MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — 12 kabupaten/kota di Sulsel yang berpilkada 9 Desember 2020 ini diprediksi berjalan seru. Bukan hanya karena di sejumlah kabupaten berpilkada para paslon berhadapan paslon tangguh namun ada juga paslon melawan Koko (kotak kosong).

Dari 12 daerah yang ikut Pilkada Serentak kali ini, dua kabupaten hanya melawan Koko yakni Kabupaten Gowa dan Soppeng.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terbukti hingga pendaftaran paslon dibuka sejak Jumat (4/9/2020) kemarin, pada dua kabupaten ini tetap stagnan dengan satu paslon.  

Pilkada Gowa hanya diikuti pasangan incumbent Adnan Purichta Ichsan – Abd Rauf Malaganni Kr Kio (Adnan-Kio). Sementara Pilkada Soppeng diikuti Andi Kaswadi Razak – Lutfi Halide.

Kepastian kedua pasangan tersebut melawan kotak kosong setelah mereka memborong partai pengusung di daerahnya. Seperti paslon AdnanKio memborong 9 parpol dari 10 parpol pemilik kursi.

Pengamat politik Unismuh Makassar Andi Luhur Priyanto mengatakan, kotak kosong di Pilkada Soppeng dan Gowa terjadi karena kelompok penantang tidak mampu mengkonsolidasi kekuatan melawan kelompok petahana.

Bahkan, katanya, penantang lebih memilih bergabung ke petahana. Menurutnya, hal itu adalah dampak dari kegagalan kaderisasi partai politik

” Umumnya partai politik tidak memiliki persediaan kader yang siap bertarung di Pilkada. Itulah realitas politiknya,” kata Luhur saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2020).

Luhur mengatakan, dengan pilihan yang terbatas, angka pemilih golput ideologis berpotensi meningkat. Meskipun begitu, kata Luhur, level kesadaran pemilih untuk hadir di TPS,  masih lebih besar. 

” Apalagi kalau mobilisasi dari penyelenggara atau pemerintah berjalan optimal,” hematnya.

Luhur menegaskan, situasi Pilkada Gowa dan Soppeng kurang menggembirakan. Luhur mengingatkan, tujuan dari Pilkada langsung dinilai untuk membuka akses seluas-luasnya bagi warga negara untuk berkompetisi memperebutkan formasi jabatan-jabatan publik.

” Kita tentu tidak menghendaki pemusatan  kekuasaan di satu kelompok saja,” tegasnya.

Kendati begitu, petahana tidak boleh lengah. Menurut Luhur, dua petahana ini masih harus waspada karena pertarungan masih tetap terjadi di bilik suara. Bahkan setelah perhitungan suara.

” Kekuatan infrastuktur politik calon tunggal tidak boleh terlena dengan situasi ini. Tetap harus antisipatif, termasuk pada faktor non-politik elektoral,” ujar Luhur.

Luhur menginginkan, pengalaman pada Pilwali Kota Makassar tahun 2018 lalu. Ketika itu pasangan calon tunggal Appi-Cicu kalah melawan kotak kosong.

Oleh karena itu, lanjutnya, kalau kekuatan pendukung kotak kosong bisa terkonsolidasi, maka tidak mudah bagi calon tunggal untuk memenangkan kontestasi.

” Apalagi jika mereka mampu membangun strategi viktimisasi (psikologi korban) pada para pemilih,” tambah Luhur.

Ia melanjutkan, tantangan calon pasangan tunggal bersifat internal dan eksternal. Secara internal, kata Luhur, psikologi pemenang yang seolah berada di atas angin bisa berbahaya, jika kekuatan pendukung kotak kosong semakin terkonsolidasi.

Sementara, secara eksternal, pembagian dan distribusi tugas-tugas elektoral di koalisi partai besar, kalau tidak dikelola baik akan menimbulkan dominasi dan marginalisasi. Karena itu harus ada pembagian kerja proporsional di antara para pendukung. (sar)