Oleh: Ahmad Razak
Dosen Fakultas Psikologi UNM

SEKAT-SEKAT
politik kini juga mewarnai dunia kampus. Persaingan untuk memperoleh jabatan terus bergulir, seakan-akan kursi lebih berharga daripada pengabdian. Di balik tirai akademik, terselip kisah-kisah muram: kasus narkoba yang melibatkan dosen maupun mahasiswa, skandal pelecehan yang mencederai marwah institusi, pemalsuan uang dan ijazah, hingga korupsi dana riset serta penyalahgunaan anggaran kampus yang meruntuhkan kepercayaan publik.

Lebih parah lagi, budaya saling fitnah, saling menyalahkan, dan membenarkan kebenaran palsu demi kamuflase harga diri ikut menggerogoti sendi-sendi intelektualitas. Semua ini menjadi catatan hitam di lembaga yang seharusnya menjadi benteng moral dan pusat peradaban ilmu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu kita bertanya: masih adakah rasa malu di antara kita? Di mana budaya siri’ yang dahulu menjadi benteng kehormatan? Siri’ bukan hanya tentang menjaga nama baik pribadi, tetapi juga tentang keberanian menolak perilaku yang menodai nilai luhur.

Rasulullah bersabda: “Al-hayā’ syu‘batun min al-īmān” — rasa malu adalah bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, hilangnya rasa malu berarti terkikisnya iman dan tergerusnya martabat.

Momentum kelahiran Rasulullah seharusnya menjadi pengingat bahwa misi utama beliau adalah menegakkan akhlak. Beliau bersabda: “Innamā bu‘itstu liutammima makārimal akhlāq” — Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad).

Jika perguruan tinggi kehilangan akhlak, maka ia kehilangan ruhnya; yang tersisa hanyalah bangunan megah tanpa jiwa, gelar tanpa nilai, dan ritual akademik tanpa makna.

Institusi ini semestinya tumbuh dengan gagasan, riset, dan dedikasi. Namun, apakah kita masih sungguh-sungguh memikirkan pengembangannya? Ataukah justru sibuk memperkuat barisan kepentingan kelompok masing-masing? Allah SWT mengingatkan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).

Di manakah letak rasa kita sebagai manusia dan rasio kita sebagai kaum terpelajar? Rasa yang seharusnya peka terhadap penderitaan kolektif, dan rasio yang semestinya menuntun pada kebenaran. Ironisnya, keduanya sering dikalahkan oleh ambisi dan egoisme. Padahal Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135).

Saatnya kita jujur bercermin. Kita adalah intelektual, bukan sekadar pengumpul gelar. Tugas kita bukan hanya mengajar dan meneliti, tetapi juga menjaga moralitas, membangun budaya akademik yang sehat, serta menegakkan marwah institusi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

Apakah pantas seorang intelektual mengabaikan akhlak? Apakah pantas seorang akademisi menutup mata dari kebobrokan hanya demi aman di lingkaran kekuasaan? Budaya siri’ mengajarkan kita untuk malu berkhianat pada amanah, malu memperjualbelikan integritas, dan malu meninggalkan warisan buruk bagi generasi setelah kita. Maka, merayakan Maulid Nabi semestinya bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali akhlak mulia beliau dalam dunia akademik.

Marwah institusi tidak bisa ditegakkan dengan seremoni belaka. Ia berdiri kokoh hanya dengan integritas, kejujuran, dan keberanian moral. Jika budaya malu hidup dalam jiwa, kita akan berani menolak pelecehan, melawan korupsi, dan mengikis sekat-sekat politik demi kepentingan bersama. Inilah saatnya kita meneguhkan kembali visi Rasulullah ﷺ, menjadikan akhlak sebagai pondasi ilmu, dan siri’ sebagai benteng marwah intelektual.