MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Pemerintah Kota Makassar menunjukkan keseriusannya dalam membangun sebuah stadion bertaraf internasional.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin membeberkan banyak alasan kenapa Makassar harus memiliki stadion.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang nomor satu Makassar itu membeberkan, sejak tahun. 2020, terjadi kekosongan infrastruktur olah raga, khususnya lapangan sepak bola yang relevan digunakan dalam pertandingan resmi skala nasional dan internasional.

“Hal itu membuat PSM harus mencari lapangan di luar Makassar dan Sulsel untuk dijadikan homebase,” ungkap lelaki yang akrab disapa Appi.

“PSM Makassar merupakan juara liga 1 musim 2022-2023, sebagai klub sepak bola tertua di Indonesia dan memiliki basis suporter yang besar di seluruh wilayah Sulsel perlu memiliki homebase,” infonya.

Selain itu, Makassar juga butuh fasilitas olah raga bertaraf internasional, yang mendukung sports dan entertainment district.

“Kita juga harus memiliki ruang publik strategis untuk ekonomi kreatif dan pariwisata. Jadi alasan-alasan seperti itu yang membuat kita merasa perlu memiliki stadion bergengsi,” imbuh Appi.

Stadion bergengsi itu rencananya akan dibangun di atas lahan sekitar 13 hektare. Luas stadion sekitar 6,77 hektare dengan kapasitas 15 ribu penonton dengan fasilitas tribun, lapangan, ruang VIP, parkir, sistem digital, dan VAR.

Appi mengatakan, alasan stadion dibangun di kawasan Untia, Kelurahan Biringkanaya karena dekat dengan pelabuhan perikanan Untia, akses mudah dari pusat kota, dan sesuai zonasi Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW)2024-2044.

Stadion bisa dijangkau dalam waktu 30 hingga 45 menit dari pusat kota via tol Makassar atau jalur alternatif Sudiang, Biringkanaya.

Konektivitas diperkuat melalui rencana pengembangan sistem Bus Rapid Transit (BRT) dan akses laut dari Pelabuhan Untia. Dekat dengan infrastruktur pendukung seperti PLN, PDAM, jaringan internet, dan jalan primer.

Rencananya, sistem stadion akan dilengkapi pencahayaan 2000 lux, VAR, panel surya, serta aplikasi manajemen digital.

Pembangunan stadion ini akan dilaksanakan secara bertahap selama beberapa tahun.

Tahun 2025 akan dilaksanakan tahapan sertifikasi lahan, feasibility studi, ijin-ijin seperti amdal dan amdal lalin, master plan, dan sejumlah perencanaan lainnya.

Tahun 2026 dilakukan penimbunan lahan, dan konstruksi rencananya 2026 hingga 2028. Setelah itu akan dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti listrik, air bersih, dan transportasi.

Untuk membangun stadion berskala internasional ini, kata Appi, diperkirakan menelan dana sebesar Rp453 miliar. Skemanya public private partnership (PPP)/Build Operate Transfer (BOT).

“Pemkot menjamin penyediaan lahan. Pendanaan, pembangunan, dan operasional diserahkan ke pihak swasta,” kata Appi.

Dia menjamin banyak potensi untuk meraup tenaga kerja saat stadion beroperasi.

Diantaranya menyangkut pengelolaan stadion, pengelolaan parkir, pengelolaan ruang/market place stadion, pengelolaan ruang terbuka hijau, hingga pengelolaan ruang publik sekitar stadion.

Appi menegaskan potensi besar dari komersialisasi stadion. Mulai dari penjualan hak penamaan (naming rights) yang diperkirakan mencapai Rp70–80 miliar per lima tahun, hingga ruang iklan digital dan pengelolaan kawasan UMKM dan parkiran.

“Stadion ini bukan sekadar bangunan, tapi mesin ekonomi. Ini akan membuka ribuan lapangan kerja, meningkatkan PAD, mendorong UMKM, dan memperkuat identitas Makassar sebagai rumah PSM,” tegas Munafri.

Sehingga Appi menekankan bahwa stadion ini adalah trigger bagi terbentuknya kawasan ekonomi baru di Makassar bagian utara. Dengan posisi yang dekat dengan kawasan pesisir.

Lanjut dia, pembangunan stadion akan memicu tumbuhnya berbagai infrastruktur penunjang seperti hotel, pusat kuliner, hingga ruang publik.

Appi melanjutkan, Pemkot Makassar akan memberi jaminan kemudahan bagi investor yang nantinya akan membangun Stadion Untia ini.

Kemudahan yang diberikan seperti dukungan regulasi pemberian insentif fiskal dan kemudahan investasi.

Selain itu, Pemkot Makassar juga akan memberikan dukungan ketersediaan anggaran melalui APBD untuk feasibility study (FS) senilai Rp2,5 miliar termasuk untuk pengurusan dokumen amdal dan amdal lalin.

“Pemkot juga menyiapkan anggaran master plan senilai Rp800 juta. Untuk dokumen amdal merupakan adendum dari proyek Macca,” bebernya.

Pemkot juga akan memfasilitasi dokumen KKPR dan jaminan terhadap lokasi pembangunan stadion yang sudah bersertifikat,” tambahnya.

Dia menambahkan kontrak konsesi dirancang selama 30 tahun, dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 13,7 persen berdasarkan skenario optimistis.

IRR adalah sebuah metrik yang digunakan dalam analisis finansial untuk memperkirakan potensi keuntungan dalam sebuah aset investasi. (rhm)