MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Pelaksanaan rapid test yang dilakukan di Pasar Niaga Daya (PND) kelurahan Daya, kecamatan Biringkanaya, Makassar, Jumat pagi tadi, tak berjalan maksimal.

Pasalnya, tidak sedikit pedagang memilih kabur daripada ikut rapid test yang dilakukan pemerintah. Seperti misalnya penjual ikan di PND. Ketika tim rapid test datang, mereka ramai-ramai menutup jualannya dan memilih “kabur”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu dilakukan karena khawatir akan dikarantina selama dua minggu, jika hasilnya positif. Mereka (Pedagang, red) takut jika hal itu terjadi, tak lagi beraktifitas menjual di pasar.

“Larika saya, tidak mauja di tes. Bahaya nanti di karantinaki bela,” kata salah seorang penjual ikan yang berkemas menutup jualannya.

“Biarami saya tidak menjual satu hari, daripada dua minggu di karantina. Saya pasrah mami, punna pale matika karena korona, passangmi (Biarmi). Allah maha kuasa yang tahu,” ucapnya diamini beberapa penjual ikan lainnya.

Uki (28) penjual ayam potong di PND, juga mengaku memilih pulang dan menutup jualannya, daripada ikut rapid test. “Baji kangngangi motere (Lebih baik pulang) daripada ikut tes. Mallakka nakke (Saya takut). Cecece siapa mau di karantika,” kata Uki bersama temannya Bayu.

Kekhawatiran para pedagang pasar untuk mengikuti rapid test, karena mereka tidak paham maksud dan tujuannya. Padahal rapid tes massal ini disamping untuk meminimalisir meluasnya virus mematikan itu, juga sebagai upaya untuk pemetaan penyebaran virus Covid-19.

“Yang ada di pikirannya (Pedagang, red), itu setelah di rapid tes mereka di karantina. Mestinya pemerintah harus banyak banyak sosialisasi dulu ke pedagang, supaya mereka paham dan tidak takut dengan rapid test,” kata Akbar juragan beras di pasar Daga yang mengaku sudah mengikuti rapid test. (drw)