GOWA, UJUNGJARI.COM — Pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) masih mengakar di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Meski kasus positif covid-19 mulai lamban penyebarannya, namun belum total hilang di muka bumi.

Seperti halnya di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel. Kasus positif di Gowa tetap ada namun sudah mulai melandai, hal itu terlihat pada distribusi kejadian covid dan angka reproduktif efektif (Rt) yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan per 26 Agustus 2020 yakni 0,79 atau dibawah 1 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diketahui selain Gowa, Kota Makassar bersama Kabupaten Takalar, Jeneponto, Luwu Timur, Sinjai dan Sidrap masuk sebagai zona merah penularan covid-19 di Sulsel. 

Ketua Pakar Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulawesi Selatan yang juga Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Prof Dr Ridwan Amiruddin mengatakan meskipun Kabupaten Gowa masih pada zona merah tapi jika dilakukan perbandingan angka Rt pada 24 Kabupaten/kota di Sulsel, Gowa sudah berada dibawah garis merah atau kategori penularan terkendali.

” Indikator untuk menentukan zona merah itu ada tiga yaitu indikator epidemiologi yang dilihat dari Rt, indikator surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Jadi masing-masing indikator itu ada itemnya dan diberi bobot. Semakin berisiko semakin rendah bobotnya. Termasuk Rt dihitung semua,” kata Prof Ridwan, saat dikonfirmasi, Kamis (27/8/2020).

Prof Ridwan  tak menampik penanganan dan kepedulian Pemerintah Kabupaten Gowa terhadap penularan covid ini sangat baik mulai dari Perda Wajib Masker yang sudah disahkan dan Gerakan Sejuta Masker yang seluruh komponen masyarakat termasuk jajaran Forkopimda, pemerintah kelurahan dan desa.

” Kepedulian Pak Adnan (Bupati Gowa) ini sangat baik sekali terhadap penanganan covid, namun karena mobilitas penduduk kita, disiplin masyarakat kita, ditambah daerah luas dan penyanggah Makassar maka masih masuk pada zona merah,” jelasnya.

Selain itu, dirinya mengaku Gowa dan Makassar susah dipisahkan karena masyarakat didalamnya tidak menutup kemungkinan orang yang sama.

” Tapi karena program-program dan inovasi yang dilakukan saat ini oleh Makassar dan Gowa maka progres penularan cenderung menurun. Jadi antara Gowa dan Makassar dari awal tinggi kasusnya, orang Gowa kerja di Makassar dan orang di Makassar tinggal di Gowa, jadi lalulintas penduduk antara Gowa dan Makassar orangnya sama jadi rawan. Tapi saat ini meskipun kasus masih tinggi tapi progres penularannya cenderung menurun,” kata Prof Ridwan.

Berbeda halnya dengan beberapa daerah lain yang masih zona merah seperti Luwu Timur, Takalar, Jeneponto, Sinjai dan Sidrap. Kasus tersebut kata Prof Ridwan diketahui terjadi karena penularan tingkat komunitas yaitu meskipun tidak ada perpindahan penduduk seperti Gowa dan Makassar, tapi orang di wilayah itu bisa saling menulari karena virus telah masuk pada tingkat masyarakat.

” Jadi pemicunya sudah pada tingkat komunitas yaitu interaksi ketat antara satu orang OTG dengan orang lainnya di tempat terbuka tanpa memakai masker pasti terjadi penularan. Misalnya kalau ada 10 orang, 3 dari orang itu bisa terkonfimasi tapi karena tidak ada pemeriksaan lab swab maka itu tidak ketahuan dan itu yang menjadi penyebab,” jelas Prof Ridwan.

Sementara Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan terus berusaha agar penularan covid-19 di Kabupaten Gowa bisa menurun. Selain Gerakan Sejuta Masker, Perda Wajib Masker dan penerapan protokol kesehatan, dirinya juga menfokuskan APBD Perubahan tahun 2020 ini berfokus pada penanganan covid seperti di sektor kesehatan, jaring pengaman sosial dan pemulihan ekonomi.-