SOLO, UJUNGJARI.COM – Nasib Persis Solo kembali berada di ujung tanduk. Laskar Sambernyawa kini menghadapi situasi yang mengingatkan pada musim lalu setelah kembali terjerembab ke zona degradasi menjelang pekan terakhir BRI Super League 2025/2026.

Persis yang saat ini menempati peringkat ke-16 klasemen dengan koleksi 31 poin wajib meraih kemenangan saat menghadapi Persita Tangerang pada pekan ke-34 di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Sabtu (23/5/2026) pukul 16.00 WIB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemenangan menjadi harga mati bagi tim asal Solo tersebut demi menjaga peluang bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.

Namun, tiga poin saja belum cukup. Persis juga harus berharap hasil pertandingan lain berpihak kepada mereka, yakni duel antara Madura United melawan PSM Makassar yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Jika Madura United mampu meraih kemenangan, maka peluang Persis untuk keluar dari zona degradasi dipastikan tertutup, terlepas dari hasil yang diraih saat menghadapi Persita.

Situasi ini bahkan dinilai lebih berat dibanding musim lalu. Pada musim 2024/2025, Persis juga sempat terseok-seok dan harus berjuang keluar dari papan bawah sebelum akhirnya selamat pada pekan-pekan akhir kompetisi.

Saat itu, perjalanan Persis diwarnai pergantian pelatih. Setelah menunjuk pelatih asal Bosnia-Herzegovina, Milomir Seslija, Persis justru tampil buruk di awal musim dengan hanya meraih satu kemenangan dari enam laga sebelum akhirnya sang pelatih diberhentikan.

Kursi pelatih sempat diisi caretaker sebelum akhirnya dipercayakan kepada Ong Kim Swee pada pekan ke-12. Di bawah arahannya, performa Persis mulai membaik terutama pada putaran kedua kompetisi.

Perombakan skuad dengan mendatangkan sejumlah pemain baru seperti Cleylton Santos, Lautaro Belleggia, Jhon Cley, dan Jordy Tutuarima menjadi titik balik kebangkitan Laskar Sambernyawa hingga akhirnya mampu keluar dari zona merah pada pekan ke-27 dan memastikan bertahan di liga pada pekan ke-33.

Kini, cerita serupa kembali terulang. Persis lagi-lagi harus menjalani laga hidup-mati pada akhir musim. Bedanya, tekanan yang dihadapi kali ini jauh lebih besar karena nasib mereka juga bergantung pada hasil tim lain.

Laga melawan Persita pun menjadi penentu, apakah Laskar Sambernyawa mampu menghindari deja vu yang berujung pahit, atau justru harus menerima kenyataan turun kasta setelah dua musim beruntun berkutat di zona merah.  (**)