GOWA, UJUNGJARI.COM — Gerakan literasi adalah tugas bersama baik pemerintah maupun masyarakat. Bukan hanya menjadi tugas dari satuan pendidikan, perpustakaan daerah, perpustakaan desa kelurahan dan taman baca masyarakat.

Karena itu, perlu masyarakat mengetahui bersama apa yang menjadi hal penting agar gerakan literasi ini dapat menyentuh minat masyarakat secara menyeluruh. Hal ini mengemuka ketika berlangsung bincang-bincang literasi yang mengusung tema ‘Membangun Literasi Lewat Taman Bacaan Masyarakat’ yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusarsip) Kabupaten Gowa dalam rangkaian Festival Literasi 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bincang-bincang literasi ini berlangsung di gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Gowa pada Selasa (27/5) siang.

Bincang literasi ini menghadirkan tiga keynote speaker dari latar berbeda. Pembicara pertama adalah Mustamin Raga yang juga adalah Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusarsip) Kabupaten Gowa.

Dalam segmen itu, Mustamin menguraikan tentang kondisi tingkat Literasi Nasional Indonesia dan Kabupaten Gowa sampai saat ini. Dikatakannya, diantara 199 negara yang disurvey, Indonesia menempati urutan ke-130 dan masih sangat rendah.

Pada Kabupaten Gowa sendiri, tingkat literasi yang diukur melalui Indeks Pengembangan Literasi Masyarakat (IPLM) juga masih rendah yakni berada di angka 66 persen. Namun, tingkat kegemaran membaca atau TGM Kabupaten Gowa tahun 2024 sudah sangat tinggi yakni di angka 91,75 persen atau berada pada urutan kedua tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan setelah Kabupaten Maros.

Capaian ini menurut Mustamin merupakan hal yang baik, setidaknya tingkat kegemaran membaca itu sudah terlihat secara nyata.

Sementara dari segi sejarah literasi dunia dan lokal seperti dikemukakan pembicara kedua yakni Ridwan sebagai penggiat literasi dan pendiri taman baca masyarakat mengungkap jika Kabupaten Gowa mempunyai seorang literat sejati yang dikenal sejak zaman kerajaan Gowa, yakni Karaeng Pattingalloang yang karya-karyanya bahkan dikenal di Eropa.

Oleh karena itu kata Ridwan yang juga adalah dosen muda UIN Alauddin Makassar ini, masyarakat Kabupaten Gowa tidak mempunyai alasan yang kuat untuk tidak giat mempertajam dan meningkatkan literasi mereka sebab telah diletakkan dasar-dasarnya sejak lama.

Sementara pembicara ketiga mengulas tentang minat, cinta dan aktivitas masyarakat dalam meningkatkan literasinya. Menurut Muhammad Ilmi Zulfikar yang merupakan pendiri dan penggiat Perintis Taman Baca Gowa Book Party bahwa masyarakat sebenarnya butuh ruang. Sehingga sebagai penggiat, harus memberikan wadah untuk menumbuhkan minat, aktivitas dan kecintaan itu untuk memenuhi kebutuhan literasinya.

“Jadi ada ajakan yang signifikan kepada masyarakat untuk memicu minat mereka dengan tentu ada ruang atau wadah pelengkapnya seperti taman baca, ” kata Ilmi.

Mahasiswa UIN Jurusan Sastra Inggris semester 6 ini mengatakan, aktifitas taman baca ini antara lain melakukan kajian-kajian buku, melakukan sosialisasi minat dan cinta pada membaca buku.

Bincang-bincang literasi yang diikuti para penggiat literasi di Gowa, pengelola perpustakaan desa dan kelurahan serta komunitas-komunitas literasi lainnya diwarnai dengan penyerahan hibah buku dari dua orang penulis yakni Syamsu Salewangang, seorang penggiat lembaga swadaya masyarakat dan budayawan.

Syamsu menyerahkan dua judul buku hasil tulisannya sendiri. Selain Syamsu, juga hal sama dilakukan oleh Muh Iqbal menghibahkan dua judul buku ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa yang diterima oleh Sekretaris Dinas Perpusarsip Gowa Mustamin Raga.

Mustamin mengatakan Hibah buku tersebut langsung diregistrasikan sebagai tambahan referensi buku-buku yang ada di Perpustakaan Daerah Gowa.

Sementara itu, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa Suhriati menjelaskan, bincang-bincang literasi ini merupakan satu kegiatan rangkaian dari tiga agenda kegiatan yang dilaksanakan dalam Festival Literasi 2025.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca dan budaya literasi di segala kalangan baik dalam lingkungan keluarga pada khususnya maupun masyarakat pada umumnya.

Bincang literasi ini pun diakhiri pembacaan puisi oleh Mustamin karya sendiri berjudul ‘Di Antara Buku-buku yang Bernafas’. –