MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Perjalanan seorang peneliti ke luar negeri tidak selalu berakhir ketika pesawat membawanya kembali ke Indonesia.

Ada ilmu yang dibawa pulang, jejaring akademik yang terus terhubung, cara kerja yang berubah, hingga pengalaman yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu menjadi bagian dari perjalanan akademik Prof Eko Hadi Sujiono ketika menjalani penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda, pada 2002 hingga 2004.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor bidang fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001, Eko mendapat kesempatan melanjutkan penelitian di lingkungan riset internasional yang mempertemukan disiplin fisika, material, elektronika, dan teknologi.

Kesempatan tersebut datang melalui Prof Tjia May On, ko-promotornya saat menempuh pendidikan doktoral di ITB. Tjia kemudian menyampaikan undangan dari Prof Horst Rogalla, peneliti di bidang elektronika superkonduktor.

Eko pun berangkat ke Belanda dan bergabung dalam lingkungan penelitian Mesa+ Research Institute, Department of Applied Physics, Low Temperature Division, University of Twente.

Bagi seorang peneliti muda saat itu, pengalaman tersebut bukan sekadar kesempatan bekerja di laboratorium luar negeri. Lebih dari itu, ia memperoleh pelajaran tentang bagaimana sebuah penelitian dikembangkan dari pertanyaan dasar mengenai material hingga diarahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.

Dari Material hingga Sinyal Elektronik

Salah satu bidang yang ditekuni Eko selama berada di Twente berkaitan dengan teknologi superkonduktor.

Secara sederhana, superkonduktor merupakan material yang dalam kondisi tertentu, terutama pada suhu sangat rendah, dapat menghantarkan listrik dengan hambatan yang sangat kecil.

Sifat tersebut menarik perhatian para peneliti karena berpotensi digunakan dalam berbagai teknologi yang membutuhkan kecepatan dan sensitivitas tinggi.

Salah satu topik yang dipelajari Eko adalah superconducting analog-to-digital converter atau Super ADC. ADC merupakan perangkat yang berfungsi mengubah sinyal analog menjadi data digital.

Teknologi ini sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suara manusia, misalnya, merupakan sinyal analog. Ketika seseorang berbicara melalui telepon, suara tersebut ditangkap perangkat, diubah menjadi data digital, diproses, lalu dikirimkan ke perangkat penerima.

Proses serupa juga digunakan dalam berbagai perangkat elektronik, sensor, kamera, alat kesehatan, hingga sistem komunikasi.

Dari penelitian tersebut, Eko belajar bahwa riset material tidak berhenti pada pertanyaan, material apa yang memiliki sifat terbaik?

Ada pertanyaan lanjutan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana material tersebut dapat bekerja di dalam sebuah perangkat.
Pertanyaan itulah yang membawa sebuah penelitian bergerak dari laboratorium menuju pengembangan teknologi.

Meneliti Lapisan Sangat Tipis

Penelitian Eko juga berkaitan dengan pembuatan dan karakterisasi lapisan tipis superkonduktor. Meski ukurannya sangat kecil, kualitas lapisan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kinerja perangkat.

Dalam prosesnya, peneliti harus memastikan berbagai kondisi berjalan dengan tepat. Suhu perlu dikendalikan, komposisi material diperhatikan, dan waktu setiap proses harus diatur. Hasilnya kemudian diperiksa menggunakan berbagai instrumen. Satu kesalahan kecil dapat memengaruhi hasil akhir.

Bagi Eko, proses tersebut memberikan pelajaran penting mengenai dunia penelitian. Hasil yang baik tidak selalu diperoleh dalam satu kali percobaan.

Peneliti sering kali harus mencoba, mencatat hasil, menemukan kekurangan, memperbaiki proses, lalu melakukan percobaan kembali. Di situlah ketekunan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ilmu pengetahuan.

Menyentuh Teknologi Terahertz

Selain superkonduktor, pengalaman riset di Twente juga memperkenalkan Eko lebih jauh pada teknologi terahertz, yakni wilayah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sangat tinggi.

Teknologi ini memiliki potensi untuk beragam aplikasi, mulai dari pencitraan dan pemeriksaan material hingga pengembangan sistem komunikasi dan sensor.

Namun, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan perangkat yang mampu menghasilkan, menangkap, dan mengolah sinyal dengan tingkat ketelitian tinggi.

Tantangannya bagi peneliti bukan hanya memahami teori, tetapi juga bagaimana membuat material dan perangkat dapat bekerja secara konsisten.

Dari pengalaman di laboratorium internasional itulah Eko belajar bahwa fisika, ilmu material, elektronika, dan rekayasa teknologi dapat dipertemukan dalam satu ekosistem penelitian.

Jejaring yang Terbentuk di Belanda

Ada hal lain yang dibawa Eko dari Belanda, bukan berupa peralatan laboratorium, melainkan jejaring akademik.

Selama berada di University of Twente, ia bertemu dan berinteraksi dengan peneliti dari berbagai negara. Di antaranya Prof Khartikeyan dari India, Prof Ariando dari National University of Singapore, serta Prof Darminto dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Pertemuan itu berlangsung dalam lingkungan akademik dan penelitian. Namun, hubungan yang terbentuk tidak berhenti ketika masing-masing meninggalkan Belanda.

Jejaring akademik yang lahir dari diskusi dan kerja bersama dapat bertahan selama bertahun-tahun apabila dirawat melalui komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi.

Hubungan tersebut bahkan kemudian berkembang menjadi kerja sama penelitian.
Pada 2026, Eko bersama Prof Khartikeyan terlibat dalam penelitian kolaboratif mengenai baterai seng-udara atau zinc-air battery, salah satu bidang yang dikembangkan dalam teknologi penyimpanan energi.

Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap energi bersih dan energi terbarukan, pengembangan teknologi penyimpanan energi menjadi salah satu persoalan penting yang terus dikerjakan para peneliti.

Ilmu yang Dibawa Pulang ke Makassar

Bagi Eko, pengalaman di luar negeri tidak berhenti sebagai catatan perjalanan akademik.

Setelah kembali ke Indonesia, pengalaman tersebut diteruskan melalui kegiatan pendidikan, penulisan buku, pembinaan kelompok riset, serta pengembangan perangkat penelitian, termasuk pengembangan alat deposisi lapisan tipis di Universitas Negeri Makassar (UNM).
Di sinilah makna pengalaman internasional menjadi lebih luas.

Ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan semata-mata berapa lama pernah berada di luar negeri atau berapa banyak konferensi internasional yang pernah diikuti.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang dibawa pulang?

Apakah ilmu tersebut dibagikan kepada mahasiswa? Apakah pengalaman itu membantu membangun laboratorium?

Apakah jejaring internasional dapat membuka jalan bagi kolaborasi? Dan apakah penelitian yang dilakukan mampu menjawab persoalan di sekitar kampus dan masyarakat?

Dari Laboratorium ke Persoalan Masyarakat
Perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.

Ada kebutuhan untuk memastikan hasil penelitian memiliki hubungan dengan persoalan nyata di masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, berbagai persoalan dapat menjadi ruang penelitian. Mulai dari pendidikan di daerah, kualitas lingkungan, kebutuhan energi, pengelolaan air, pengembangan teknologi tepat guna, hingga penguatan usaha masyarakat.

Laboratorium kampus dapat menjadi salah satu tempat untuk mencari jawaban atas persoalan tersebut.

Karena itu, pengalaman riset internasional menjadi semakin bermakna ketika mampu memperluas cara pandang, tetapi tetap diarahkan untuk menjawab kebutuhan di daerah.

Berpikir global, tetapi bekerja untuk persoalan di sekitar.

Apa yang Bisa Dibawa ke UNM?

Pengalaman panjang Eko di dunia penelitian, termasuk masa riset di University of Twente, menjadi bagian dari rekam jejaknya sebagai akademisi.

Dalam dinamika Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030, pengalaman tersebut tentu dapat menjadi salah satu aspek yang diperhatikan warga kampus.

Namun, pengalaman internasional pada akhirnya bukanlah tujuan. Pengalaman tersebut merupakan modal.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana modal itu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa, dosen muda, dan para peneliti.

Bagaimana laboratorium dapat semakin produktif?

Bagaimana mahasiswa dapat terlibat dalam penelitian sejak dini?

Bagaimana dosen muda memperoleh kesempatan membangun kelompok riset?

Bagaimana kerja sama internasional dapat menghasilkan penelitian bersama, bukan sekadar seremoni?

Dan bagaimana hasil penelitian dapat keluar dari jurnal untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi tantangan perguruan tinggi ke depan.

Pulang Membawa Ilmu

Perjalanan dari Belanda ke Makassar pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang akademisi yang pernah melakukan penelitian di luar negeri.

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi setelah seseorang kembali ke rumah.
Ilmu yang diperoleh di laboratorium, pengalaman bekerja bersama peneliti dari berbagai negara, serta jejaring yang dibangun, baru memiliki arti lebih besar ketika diteruskan kepada orang lain, baik mahasiswa, dosen muda, peneliti, guru, maupun masyarakat.

Sebab, perguruan tinggi yang kuat bukan hanya perguruan tinggi yang mampu mengirim akademisinya ke berbagai penjuru dunia.

Melainkan perguruan tinggi yang mampu membawa pulang pengetahuan dunia, mengolahnya sesuai kebutuhan sendiri, lalu mengubahnya menjadi manfaat bagi masyarakat.

Dari Belanda ke Makassar, perjalanan riset Prof Eko Hadi Sujiono memperlihatkan satu hal sederhana: ilmu pengetahuan boleh berjalan jauh, tetapi pada akhirnya ia harus kembali memberi manfaat di tempat kita berpijak.  (**)