GOWA, UJUNGJARI.COM — Sebuah buku berjudul ‘Suara dari Pelukan Kabut’ (SDPK) dibedah dua professor dari sudut pandang masing-masing keilmuannya. Satunya adalah pakar budaya dan satunya lagi pakar filsafat dan ushuluddin.

Kedua professor ini membedah buku yang ditulis Mustamin Raga seorang penulis asal Kabupaten Gowa. Buku berisi rangkuman esai setebal 268 tentang kehidupan, kritik sosial dan politik yang diterbitkan oleh Gapura Biru itu dinilai Prof Dr Andi Muh Akhmar (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas) dan Prof Dr Muhaemin Latif (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alaiuddin sebagai sebuah buku yang syarat kritikan kepada lembaga birokrat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keduanya juga menilai penulisnya sangat berani sebab mengkritisi institusi sendiri dimana Mustamin Raga adalah seorang ASN.

“Penulisnya saya kenal karena sahabat tapi saya menilai dia sungguh berani mengkritisi institusinya sendiri. Tapi dari sisi lain, saya menganggap apa yang dituliskan penulis ini merupakan perwakilan dari semua aspek kehidupan, ” kata Prof Dr Andi Muh Akhmar saat membedah buku tersebut di Perpustakaan Daerah Kabupaten Gowa pada Kamis (25/9).

Prof Akhmar mengatakan, buku ‘Suara dari Pelukan Kabut’ ini adalah satu kemampuan untuk bisa membuat pembaca mampu memaknai apa itu ‘Suara’.

“Ada beberapa catatan telah saya kirimkan ke Mustamin. Menurut saya ada kontemplasi disitu. Saya lihat tulisannya juga pendek-pendek karena saya melihat penulis tidak mau membuat orang larut dalam waktu untuk membacanya. Bagi saya, buku ini lirih dan puitis. Kalimatnya informatif dan ada nuansa estetik. Jangan pernah mengaku anak sastra kalau tidak mampu membuat yang estetik dan romantis. Saya juga menilai, taktis namun lunak. Walau ada pesan religius namun Mustamin tidak menggurui. Malah menuntun pembaca berpikir kontemplatif. Kerap menyelipkan kutipan bijak dan banyak menggunakan bahasa yang sedang saja. Ada kecenderungan pemaparan metafora serta mengungkap fakta dan ironi, ” ungkap Prof Akhmar.

Bedah buku yang dipandu Kamaruddin Azis seorang jurnalis senior dan menghadirkan juga seorang senator DPD RI Waris Halid dihadiri sejumlah lapisan masyarakat selaku audience. Waris Halid adalah juga sahabat penulis Mustamin yang hadir memberikan support kepada pelaksanaan bedah buku tersebut, bahkan Waris ikut memberikan hibah buku tersebut kepada para audience.

Sementara menurut Prof Muhaemin, apa yang ditulis oleh Mustamin ini berbeda dengan buku-buku pada umumnya.

“Menurut saya buku ini sangat totalitas sebab dari sampulnya saja sudah berkabut dan isinya pun hampir semua berkabut. Maksud saya apa yang disampaikan dalam satu judul saja hampir semuanya ‘berkabut’. Cuma satu halaman yang tidak berkabut yakni sebingkai kalimat “untuk istriku tercinta yang selalu setia menunggu di setiap perjalananku”. Secara umum, buku ini sangat luar biasa. Tidak banyak penulis yang menulis di awal itu mempersembahkan kepada istrinya. Mustamin termasuk ikatan suami yang sangat mencintai istrinya. Saya salut, ” salut Prof Muhaemin.

Diakuinya, mahakarya dari Mustamin ini mengkafer berbagai macam issu. Salah satu kehebatannya adalah disela-sela kesibukan sebagai Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gowa ini, Mustamin mampu menulis sesuai apa yang dilihat dan dirasakannya.

“Di mata saya, Mustamin seorang birokrat yang masih sempat menulis dengan menampilkan issu yang luar biasa. Buku ini mampu menghadirkan spirit bagi penulis lainnya. Saya kutip beberapa judul dalam buku ini, menurut saya tidak banyak orang memandang sebagai itu masalah tapi bagi Mustamin, itu sebenarnya adalah masalah. Seperti pada judul pintu dan sampah, ” papar Prof Muhaemin.

Sementara Waris Halid mengatakan dirinya belum membaca isi buku itu sepenuhnya. Namun dari judulnya saja, bagi politisi ini, dirinya sudah sangat tertarik. Menurut Waris, awal minat orang membaca itu dari judulnya.

“Dari hasil saya mendengarkan ungkapan-ungkapan dua professor kita ini, saya menangkap satu daya tarik dalam buku ini yakni kritikan sosial. Apalagi yang kritik itu lahir dari seorang birokrat. Ini cukup berani bagi saya, ” ungkap Waris.

Terkait buku ini, Mustamin Raga sendiri mengatakan, dirinya menulis buku ini bukan tanpa pertimbangan serta ketetapan hati.
Maksudnya, menulis buku SDPK yang sarat kritikan baik kehidupan, sosial maupun politik sudah dipertimbangkannya matang.

Namun menurut Mustamin apa yang dituliskan dalam judul demi judul adalah sebuah makna yang memang ketika seorang membacanya harus mendalami, memahami agar tahu maksud dan arah dari kritikan tersebut.

“Membaca buku ini, mengarahkan kita untuk tenang. Dari ketenangan itu lahir paham dan kemudian mampu memaknai apa yang diharapkan dari kalimat demi kalimat yang ada. Bagi saya kejujuran bukan sekadar berkata benar melainkan kesediaan melihat segala hal hingga ke akar dan berani menyuarakan apa yang kadang tak ingin didengar, ” jelas Mustamin.

Menurutnya, buku SDPK yang diterbitkan pada Juni 2025 ini berisi kumpulan esai yang lahir dari kegelisahan terhadap zaman yang semakin gaduh nan hampa makna. Isinya beragam, mulai dari kritik sosial-politik hingga kontemplasi filosofis atas hidup keseharian.

Beberapa esai menyorot langsung praktik kekuasaan dan birokrasi yang masih jauh dari harapan dan cita-cita.

Mustamin pun mencontohkan dalam esai “Ironi Sila Keempat Melawan Demokrasi Suara Terbanyak” diurai bagaimana demokrasi negeri ini kehilangan arah, ketika kebijakan hanya berpijak pada suara mayoritas tanpa kebijaksanaan musyawarah. Begitu pula dalam esai “Komisaris, Jabatan Hadiah” yang menguliti realitas pahit di balik BUMN dan BUMD yang tak lagi dijalankan atas nama kepentingan publik melainkan kepentingan politik sempit.

“Semua esai dalam buku ini adalah bentuk cinta-cinta yang kadang berbicara dengan nada keras, kadang lirih, kadang sinis tetapi selalu dengan satu tujuan yakni menyentil kesadaran kita yang kadang tertidur di balik rutinitas dan kebiasaan yang dianggap biasa. Semoga buku ini menjadi ruang perenungan dan percakapan. Tidak semua tulisan harus disetujui, tidak semua sudut pandang harus diterima bulat-bulat. Tetapi jika setelah membacanya kita jadi berpikir lebih dalam, merasakan lebih peka dan bertindak lebih bijak, maka esai-esai ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik, selamat membaca, ” papar Mustamin Raga. –