BANTAENG, UJUNGJARI-Mahasiswi KKN Profesi Fakultas Kedokteran Unhas, Adinda Fakihah Lahfani melakukan sosialisasi serta penyuluhan “MERAH” Melawan Risiko Anemia kepada murid kelas IV-VI SDN 21 Tangnga-Tangnga dan SDN 74 Bira-Bira, Kelurahan Bonto Sunggu, Kecamatan Bisappu, Kabupaten Bantaeng, Rabu 23 hingga Kamis 24 Juli 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adinda memberikan pemaparan lengkap terkait pengertian anemia, penyebab, gejala, dampaknya terhadap prestasi belajar dan masa depan, serta pencegahannya. Juga mendorong pembiasaan pencegahan anemia sejak dini sebagai upaya promotif dan preventif terhadap anemia.
Selain itu, memberikan edukasi lanjutan mengenai pentingnya remaja perempuan yang telah mengalami haid untuk mengonsumsi TTD secara rutin, serta membagikan TTD sebagai souvenir edukatif yang disertai informasi pemakaian.

Adinda mengatakan, sebelum sosialisasi dimulai, dilakukan kesepakatan waktu pelaksanaan bersama serta penjelasan mengenai tujuan dan rangkaian kegiatan kepada peserta.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test dalam bentuk kertas untuk mengukur tingkat pengetahuan awal para siswa.

Peserta diperkenalkan pada konsep dasar anemia, penyebabnya, dampaknya terhadap tubuh serta pentingnya pencegahannya melalui pemaparan materi yang disajikan secara interaktif dan menyenangkan.
Penjelasan mengenai jenis makanan sumber zat besi dan pola makan sehat serta pencegahan anemia lainnya utamanya pemberian tablet tambah darah (TTD) yang akan disampaikan menggunakan media visual.
Peserta diberikan post-test dalam bentuk kertas untuk mengukur pengetahuan pasca edukasi. Pemberian hadiah bagi 3 peserta terbaik. Pembagian TTD bagi siswi yang telah menstruasi.
Menurut Adinda, penyuluhan serta sosialisasi ini sangat penting, mengingat Anemia merupakan kondisi di mana kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal, yaitu kurang dari 12,0 g/dL (Kementrian Kesehatan RI, 2016).
Kondisi ini, kata dia, menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia, terutama di negara-negara berkembang. WHO bahkan menetapkan anemia sebagai salah satu dari sepuluh masalah kesehatan utama secara global. Di Indonesia sendiri, anemia masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data Puskesmas Kecamatan Bisappu periode Januari – Juni 2025, tercatat sebanyak 84 kasus anemia, dengan 14 kasus di antaranya berasal dari Kelurahan Bonto Sunggu.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi anemia nasional mencapai 16,2% pada seluruh kelompok usia. Angka ini lebih tinggi pada perempuan (18%) dibandingkan laki-laki (14,4%). Secara khusus, data RISKESDAS tahun 2018 menunjukkan bahwa 1 dari 4 remaja putri Indonesia mengalami anemia.
Hal ini terjadi karena remaja, yang menurut WHO berusia 10–19 tahun, berada dalam fase pertumbuhan pesat yang melibatkan perubahan fisik, biologis, dan psikologis. Perubahan tersebut menuntut peningkatan kebutuhan gizi, termasuk zat besi. Ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh dan asupan nutrisi pada masa ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk anemia (Hamidah dkk, 2022).
Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi beban ganda masalah gizi,
yaitu stunting dan anemia. Bahkan, prevalensi anemia pada wanita usia subur (15–49 tahun) meningkat dari 21,6% di tahun 2018 menjadi 22,3% di tahun 2019 (Nur dkk,, 2019). Kondisi ini mengkhawatirkan karena anemia pada wanita usia subur dapat meningkatkan risiko melahirkan anak stunting (Suprapti dkk., 2025). Penyebab anemia sangat beragam, mulai dari kekurangan zat gizi seperti zat besi, asam folat, vitamin B12, hingga protein, serta faktor lain seperti kehilangan darah.
Akibat menstruasi, status gizi, kebiasaan makan, kondisi sosial ekonomi, hingga tingkat pengetahuan (Kementrian Kesehatan RI, 2016).Sebagai upaya pencegahan, pemerintah telah menjalankan program pemberian
Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri di tingkat SMP dan SMA. Namun, meskipun program ini telah berjalan secara nasional, tingkat kepatuhan konsumsi
TTD masih tergolong rendah (Helmyati et al., 2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat tiga alasan utama tablet zat besi tidak dikonsumsi sesuai anjuran, yaitu rasa dan bau yang tidak enak (31,2%), lupa (22,5%), serta merasa tidak bermanfaat (14,5%). Hal ini menunjukkan bahwa masih diperlukan penguatan edukasi mengenai pentingnya pencegahan anemia sejak dini.
Edukasi anemia tidak seharusnya hanya dimulai saat remaja menerima TTD di SMP, melainkan perlu diperkenalkan lebih awal di jenjang Sekolah Dasar, terutama bagi siswa kelas 4 hingga 6. Banyak anak perempuan di usia ini telah memasuki masa pubertas dan bahkan mengalami menstruasi, yang berarti mereka sudah memasuki tahap remaja awal dengan kebutuhan zat besi yang meningkat. Oleh karena itu, pemberian edukasi sejak dini tentang pentingnya zat besi, pola makan seimbang, serta dampak anemia menjadi langkah preventif yang strategis.
Selain anak perempuan, penting juga untuk memperhatikan siswa laki-laki pada jenjang sekolah dasar. Meski risiko anemia pada laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan, mereka tetap mengalami percepatan pertumbuhan dan peningkatan volume darah serta massa otot saat pubertas, yang juga memerlukan asupan gizi yang cukup (Elayappen dkk., 2014). Anemia pada anak secara umum dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, dan menurunnya performa belajar. Edukasi kepada siswa laki-laki tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi, sumber zat besi, dan gaya hidup sehat juga dibutuhkan agar mereka dapat tumbuh optimal dan berperan aktif dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungannya.
Dengan bekal pengetahuan yang cukup, siswa akan lebih siap dalam menghadapi anemia khususnya menyambut program TTD di jenjang pendidikan berikutnya bagi para remaja perempuan. Mereka juga akan memahami mengapa penting untuk menjaga pola makan bergizi dan mematuhi konsumsi tablet zat besi. (*)

