TANA TORAJA,UJUNGJARI.COM—Dua perguruan tinggi di Sulawesi Selatan berkolaborasi dalam mendorong literasi digital dan ketahanan di Lembang La’bo, Kecamatan Sangalla, Kabipaten Tana Toraja. Kedua perguruan tinggi itu adalah Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja dan Universitas Negeri Makassar.

Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh Melki Garonga’, M.Kom dari Universitas Kristen Indonesia Toraja (UKI Toraja) sebagai Ketua Tim Pelaksana dan Prof Dr Nurhikmah H., S.Pd., M.Si. dari Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai Ketua Tim Pendamping.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kolaborasi itu dilakukan melalui program kosabangsa bertajuk “Tondok Smart untuk Indonesia Emas 2045: Integrasi MOOCs dan IoT dalam Mewujudkan Literasi Digital dan Ketahanan Pangan di Wilayah 3T. Program ini merupakan kolaborasi strategis antara dunia pendidikan, teknologi, dan masyarakat tani setempat. Kegiatan ini juga menggandeng SMP Negeri 1 Sangalla’ngi dan Kelompok Tani Marante Tampang Allo sebagai mitra utama.

Ketua tim pelaksana, Melki Garonga’, M.Kom dari UKI Toraja mengatakan program ini merupakan hasil hibah kompetitif nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdikti Saintek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi khususnya Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) dalam skema Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa).

“Program ini bertujuan menjembatani ilmu pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi ke masyarakat, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang masih menghadapi keterbatasan akses digital dan sumber daya Pendidikan,” katanya.

Melki menambahkan program Tondok Smart mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tana Toraja serta perhatian langsung dari Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Toraja Utara, Sardi Palelleng. Kehadiran dan dukungan aktif pemerintah daerah menjadi penguat dalam memperluas dampak program ke satuan pendidikan lainnya di wilayah Toraja Raya.

Menurut Sardi Palelleng, program ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi berkelanjutan untuk peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah pedesaan.

Kegiatan yang dilaksanakan hingga Desember 2025 ini diawali dengan tahap sosialisasi dan pelatihan bagi guru, siswa, serta anggota kelompok tani.

Di sektor pendidikan, fokus kegiatan diarahkan pada penerapan MOOCs (Massive Open Online Courses) sebagai sarana pembelajaran digital berbasis satelit Starlink, yang memungkinkan sekolah di daerah dengan keterbatasan jaringan tetap terhubung dengan sistem pembelajaran daring. Guru dan siswa SMP Negeri 1 Sangalla’ngi dilatih untuk mengakses, membuat, dan mengelola kelas digital dengan materi berbasis lokal, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif dan relevan.

Sementara itu, di sektor pertanian, tim pelaksana menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung ketahanan pangan lokal. Sistem ini dipasang pada greenhouse tanaman Lombok Katokkon, komoditas khas Toraja yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Teknologi IoT memungkinkan petani memantau suhu, kelembapan, dan kadar air tanah secara real-time melalui aplikasi ThingSpeak dan Blynk App di smartphone. Sistem irigasi tetes otomatis dengan tandon air oranye juga dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air serta menjaga kestabilan pertumbuhan tanaman.

Dampak dari implementasi program ini sangat nyata. Di bidang pendidikan, literasi digital guru meningkat hingga 72 persen, dan siswa menunjukkan peningkatan partisipasi belajar mandiri sebesar 65 persen.

Para guru kini mampu mengelola pembelajaran digital dan memanfaatkan teknologi berbasis MOOCs secara berkelanjutan.

Sementara di bidang pertanian, efisiensi penggunaan air meningkat hingga 40 persen, dan produktivitas tanaman Lombok Katokkon naik sekitar 30 persen dibanding metode konvensional.

Petani setempat juga mulai memahami pentingnya pertanian berbasis data, menjadikan teknologi IoT sebagai alat bantu utama dalam pengambilan keputusan.

Kegiatan ini juga melahirkan “Tondok Smart Community”, sebuah komunitas kolaboratif antara sekolah, petani, dan perguruan tinggi yang berfokus pada pengembangan inovasi digital dan pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.

Komunitas ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi pengembangan smart village di wilayah Toraja, sekaligus memperkuat ekosistem pembelajaran dan pertanian digital berkelanjutan.

Tim Pelaksana dana Tim pendamping menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdikti Saintek yang telah memfasilitasi dan mendukung terlaksananya kegiatan ini.

Apresiasi serupa juga disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Toraja, Dinas Pendidikan, SMP Negeri 1 Sangalla’ngi, dan Kelompok Tani Marante Tampang Allo atas kolaborasi yang kuat dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Sangalla’ngi dan Kepala Lembang Marante Tampang Allo mengungkapkan rasa syukur atas manfaat langsung yang dirasakan masyarakat. Sekolah kini memiliki sistem pembelajaran daring yang berkelanjutan, sedangkan kelompok tani memiliki sistem pertanian modern yang efisien dan ramah lingkungan.

Dengan dukungan penuh dari Kemendikbudristek melalui DPPM Ditjen Diktiristek, Dinas Pendidikan Tana Toraja, Dinas Pendidikan Toraja Utara, serta pendampingan perguruan tinggi, program Tondok Smart menjadi wujud nyata kolaborasi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Sinergi ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi model nasional dalam pengembangan literasi digital dan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045 — dari Toraja, untuk Indonesia.