GOWA, UJUNGJARI.COM — Pada Senin (8/6) kemarin sekelompok pemuda yang tergabung dalam beberapa komunitas melakukan aksi demo untuk memboikot pelaksanaan event Beautiful Malino (BM) tahun 2026.

Beberapa aliansi pemuda berunjuk rasa ke Pemkab Gowa dan DPRD Gowa. Para pengunjuk rasa menggelontorkan 10 poin alasan kenapa BM harus diboikot.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun upaya memboikot event destinasi pariwisata Gowa ini ditentang oleh sejumlah komunitas pemuda dan masyarakat Kecamatan Tinggimoncong. Mereka justru meminta event BM tetap dilaksanakan sebab event ini sudah masuk dalam event nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) yang merupakan program kepariwisataan ternama Kementerian Pariwisata RI.

Dan tahun ini seperti dikatakan Arifin M, salah satu aktivis Pemuda Malino bahwa event BM sangat membantu mendongkrak perekonomian masyarakat Kecamatan Tinggimoncong secara khusus dan Kabupaten Gowa secara umum.

“Jangan merugikan masyarakat Malino dan sekitarnya. Jangan hilangkan event BM ini, sebab sejak event ini mulai digelar di Gowa, perekonomian masyarakat Tinggimoncong naik drastis. Yang mungkin harus dievaluasi adalah pelaksananya, jangan programnya,” tandas Arifin atau lebih akrab disapa Iping ini.

Pemuda Pemerhati Lingkungan, Pendidikan dan Pariwisata Kota Malino ini mengatakan, saat ini beredar opini-opini tak jelas yang mendiskreditkan event BM. Padahal menurut Arifin, program kepariwisataan ini sangat positif dan bermanfaat bagi masyarakat Malino, Tinggimoncong dan sekitarnya.

“Sebagai putra daerah Malino, saya merasa prihatin sekaligus geram melihat adanya seruan boikot terhadap Beautiful Malino yang dibangun di atas rangkaian dugaan, asumsi dan opini yang hingga saat ini belum dibuktikan melalui mekanisme hukum yang sah. Saya menghormati hak setiap kelompok untuk menyampaikan kritik tapi saya tidak bisa diam ketika kritik tersebut berpotensi merugikan ribuan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal, khususnya masyarakat Malino Kecamatan Tinggimoncong sebagai pusat destinasi wisata berskala nasional ini, ” terang Arifin.

Arifin pun menegaskan, jika BM ditiadakan maka siapa yang sebenarnya akan dirugikan ? Pejabat kah? Pemerintah kah ? Atau justru pedagang kecil, petani hortikultura, pelaku UMKM, pemilik homestay, pengelola villa, sopir angkutan wisata, pekerja harian, dan masyarakat Malino yang selama ini menikmati perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut.

“Saya mengajak seluruh pihak untuk melihat fakta lapangan. Sejak Beautiful Malino dicanangkan pada masa kepemimpinan Bupati Adnan Purichta Ichsan dan Wakil Bupati Abdul Rauf Malaganni Krg Kio, sektor pariwisata Kabupaten Gowa mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Kunjungan wisata meningkat, investasi sektor wisata tumbuh, UMKM berkembang, dan pendapatan masyarakat Malino ikut bergerak naik. Tidak sedikit keluarga yang merasakan manfaat langsung dari meningkatnya aktivitas ekonomi yang lahir dari kegiatan tersebut, ” ungkap Arifin.

Dia menilai, sangat tidak adil apabila sebuah program yang selama ini memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat hendak dijatuhkan hanya berdasarkan opini yang masih menggunakan istilah diduga dan dugaan.

“Dalam negara hukum, dugaan bukanlah fakta. Dugaan bukanlah putusan. Dugaan harus diuji melalui proses hukum, bukan melalui penghakiman opini di ruang publik. Apalagi aksi boikot tersebut menjadikan dugaan seks bebas dan kenakalan remaja di pelaksanaan BM dijadikan alasan klise. Begitu pun dengan dugaan penyimpangan anggaran BM yang nota bene dijadikan alasan krusial. Menurut saya, apabila ada pihak yang memiliki data dan bukti mengenai dugaan penyimpangan anggaran, silahkan menempuh jalur hukum. Laporkan kepada Inspektorat, BPK, BPKP, Kepolisian, Kejaksaan, maupun KPK. Negara telah menyediakan mekanisme resmi untuk menguji setiap dugaan. Jangan membangun pengadilan jalanan yang justru menciptakan persepsi negatif dan merugikan masyarakat luas, ” tandas Arifin.

Jika ada yang merasa tidak puas dengan event BM ini, Arifin mengajak duduk bersama mengevaluasi.

“Saya Arifin dan lebih akrab disebut Iping. Jika mau duduk bersama bahas BM, ayoo saya siap memfasilitasi dialog publik terbuka antara ketua gerak misi, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, pelaku wisata, akademisi, media dan seluruh elemen masyarakat. Mari kita duduk bersama dan membahas secara objektif: Apakah BM merugikan atau menguntungkan masyarakat? Apakah pendapatan masyarakat meningkat atau menurun sejak BM hadir? Apakah UMKM mendapatkan manfaat nyata atau tidak? Dan apakah pariwisata Malino berkembang atau justru mundur setelah BM? Kita kupas habis, dan biarkan masyarakat menilai berdasarkan pengalaman, data dan fakta, bukan berdasarkan asumsi dan narasi yang dibangun sepihak, ” pungkas Arifin.

Arifin mengatakan, dirinya bukan berdiri membela pemerintah tapi membela masyarakat Malino yang selama ini bekerja keras mencari nafkah dari sektor pariwisata.

“Saya berdiri untuk membela UMKM, petani, pekerja wisata, dan seluruh masyarakat yang ingin melihat Malino terus tumbuh dan berkembang. Mari jaga Malino, jaga ekonomi rakyat, jaga nama baik Kabupaten Gowa, ” ajak Arifin.

Terpisah Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Gowa Muh Kadir kepada ujungjari.com, Selasa (9/6) mengaku jika kurun terakhir ini muncul riak penolakan terhadap perhelatan tahunan destinasi wisata Beautiful Malino.

Salah satu narasi yang dilemparkan beberapa pihak ke publik adalah tudingan bahwa event besar ini tidak memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal Gowa, khususnya warga Malino.

Karena itu, sebagai bagian dari pelaku industri yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi pariwisata di Gowa, PHRI merasa perlu meluruskan miskonsepsi ini dengan menyajikan fakta, bukan sekadar asumsi.

​Kadir menilai, event berskala nasional seperti Beautiful Malino adalah program yang sangat bagus dan jika ada yang keliru memandangnya maka harus diluruskan.

“Mari kita bedah bersama, ke mana larinya perputaran uang selama festival atau event BM ini berlangsung. Dari pelaksanaan event ini maka berdasarkan pencatatan PHRI, okupansi hotel dan homestay melonjak hingga 85 persen, berkah bagi UMKM dan warung rradisional serta kuliner khas Malino, sektor transportasi jasa dan parkir bergerak, dan terjadi investasi jangka panjangnya yakni branding bagi pariwisata Gowa, ” kata Kadir.

​Menurut Ketua PHRI Gowa bahwa mengklaim Beautiful Malino tidak memberikan dampak ekonomi adalah sebuah penyangkalan terhadap realita di lapangan.

“Miliaran rupiah berputar di Malino selama event berlangsung, dan uang itu mengalir ke warung-warung, ke rumah-rumah sewa warga dan ke tangan para pedagang kecil. ​Mari kita jaga aset pariwisata kita. Menolak Beautiful Malino sama saja dengan menutup kran rejeki bagi banyak saudara-saudara kita yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Saatnya bersatu, berbenah, dan memastikan perhelatan ini semakin membawa berkah bagi seluruh masyarakat Kabupaten Gowa, ” tandas Kadir.

Diakui Kadir, pergelaran event BM pastinya memang masih banyak menyisakan ‘PR’ yang perlu diperbaiki dan dibenahi bersama. Seperti antara lain, area event diperluas, ditiadakannya camping agar penginapan/homestay lokal bisa terisi sepenuhnya, penyebaran agenda-agenda event di daerah sekitar Malino mungkin bisa lebih menambah berkembangnya ekonomi lokal.

“Itu semua adalah tantangan teknis yang bisa dicarikan solusinya. Harapan saya mari berkolaborasi, bukan memprovokasi. Jika
​evaluasinya adalah mengenai kemacetan, penataan pedagang atau kebersihan, dan sampai ke opini event sebagai sarang maksiat, mari kita duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk menyempurnakannya. Kita harus bangga, Gowa masuk dalam deretan daerah yang masuk kancah destinasi wisata nasional, ” tandas Kadir.

Kadir menjabarkan, okupansi hotel dan homestay melonjak hingga 85 persen saat BM hadir menjadi sebuah high season yang paling dinanti. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa setiap kali event ini digelar, hampir seluruh kamar hotel, vila, hingga homestay milik warga lokal terpesan jauh-jauh hari.

Pemilik homestay ini mayoritas adalah warga asli Malino. Ketika rumah-rumah mereka disewa oleh wisatawan, ada aliran pendapatan langsung (direct income) yang masuk ke dompet masyarakat. Dampak turunannya? Kebutuhan londrilokal bergerak, kebutuhan logistik penginapan meningkat, dan warga sekitar mendapatkan manfaat ekonomi instan.

Kemudian BM ini menjadi berkah bagi UMKM, warung tradisional dan kuliner khas. Pasalnya wisatawan yang datang berlipat ganda itu juga berbelanja. Mereka sasar warung-warung makan, cafe, pedagang kaki lima, pasar Malino. Yang jelas kata Kadir, pendapatan pelaku UMKM kuliner tradisional mengalami lonjakan omzet berkali-kali lipat dibanding hari biasa (non BM).

Saat eveent BM, para pedagang di Pasar Malino kebagian rejeki dari pengunjung. (foto/sar)

Termasuk pesanan kopi asli Malino hingga kuliner lokal lainnya seperti camilan Tenteng, semuanya laris manis menjadi buruan para tamu yang datang. Pasar tradisional Malino pun kecipratan berkah karena serapan bahan baku sayur dan buah dari petani lokal meningkat tajam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi wisatawan.

​Dampak ekonomi BM pun tidak berhenti di hotel dan restoran saja. Tapi menciprat juga ke para penyedia jasa sewa kuda, tukang parkir, pelaku jasa transportasi lokal, hingga pemandu wisata lokal.

Sektor inilah yang justru paling merasakan perputaran uang tunai secara cepat selama tiga-lima hari pelaksanaan event tahun-tahun kemarin.

“Multiplier effect (efek domino) inilah yang menggerakkan roda ekonomi Gowa dari level bawah hingga ke atas, ” sebut Kadir.

Dan satu ​hal yang sering terlupakan oleh kalangan bahwa event BM adalah instrumen promosi jangka panjang.

“Biaya promosi pariwisata itu mahal, namun melalui event ini, nama Malino terus terjaga dalam pilihan destinasi utama di Sulawesi Selatan bahkan nasional. Wisatawan yang datang saat event berpotensi kembali lagi di hari biasa karena terkesan dengan keindahan alam Gowa. Tanpa adanya stimulus berupa event besar, pariwisata kita akan stagnan, dan jika itu terjadi, masyarakat lokal yang paling pertama dirugikan, ” imbuh Ketua PHRI Gowa. –