MAKKAH, UJUNGJARI.COM – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah, pemerintah mulai memperketat skema mobilisasi jemaah Indonesia di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya jumlah jemaah yang telah tiba di Arab Saudi serta tingginya potensi kepadatan saat fase puncak haji berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kementerian Haji dan Umrah RI telah merilis skema lengkap pergerakan jemaah haji Indonesia selama fase Armuzna, mulai dari keberangkatan jemaah dari Makkah menuju Arafah, pergerakan ke Muzdalifah, pelaksanaan mabit di Mina, hingga kepulangan kembali ke hotel di Makkah setelah rangkaian lontar jumrah selesai.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, menyebut fase Armuzna menjadi titik paling krusial dalam pelaksanaan ibadah haji karena jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak secara bersamaan dalam waktu yang sangat terbatas.

“Fase Armuzna ini merupakan inti dari rangkaian ibadah haji sekaligus fase paling krusial. Jutaan jemaah dari berbagai negara akan bergerak bersamaan dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas,” ujar Maria dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Haji dan Umrah, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, pengaturan mobilisasi yang disiplin menjadi kunci untuk menjaga kelancaran, keamanan, serta kenyamanan jemaah selama menjalani puncak ibadah haji.

Data operasional haji 2026 hingga hari ke-29 menunjukkan jumlah jemaah Indonesia yang telah tiba di Arab Saudi terus bertambah.

Tercatat sebanyak 186.041 jemaah reguler yang tergabung dalam 481 kelompok terbang (kloter) telah berada di Tanah Suci. Selain itu, sebanyak 13.180 jemaah haji khusus juga telah tiba.

Besarnya jumlah jemaah tersebut membuat pemerintah menyiapkan timeline perpindahan yang diklaim lebih ketat dan terstruktur untuk mengantisipasi kepadatan serta potensi gangguan pergerakan massa saat puncak haji.

Skema ini mencakup pengaturan keberangkatan dari Makkah menuju Arafah untuk pelaksanaan wukuf, pergerakan menuju Muzdalifah, proses mabit di Mina, hingga pelaksanaan lontar jumrah yang menjadi bagian utama rangkaian ibadah haji.

Pemerintah berharap pengaturan mobilisasi yang lebih disiplin dapat meminimalkan risiko penumpukan jemaah di titik-titik krusial Armuzna dan memastikan seluruh rangkaian puncak ibadah haji berjalan tertib serta aman.  (*/drw)