JAKARTA,UJUNGJARI.COM – Jurnalis film dokumenter Dandhy Dwi Laksono dan tim produksi film dokumenter “Pesta Babi” meraih penghargaan bergengsi Udin Award 2026. Pengumuman penghargaan itu digelar dalam acara Hari Ulang Tahun ke-32 Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Udin Award merupakan salah satu penghargaan yang diberikan AJI kepada individu atau kelompok yang memiliki kontribusi dalam perjuangan kemerdekaan pers, kebebasan sipil, penguatan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dewan juri Udin Award 2026  terdiri dari Arif Maulana Wakil Ketua Yayasan Lembaga bantuan hukum Indonesia (YLBHI ), AlmaS Sjafrina Indonesian Corruption watch (ICW) dan Masduki Pengurus AJI dan PR2Media. 

Salah satu juri, Masduki menyatakan penghargaan Udin Award didedikasikan untuk individu jurnalis, kolektif jurnalis dan institusi media jurnalisme yang teguh merawat dan mewujudkan nilai nilai jurnalisme advokasi dan anti korupsi.

Nama Udin diambil dari nama jurnalis harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang tewas dibunuh pada 16 Agustus 1996 saat mengangkat isu korupsi di Bantul. Udin menjadi simbol perjuangan anti korupsi dan juga simbol resiliensi jurnalis atas berbagai perlawanan balik penjahat kemanusiaan. 

“Ada tiga nilai moral dan cara kerja jurnalistik yang diwariskan Udin. Dan penghargaan ini menegaskan, mengapresiasi para jurnalis dan media jurnalisme penerusnya selaku human right defender di tengah himpitan krisis ekonomi media dan represi digital,” kata Masduki.

Nilai moral pertama, kata Masduki, yaitu jurnalisme yang mengadvokasi hak publik, yang melawan korupsi terutama yang melibatkan penyelenggara negara.

Kedua, konsistensi pada berita investigasi yang bertugas memeriksa kekuasaan dan memandu sikap perlawanan publik.

Ketiga, media lokal sebagai pilihan medan pertarungan dengan ekosistem yang tak selalu sehat dibandingkan media nasional.

“Ketiganya dalam dua dekade terakhir sedang bermasalah di Indonesia. Di tengah situasi ini, tim dokumenter Film Pesta Babi menjadi contoh lilin kecil yang membangun harapan tetap hadirnya jurnalisme baik, yang intens memeriksa kekuasaan, dalam model kerja jurnalisme yang anti mainstream,” kata Masduki. 

Ia menyebut jejak digital merekam kerja-kerja jurnalistik Dandhy Dwi laksono dan tim serial film
dokumenter yang diwarnai kekerasan.

“Mulai dari Sexy Killer, Dirty Vote hingga Pesta Babi, mengalami kekerasan sistemik dari fisik, digital hingga ranah hukum (dijadikan tersangka). Udin Award diharapkan turut memberi amunisi moral dan dukungan agar DDL dan para jurnalis, investigator, aktivis tetap tegar, konsisten di jalan pedang. Udin Award juga simbol dari AJI dan peraih award bahwa kami akan terus melawan represi,” kata Masduki.

“Dewan Juri bersepakat tim Pesta Babi tidak hanya memiliki semangat Udin yang perlu terus hidup di tengah represi kekerasan, tapi juga menggambarkan kolaborasi media lokal, tim investigasi independen. Sehingga kami menilai sangat layak untuk menerima  penghargaan ini,”  kata juri lainnya, Almas Sjafrina.

Sementara itu, Victor Mambor yang mewakili tim produksi film Pesta Babi mengatakan penghargaan ini didedikasikan untuk orang Papua yang terdiskriminasi dan tidak mendapatkan haknya.

“Ini juga bentuk konsistensi bagi kawan-kawan jurnalis, terutama tim Pesta Babi yang mengalami banyak masalah selama pembuatan film documenter,” kata Victor, yang juga pendiri media Jubi.

Fuad Muhammad Syafruddin atau kerap disapa Udin meninggal pada 16 Agustus 1996 di Yogyakarta.
Udin dianiaya karena pemberitaan yang ditulisnya pada 13 Agustus 1996. Ia kemudian meninggal tiga hari kemudian. Sampai saat ini, kasusnya tidak tuntas diusut. Pembunuh Udin belum terungkap. 

Melalui Udin Award, AJI ingin memberikan penghargaan kepada jurnalis maupun kelompok jurnalis profesional, dan memiliki dedikasi kepada dunia jurnalistik, serta menjadi korban kekerasan baik fisik atau psikis karena terkait langsung dengan aktivitas jurnalistiknya.