JOMBANG, UJUNGJARI. COM — Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mendorong perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dan diaspora Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara mengambil peran lebih besar dalam membangun ekosistem industri halal Indonesia.

Menurut Irfan Yusuf, jejaring akademik PTNU dan diaspora NU memiliki potensi strategis untuk membantu Indonesia tidak hanya menjadi pasar halal terbesar, tetapi juga tampil sebagai produsen produk dan layanan halal yang mampu bersaing di pasar global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal tersebut disampaikan Irfan Yusuf saat menjadi pembicara kunci dalam Halaqah Pendidikan Tinggi NU yang merupakan rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

“Haji dan umrah bukan sekadar pelayanan ibadah ritual, tetapi juga mata rantai ekonomi strategis nasional yang dapat menjadi lokomotif penguatan pendidikan tinggi dan industri halal Indonesia,” kata Irfan Yusuf.

Ia menilai sektor haji dan umrah memiliki rantai ekonomi yang sangat luas. Mulai dari transportasi, akomodasi, katering, kesehatan, perlengkapan jemaah, logistik, teknologi digital, hingga sistem pembayaran, seluruhnya membuka peluang bagi tumbuhnya produk dan jasa halal karya anak bangsa.

“Ekosistem haji dan umrah adalah ruang pasar yang besar. Kita harus mampu menghadirkan produk dan layanan Indonesia yang berkualitas, kompetitif, dan memenuhi standar global,” ujarnya.

Diaspora NU Diminta Buka Akses Pasar Global

Dalam kesempatan tersebut, Irfan Yusuf juga meminta mahasiswa dan pelajar NU yang menempuh pendidikan di luar negeri membawa pulang lebih dari sekadar gelar akademik.

Pengetahuan, pengalaman internasional, serta jejaring global yang diperoleh selama berada di luar negeri, kata dia, harus dikonversi menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia.

“Ilmu yang diperoleh di luar negeri harus kembali menjadi manfaat bagi Indonesia. Adaptasi terhadap budaya global harus memperkuat karakter bangsa, tradisi pesantren, dan komitmen kebangsaan,” tegasnya.

Ia juga mendorong PCINU di berbagai negara untuk memperluas peran. Organisasi diaspora NU tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi dan konsolidasi, tetapi perlu bergerak menuju kerja sama konkret di bidang akademik dan ekonomi.

Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui riset bersama, publikasi internasional, pertukaran pengetahuan, hingga business matching yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra di negara tujuan.

“PCINU dan alumni luar negeri harus menjadi jembatan. Pengetahuan dan jejaring global harus bermuara pada manfaat nyata bagi pesantren, UMKM, perguruan tinggi, dan industri Indonesia,” kata Irfan Yusuf.

PTNU Didorong Perkuat Riset dan Hilirisasi

Sementara itu, PTNU didorong mengambil peran sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan industri.

Setidaknya ada tiga agenda utama yang perlu diperkuat, yakni joint research dan joint publication, pengembangan inkubasi startup serta hilirisasi hasil riset, dan memperkuat link and match antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri.

Langkah tersebut dinilai penting agar hasil penelitian di lingkungan PTNU tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi.

Penguatan industri halal pun dinilai tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, pelaku UMKM, industri, serta diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia.

Dengan jejaring NU yang luas, Irfan Yusuf melihat peluang untuk membangun rantai pasok halal yang tidak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.

Jika jejaring akademik, diaspora, pesantren dan dunia usaha dapat bergerak dalam satu ekosistem, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengubah potensi pasar halal menjadi kekuatan produksi dan ekspor. (**)