GOWA, UJUNGJARI.COM — Partai Golkar Gowa yang pada Pemilu 2014 mampu meraih sembilan kursi dan duduk memimpin lembaga legislatif Gowa tersebut. Hampir beberapa dekade, partai berlambang beringin ini menahkodai parlemen dengan perolehan kursi terbanyak.
Namun sekarang, pada Pemilu 2019 takdir menentukan lain. Partai Golkar yang kini dipimpin Hoist Bachtiar tersebut sudah tidak memiliki pengaruh kuat di masyarakat sehingga perolehan suara partainya pun runtuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan dipastikan, pada Pemilu 2019 ini legislatior yang bakal duduk di DPRD Gowa tidak sampai masuk empat besar.
Kendati begitu, Partai Golkar tetap realistis untuk raihan yang dicapai pasca Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gowa sudah merekapitulasi perhitungan suara Pemilu Legislatif 2019 yang dijadwalkan akan melakukan Pleno Terbuka pada 3 Mei 2019.
Seperti diakui Ketua Partai Golkar Gowa Hoist Bachtiar, partainya yang sempat meradang akibat kadernya terpecah-pecah itu, disadarinya tak bisa lagi mempertahankan raihan sembilan kursi DPRD Gowa pada Pemilu 2014 lalu.
Hoist mengatakan semula pada Pemilu 2019 ini, pihaknya memasang target sembilan kursi di DPRD Gowa. Target ini awalnya dinilai realistis sesuai perolehan Golkar pada Pemilu 2014 lalu.
“Tapi hasil Pemilu kali ini tidak sesuai target awal. Golkar terancam kehilangan empat kursi dan kemungkinan hanya bisa sampai lima kursi,” kata Hoist saat dihubungi Kamis (2/5/2019) siang.
Hoist mengaku Partai besutan Airlangga Hartarto ini menerjunkan enam caleg petahana untuk mengulang kembali kemenangan Pemilu lima tahun lalu. Sejumlah strategi juga telah dipersiapkan. Namun kekokohan Golkar kini tak lagi kuat.
Hoist mengakui Partai Golkar kalah bersaing dengan parpol lain. Bahkan empat caleg petahana bahkan terancam ikut tumbang.
“Berat. Ada beberapa yang gugur. Walaupun kami punya enam incumbent bertarung kembali, tapi baru dua yang kemungkinan lolos.
Ada beberapa yang tidak sesuai ekspektasi. Beberapa di dapil dua tidak memungkinkan. Di dapil 3 kita bersengketa, saling tarik menarik. Dapil 4 dan 6 juga berat,” papar Hoist.
Ia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana konstalasi pertarungan yang dihadapi Golkar di sejumlah Dapil. Ia hanya menyebut ada sejumlah faktor yang membuat Golkar kalah bersaing.
Hoist mengungkapkan beberapa faktor penyebab Golkar kalah antara lain yakni karena kemampuan caleg (Golkar) sendiri yang lemah memperoleh suara walaupun perencanaan dan ekspretasinya besar. Namun kelihatannya strategi di lapangan yang menentukan. (saribulan)

