MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Keputusan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) DPP Partai Golkar tahun 2025 yang mendorong pelaksanaan Pilkada serentak mendatang terus menjadi perhatian publik dan kader internal partai.

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, nama Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dinilai sebagai figur yang mampu menjawab target politik Partai Golkar, khususnya di Sulawesi Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Profetik Institute, Muh Asratillah, menilai IAS memiliki kemampuan komunikasi dan kematangan politik yang mampu menyelaraskan kepentingan DPP Golkar dengan dinamika politik di daerah.

Menurutnya, jika IAS memimpin Golkar Sulsel, hal itu tidak serta-merta bertentangan dengan wacana DPP yang mendorong mekanisme Pilkada melalui DPRD.

“Ini menyentuh dua perkara sekaligus, yakni arah strategis DPP Golkar dan figur kepemimpinan di daerah. Jika Ilham Arief Sirajuddin menjadi Ketua Golkar Sulsel, itu tidak otomatis harus dibaca bertentangan dengan kebijakan pusat. IAS dikenal pragmatis dan adaptif membaca arah kebijakan nasional. Dalam tradisi Golkar, loyalitas terhadap garis kebijakan DPP adalah prasyarat utama,” ujar Muh Asratillah, Senin, 22 Desember 2025.

Pria yang akrab disapa Asra ini juga menilai IAS sebagai operator politik yang memahami betul perjalanan dan karakter politik Golkar di Sulsel. Dengan pengalaman panjang di dunia politik, IAS diyakini mampu mempersatukan berbagai kepentingan kader yang selama ini kerap terfragmentasi.

“Dari sisi jejaring dan ketokohan, IAS punya modal politik yang relatif lengkap. Pengalaman eksekutif, jaringan lintas partai, serta rekam jejak memenangkan kontestasi menjadi kekuatan utama. Ini penting bagi Golkar Sulsel yang membutuhkan figur pemersatu sekaligus operator politik yang efektif,” jelasnya.

Menurut Asratillah, menjelang Pemilu Legislatif dan Pilkada mendatang, gaya kepemimpinan IAS akan menjadi faktor penentu bangkitnya kembali kejayaan Golkar di kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Namun, ia mengingatkan bahwa kemenangan politik tidak hanya ditentukan oleh sosok ketua semata.

“Kemenangan Golkar tidak hanya soal siapa ketuanya, tetapi kesesuaian antara figur, struktur, dan narasi politik. IAS unggul dalam aspek figur dan jaringan, namun tantangannya adalah memastikan struktur partai bergerak solid dan merasa dilibatkan. Jika hanya bertumpu pada jejaring elite, potensi kemenangan bisa tereduksi,” ungkapnya.

Lebih jauh, IAS juga dinilai mampu menyelaraskan diri dengan agenda strategis DPP Golkar, termasuk wacana Pilkada melalui DPRD, sekaligus mengonsolidasikan mesin partai hingga ke akar rumput.

“Golkar Sulsel punya basis historis yang kuat. Yang dibutuhkan adalah orkestrator politik yang mampu menghubungkan kepentingan pusat, daerah, dan pemilih. IAS memiliki prasyarat itu. Namun efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara loyalitas vertikal ke DPP dan kepercayaan horizontal dari kader serta konstituen,” tutup Asratillah.  (**)