun.

Meski mencatat pertumbuhan signifikan, penyaluran KUR di wilayah Indonesia Timur tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama terkait literasi keuangan masyarakat dan kondisi geografis.

Menurut Iwan, salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan transaksi keuangan yang sehat.

Banyak calon debitur mengalami kendala pada Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) akibat riwayat pinjaman yang bermasalah, termasuk pinjaman online yang tercatat dalam sistem Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Tantangan terbesar sebenarnya awareness masyarakat. Banyak yang belum memahami pentingnya menjaga kualitas transaksi keuangan sehingga SLIK-nya bermasalah,” jelasnya.

Selain itu, tantangan geografis di wilayah kepulauan juga menjadi hambatan tersendiri. Banyak daerah terpencil belum memiliki kantor layanan perbankan konvensional, sehingga akses masyarakat terhadap pembiayaan menjadi terbatas.

Namun, BRI mengatasi persoalan tersebut melalui perluasan jaringan agen BRILink dan pendekatan layanan jemput bola atau on the spot (OTS). Petugas BRI secara berkala mendatangi wilayah-wilayah terpencil untuk melakukan proses survei dan pelayanan kredit langsung kepada masyarakat.

Iwan mencontohkan salah satu wilayah kepulauan di Benteng Selayar yang membutuhkan waktu perjalanan hingga delapan jam, namun tetap dapat dilayani melalui pola pendampingan lapangan dan dukungan agen BRILink.

“Walaupun tidak ada kantor BRI, masyarakat tetap bisa mengakses KUR. Agen BRILink menjadi kepanjangan tangan kami di daerah-daerah terpencil,” katanya.

Di tengah ekspansi penyaluran kredit, BRI juga tetap menjaga kualitas pembiayaan agar rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terkendali.

Iwan menyebutkan bahwa tingkat NPL KUR BRI saat ini masih berada di bawah ambang batas ketentuan OJK sebesar 3 persen. Meski demikian, BRI terus memperkuat mitigasi risiko melalui peningkatan kualitas proses kredit dan edukasi kepada nasabah.

Salah satu fokus utama adalah memastikan jumlah kredit yang diberikan sesuai dengan kebutuhan usaha debitur agar tidak terjadi over-crediting atau pemberian pinjaman berlebihan yang berpotensi memicu gagal bayar.

“Kalau nasabah butuh Rp50 juta, ya diberikan Rp50 juta. Jangan sampai diberikan Rp150 juta karena itu bisa menjadi penyebab kredit bermasalah,” tegasnya.

BRI juga secara rutin meningkatkan kapasitas petugas lapangan, khususnya Mantri dan Relationship Manager Mikro, agar semakin cermat dalam melakukan analisis usaha dan pendampingan debitur.

Selain itu, edukasi kepada nasabah terus diperkuat sejak proses akad kredit. Debitur diingatkan agar dana pinjaman digunakan secara produktif dan tidak dialihkan untuk kebutuhan konsumtif.

“Edukasi menjadi kunci. Kredit harus digunakan sesuai peruntukannya agar usaha berkembang dan pembayaran tetap lancar,” tutup Iwan.

Kegiatan Media Gathering BRI Region 15 juga dihadiri Regional CEO BRI Makassar, D. Argo Prabowo, Regional Business Support Head, Asep Ikhsan Iskandar, Department Head Logistic and General Affair, Lisdyanto Andi Irawan dan Perwakilan Corporate Secretary Kantor Pusat BRI, Tegar Imaaduddiin dan Evan Ujun Julius. (rhm)