GOWA, UJUNGJARI.COM — Tahanan sering diidentikkan dengan kejahatan. Namun tidak semua orang yang menjadi tahanan karena berbuat jahat atau orang jahat. Orang menjadi tahanan karena berbagai sebab dan alasan.

Yang namanya manusia tentu banyak hal musabab yang membuatnya berbuat hal jahat. Kadang karena terpaksa harus membela diri atau melindungi diri sehingga mencelakai orang lain. Tapi ada juga memang menjadi tahanan karena perbuatan kejahatan yang dilakukan seperti mencuri merampok, mengedarkan narkoba dan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun meski bukan orang jahat atau jahat sekalipun selagi berada dalam kamar sel maka dia adalah tahanan. Mereka harus meringkuk dalam ruang berjeruji besi dan tak bebas keluar ruangan. Ada yang harus mendekam seminggu, bulan, tahunan hingga bertahun-tahun sesuai tingkat kejahatan atau kesalahan yang dilakukan.

Meski demikian, dibawah pengawasan dan penjagaan ketat petugas jaga di bagian Satuan Tahti Polres Gowa, para tahanan masih diperlakukan selayaknya manusia. Diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya yakni salat lima waktu.

Inilah salah satu aktivitas yang dilakukan para tahanan dalam pengawasan Sattahti Polres Gowa. Salat lima waktu dilakukan berjamaah di lorong kamar sel. Itu dilakukan rutin setiap hari.

Kasat Tahti Polres Gowa Iptu Jasman pada Kamis (4/6) mengatakan, pembinaan keagamaan menjadi salah satu upaya penting dalam membentuk karakter dan mental para tahanan agar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Melalui kegiatan ibadah yang rutin, kami berharap para tahanan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini bukan hanya tentang menjalankan kewajiban agama, tapi juga menjadi momen untuk introspeksi diri dan memperbaiki kehidupan ke depan,” kata Iptu Jasman.

Dikatakannya, pembinaan mental (Bintal) dan spiritual memiliki peran besar dalam menumbuhkan kesadaran, ketenangan batin serta harapan bagi para tahanan untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik setelah menjalani masa pembinaan di Kepolisian.

“Salah satu agenda rutin para tahanan adalah salat dhuhur berjamaah yang dilaksanakan secara konsisten. Ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan di rumah tahanan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritual. Dengan mendekatkan diri kepada sang Pencipta, para tahanan diharapkan mampu menemukan jalan perubahan, memperkuat tekad untuk memperbaiki diri, serta menatap masa depan dengan harapan yang lebih baik,” kata Iptu Jasman lagi.

Menurut Iptu Jasman apa yang dilakukan dan dirutinkan kepada para tahanan, adalah bentuk pembinaan mental untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan serta merenungkan setiap langkah kehidupan yang telah dilalui.

“Dari bina mental ini, kita harapkan kelak mereka mampu mengaplikasikan kebiasaan-kebiasaannya selama di kamar tahanan setelah mereka bebas kelak. Artinya karakter itu bisa dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya sehingga harapan kami, setelah mereka bebas dna menghidup udara segar, mereka bisa berubah dan kemudian menata diri dan hidupnya ke jalan yang lebih baik, ” papar Kasat Tahti Polres Gowa. –