MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin dianggap sebagai figur kunci yang mampu mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.
Background Munafri sebagai pengusaha dan pemimpin pemerintahan jadi modal kuat memimpin mesin politik beringin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan ini disampaikan Ketua DPD II Partai Golkar Takalar Zulkarnain Arief dalam Refleksi 61 Tahun Partai Golkar “Sulsel, Masihkah Lumbung Golkar”, Kamis (30/10/2025).
Zulkarnain optimistis, pemenang Pemilu 2029 akan direbut kembali oleh Golkar.
Katanya, Munafri telah membuktikan diri saat berhasil menembus kursi legislatif di DPRD Sulsel.
Saat posisinya sudah di titik aman, ia memilih bertarung di kontestasi Pemilihan Wali Kota yang belum pasti hasilnya.
Apalagi, Munafri sudah pernah gagal dua kali dalam pesta demokrasi tersebut.
Ia menilai, Appi-sapaan Munafri punya jiwa dan karakter petarung. Sosok seperti itulah yang dibutuhkan Golkar Sulsel.
“Dia berkompetisi yang tidak pasti menjadi calon wali kota, alhamdulillah, menang. Berarti ini kan petarung, dan kita tidak ragukan lagi,” paparnya.
Dukungan Munafri dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel kedepan semakin kuat.
Hingga kini, 17 DPD II telah menyatakan dukungan ke Appi.
“Kalau nanti pemilihannya aklamasi, aturannya kan cuma 50 plus satu suara. Dengan 67 persen dukungan suara, sudah bisa mengantarkan Appi menjadi Ketua DPD I Partai Golkar,” beber Zul.
Sinergi ini akan menjadi mesin kuat untuk mengembalikan citra Golkar sebagai lumbung suara terbesar di Sulsel.
Disisi lain kata Zulkarnain, masyarakat juga semakin sadar bahwa beringin tempat yang tepat untuk bernaung.
Gambaran tersebut semakin menumbuhkan optimismenya bahwa Golkar tetap juara di hati masyarakat.
“Kita juga sepakat seluruh partai nsyaAllah akan kembali ke metode yang lama, sistem yang lama. Kan Golkar sudah kuasai sistem yang lama. Jadi, itu pertama keyakinan saya,” ujarnya.
Zulkarnain mengulas, perbedaan di internal Golkar jadi penyebab merosotnya perolehan suara pada Pileg 2024 lalu.
Tidak ada kebersamaan atau soliditas dari caleg DPR RI, provinsi, maupun kabupaten kota.
“Oleh itu kami minta nanti semua caleg dan semua anggota DPR RI jangan jalan sendiri dan keluar dari barisan, harus punya tandem,” tegasnya.
Diketahui, diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara.
Selain Zulkarnain juga hadir pengurus DPD I Golkar Sulsel Armin Mustamin Toputiri, Madjid Sallatu dan Rahmat Muhammad dari kalangan akademisi atau pengamat, serta Arif Situju.
Pengamat politik, Rahmat Muhammad menilai, kata yang tepat disematkan untuk Partai Golkar, yakni Golkar dilambung di lumbung.
Pada pemilu lalu, perolehan kursi Golkar Sulsel disalip oleh NasDem.
Golkar hanya mengamankan 14 kursi sementara NasDem 17 kursi.
Rahmat menilai, Golkar beberapa tahun belakangan menciptakan kepemimpinan eksklusif.
“Saya kecewa sekali melihat itu. Yang jadi persoalan, terjadi ketergelinciran dalam integritas Golkar, terjadi degradasi. Kondisi yang ada sekarang ini harus diubah di Golkar. Perubahan yang dibutuhkan yakni kolaborasi,” pesannya.
Kendati begitu, pengurus Golkar lainnya, Armin Mustamin Toputiri tetap yakin, akan ada perubahan besar saat Golkar dipimpin sosok yang tepat. (rhm)

